(FF)The Killers-Chap 3

Title: THE KILLERS
Author: Cla95
Genre: Romance, Dark, Thriller
Rating: PG17
Length: Series
Language: Indonesian
Pairing: Myungsoo/Krystal
Casts: INFINITE,KARA,BEAST
SummaryKrystal jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan seseorang yang sebenarnya terkait dengan pembataian yang terjadi di kota. Akankah dia bertahan dengan bahaya yang mengancamnya?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku melangkahkan kakiku menuju sekolah. Tepat jam 7 aku tiba di sekolah. Sekolah masih sepi karena biasanya sekolah memang masuk jam 08.30.

Aku tidak langsung melangkahkan kakiku ke kelas, aku justru ke pekarangan belakang sekolah. Memanjat pagar pembatas, yang aku pikirkan saat ini adalah memasuki hutan. Aku tidak perlu memikirkan perkataan pria waktu itu, yang aku pikirkan adalah mengapa mimpi buruk tidak berhenti mengganggu tidurku. Aku memijakkan kakiku ke tanah, setelah itu aku menghela nafas cukup panjang karena pagar pembatas itu cukup tinggi. Aku menoleh ke kanan kiri, barangkali pria itu kembali muncul di tempat waktu itu tapi sayangnya nihil tidak ada siapapun disini.

Dengan keberanianku yang sengaja ku paksakan, aku masuk ke jalan setapak menuju hutan. Hutan begitu sepi tidak terdengar apapun sama sekali, kecuali suara serangga serangga kecil. Aku mengepalkan tanganku, ada banyak hal yang aku pikirkan. Salah satunya, apakah aku bisa menemukan pria itu? Dan apa yang akan terjadi padaku. Aku berusaha mengingat jalan yang aku pijak, karena aku tidak ingin kehilangan jalan saat pulang. Setelah 10 menit berjalan aku mendengar jejak kaki dibelakangku, tiba tiba dahiku berkeringat, entah kenapa rasanya begitu menegangkan. Aku mengumpulkan keberanian untuk menoleh kebelakang dan yang dapat aku lihat adalah sosok pria itu lagi.

Pria itu berdiri tepat 5 meter dari tempatku berdiri, melihat mataku tajam. Aku menatapnya dengan pandangan sok berani tapi hal tersebut gagal telak, aku takut menatap pria ini.

“Apa kau lupa perkataanku?”Pria itu melangkahkan kakinya, tubuhnya yang sempurna semakin lama semakin mendekatiku.

“Aku… A..ku..”

“Kau ingin bertanya, mengapa kau mendapatkan mimpi buruk? Kau ingin tahu siapa aku sebenarnya? Manusia benar benar lucu.”ujarnya, aku bingung setengah mati. Bagaimana dia bisa menjelekkan sifat manusia sedangkan dia juga manusia.

“Kau bertanya mengapa aku menjelekkan manusia padahal aku sendiri seorang manusia?” Dia mengatakan apapun yang ada di pikiranku. Wajahku sekarang hanya beberapa centi dari wajahnya, matanya menatap bibirku. Aku berusaha mundur tapi yang dia lakukan adalah menarikku dalam pelukannya dan membiarkan tangannya menyentuh tengkukku. Dia menciumku, ini pertama kalinya seorang pria menciumku. Kakiku gemetar dan jantungku berdetak begitu cepat, aku hanya bisa diam. Dia menekan kepalaku agar memperdalam ciuman, entah setan apa yang membuatku ikut terlarut dari ciuman ini. Setelah selang beberapa waktu yang cukup lama, dia menatapku dengan pandangan kecewa.

“Maafkan aku.. Ini diluar kontrolku.” ujarnya, aku hanya menyentuh bibirku. Aku hanya bisa menunduk dan melihat kakiku yang gemetar.

“Krystal.. Maafkan aku, aku benar benar..” Darimana dia tahu namaku. Baru saja aku ingin bertanya tapi ada suara teriakkan kesakitan di dekat tempatku dan pria ini. Pria itu refleks menarikku dan berlari enuju pagar pembatas sekolah.

“Jam 08.45, kembalilah ke kelas kau telat 15 menit.”ujarnya, sekarang aku dapat mendengar kehangatan dalam suaranya.

“Tapi, kau?”ujarku. Sebenarnya aku ingin terus bersamanya. Bukan karena ciuman tadi, tapi karena semua pertanyaanku yang belum terjawab dan aku pikir aku menyukainya.

“Ada sedikit urusan, kau bisa memanjat sendiri?”ujar Pria itu. Aku mengangguk. Aku mulai memanjat pagar tapi aku lupa menanyakan namanya. Aku menoleh kebawah dan dia masih ada disana.

“Myungsoo, Kim Myungsoo. Aku temui kau lagi nanti setelah pulang sekolah.”Aku mengangguk setuju dan kembali memanjat.

*****

Aku duduk di bangku kelasku, sudah 3 jam berlalu semenjak kejadian tadi pagi dan aku belum melihat Myungsoo lagi. Ada sedikit rasa khawatir, aku bingung kenapa aku begitu mengkhawatirkannya. Kekhawatiranku ini membuatku lupa dengan kehadiran Jiyoung, yang hampir seminggu tidak masuk sekolah.

“Krystal…” Jiyoung menepuk bahuku dan tersenyum, aku membalas senyumannya.

“Kau terlihat bingung, ada yang kau pikirkan?”tanya Jiyoung. Aku melihat ke arah Jiyoung seketika dan sebelum aku bisa menjawabnya, aku kaget dengan perubahan wajah Jiyoung. Wajahnya mengelupas, sedikit demi sedikit tapi karena Jiyoung memang cantik dia tidak perlu khawatir dengan masalah kulitnya yang mengelupas itu.

“Ah kau pasti heran yah? Aku mengunjungi nenek di mokpo, panas sekali disana.”ujar Jiyoung, mencoba menjelaskan. Mungkin wajah kagetku membuatnya mengerti.

“Aku dengar ada kakak kelas baru ya?”tanya Jiyoung. Aku hanya mengangguk, aku tidak ingin terlalu membicarakan Myungsoo dengan orang lain.

“L benar benar tidak mau melepasku..”Jiyoung bergumam, tapi Krystal mendengar hal itu.

“Maksudmu Jiyoung? L?”ujarku akhirnya.

“Ah bukan siapapun.. Aku hanya bicara sembarangan. Aku kembali ke kursiku Krystal.”Ujar Jiyoung, dia kembali ke bangkunya, dan aku menatapnya. Jiyoung semakin lama semakin aneh, pikirku.

 

*****

Bel sekolah berbunyi dan aku bersiap untuk pulang. Saat aku berjalan ke lorong, terjadi keributan lagi. Beberapa anak berbisik-bisik. Aku penasaran sekali apa lagi yang terjadi di sekolah. Di pintu keluar aku berpapasan dengan Seohyun sunbaenim, dia menggunakan topi dan menutup wajahnya, tapi aku tentu Saja mengenalinya. Seohyun sunbaenim memiliki rambut yang indah, jadi aku bisa mengetahui itu Seohyun sunbaenim.

“Sunbaenim! Seohyun sunbaenim…” aku mencoba memanggilnya, tapi langkahnya justru semakin cepat. Tanpa disengaja Seohyun sunbaenim menabrak seorang pria, topinya terjatuh dan aku bisa melihat wajahnya, wajahnya mengelupas seperti Jiyoung. Aku berjalan cepat agar dapat menolongnya berdiri, tapi Seohyun sunbaenim berdiri sendiri dan berlari cepat setelah itu.

“Ada apa dengan dia?”ujarku pelan. Pria yang tadi menabrak Seohyun sunbaenim tersenyum kepadaku, aku menunduk dan melewatinya.

“Krystal, benar?”tanya pria itu. Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arahnya.

“Ya”jawabku seadanya. Dia memberikan tangan kanannya untuk berjabat, aku menerimanya.

“Hoya, panggil aku Hoya. Aku kakak kelasmu, mulai besok aku sekolah disini.”Jelasnya. Aku mengangguk, dia terus tersenyum padaku.

“Krystal!”panggil seseorang, aku menoleh ke sumber suara dan yang memanggilku itu Myungsoo. Aku melepas jabatan tangan itu dan setengah berlari menuju Myungsoo. Myungsoo meraih tanganku, tapi matanya tidak menatapku. Matanya menatap tajam Hoya, orang yang baru aku kenal itu.

Aku hanya menunduk diam, Myungsoo menarik tanganku dan berjalan menuju halte bis.

“Kau tahu rumahku?”ujarku pelan.

“Ya.”Suaranya kembali dingin. Aku diam dan menunggu bus datang, beberapa siswa yang sesekolah denganku menatap dan mencibir. Bus datang tidak lama kemudian, aku masuk tanpa pamit kepada Myungsoo tapi yang aku dapati adalah Myungsoo mengikutiku. Aku duduk di bangku paling belakang dan Myungsoo kembali mengikutiku.

“Mulai sekarang dan nanti, kau akan terus bersamaku.”Ujar Myungsoo sambil menyentuh tanganku.  Aku diam seribu bahasa, wajahku sedikit tertutup rambut hitamku yang legam, aku menoleh sedikit ke arah jendela. Bus berjalan tidak terlalu pelan dan tanpa di sengaja aku menemukan Jiyoung yang duduk di halte bus yang terletak 3blok dari rumah, aku tersenyum padanya tapi dia hanya duduk dan menatap bus dengan tatapan kosong. Aku menoleh ke belakang dan melihatnya dari kaca belakang bus dan aku tidak percaya tentang apa yang aku lihat matanya berkilat. Aku terkesiap dan Myungsoo menggenggam tanganku lebih erat.

“Masih banyak yang harus kau ketahui, mulai sekarang hari harimu akan berbeda.”Myungsoo mengelus tanganku. Aku menoleh ke arahnya, dan dia mengecup bibirku pelan. Ini kedua kalinya dia menciumku.

“Bukan yang kedua kali, lebih dari itu.”Myungsoo bergumam. Aku mendengarnya, dan menatapnya bertanya apa yang ia maksud.

Sebelum ada kesempatan untuk bertanya, bus berhenti dan aku turun. Aku turun dari bus di ikuti dengan Myungsoo. Mereka berjalan berdua menuju rumahku, di belokan pertama ke rumahku, aku melihat kerumunan orang. Kalau tidak salah itu rumah Paman Mah, tetangga yang suka memberikan buah stroberi di akhir bulan Juli kerumahku. Aku menatap Myungsoo, dia diam saja dan tetap mengikuti. Paman Mah keluar dari rumahnya dengan mata merah, tubuhnya dibalut pakaian hitam. Tidak jauh dari sini aku bisa mendengar tangisan dari dalam rumah Paman Mah.

“Paman..”sapaku, Paman menatapku tersenyum lemah. Aku mendekatinya, aku lupa kalau Myungsoo masih dibelakangku.

“Ada apa?”

“Jaejin.. Jaejin mati.. Dia ditemukan terkapar di dekat Sekolahmu.”ujar Paman Mah menahan tangis, aku mengucapkan rasa simpatiku pada Paman. Tiba tiba aku ingat kejadian tadi pagi, Teriakkan dalam hutan saat aku dan Myungsoo…. Aku menoleh dan tidak ada Myungsoo.  Ia menghilang begitu cepat, aku bingung setengah mati. Paman Mah menyuruhku singgah sebentar untuk memberi salam pada Jaejin. Aku setuju, meski pikiranku melayang ke kejadian di hutan tadi pagi.

Aku masuk ke rumah Paman Mah. Jenazah Jaejin telah dibakar menjadi abu. Aku memberi salam kepada abu Jaejin. Setelah selesai aku pamit pulang pada Paman Mah. Kebetulan saat aku keluar ada seorang perempuan yang usianya sekitar 19 tahun sama seperti Jaejin.

“Maaf, apa kau tahu apa yang terjadi pada Jaejin.” Perempuan itu menatap Krystal putus asa. Dia terisak tapi mulai menceritakan yang terjadi.

“Tadi pagi aku dan Jaejin sengaja pergi lewat ke Sekolah itu, dia teman Dongwoon dan ingin tahu apa yang membuat Dongwoon terluka dan koma. Kami melewati sekolah itu dan Jaejin nekat masuk ke hutan setelah menyusup menggunakan seragam sekolah yang mirip denganmu. Aku tidak ikut, 2 jam berlalu aku terus menunggu di depan Sekolah tapi Jaejin tidak juga meneleponku, aku akhirnya lapor ke kantor polisi terdekat dan akhirnya aku dan polisi polisi yang datang bersamaku menemukan Jaejin yang sudah terkoyak koyak seperti dimakan serigala.”Perempuan itu terus terisak. Aku membayangkan kejadian itu terjadi, tiba tiba aku teringat Myungsoo. Apa Myungsoo dibalik semua ini, tapi itu tidak mungkin. Myungsoo bukan manusia jelemaan Serigala dia manusia biasa. Aku memukul kepalaku frustasi, ada apa semua ini, kenapa semua menjadi aneh. Siapa Myungsoo sebenarnya, aku berlari kencang menuju rumah. Rumah ternyata kosong, aku membuka kunci rumah dan duduk di sofa. Aku menatap jam dinding yang jarum panjangnya berputar. Aku termenung dan memikirkan segalanya dengan kepala dingin, tapi betapapun aku mencoba aku mencurigai Myungsoo.

Aku beranjak dari sofa untuk naik ke lantai dua, tetapi terdengar suara ketukan pintu dari luar. Aku berjalan menuju pintu, tetapi langkahku tertahan. Tiba tiba aku ketakutan, Omma atau Appa akan membuka pintu rumah sendiri meski aku ada atau tidak ada di rumah. Siapa diluar, aku melirik jam dinding di ruang tamu. Sekarang sudah jam 7 malam. Tidak terasa sudah malam, aku mulai menjernihkan pikiranku. Mungkin hanya tetangga yang ingin bertemu Omma atau Appa.

Aku membuka pintu dan yang aku temukan adalah sosok Myungsoo. Aku terkesiap sesaat lalu menutup pintuku dengan cepat. Aku belum siap bertemu dengan Myungsoo, tidak untuk sekarang. Baru tadi pagi kita mulai bicara dan aku menggelengkan kepalaku cepat. Aku tidak ingin bertemu dengan dia lagi, rasa takutku tiba tiba menjalar ke seluruh tubuh begitu pintu diketuk Myungsoo dengan sangat keras.

“Krystal-ssi! Buka pintumu.. Krystal-ssi!”

Aku menutup telingaku rapat rapat dengan kedua tanganku. Aku tidak ingin mendengarkan apapun, tapi suara ketukan pintu semakin keras aku takut pintu rumahku akan rusak. Jadi dengan nyaliku yang ciut ini aku membuka pintu dan menundukkan kepalaku. Myungsoo masih menggunakan seragam sekolah sama sepertiku.

“Krystal-ssi…”

“….”Aku diam saja. Aku tidak ingin bicara dengannya sama sekali, aku takut tangan gemetar dan aku menggigit bibirku.

Tangan Myungsoo menyentuh pipiku. Aku menolaknya, tapi saat ke dua kalinya tangan itu menyentuh pipiku, aku luluh begitu saja.

Aku menatap matanya takut takut, beberapa detik setelah itu aku menyadari ada sebuah cakaran di pipi kanannya.

“Pipimu?”tanyaku. Aku menyentuh pipinya, dan menariknya masuk untuk duduk di sofa. Entah kenapa hatiku langsung luluh begitu tahu Myungsoo terluka. Aku sedikit berlari mencari kotak p3k yang terletak di laci di ujung ruang tv.

Myungsoo menatapku dengan tatapan kosong, ketika aku kembali ke ruang tamu dengan kotak p3k. Aku mengeluarkan kapas dan memberikan alkohol pada kapas itu, setelah itu aku mengoleskan kapas itu perlahan ke luka di pipi kanan Myungsoo. Dia mengernyit kesakitan, aku bingung kenapa dia sampai seperti ini. Setelah selesai aku beranjak untuk pergi ke dapur tapi Myungsoo menahanku, aku menatapnya bingung. Semenjak tadi memang Myungsoo dan aku tidak bicara apapun.

Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku, wajah kami kian mendekat tapi aku menolak. Aku menoleh ke arah lain. Dia terlihat mengerti dengan apa yang ada di pikiranku jadi dia menarik kembali wajahnya.

“Myungsoo..”ujarku pelan. Dia menatapku lagi, mata kami bertemu.

“Siapa kau?”tanyaku dengan tegas. Dia terlihat kaget tapi dia berdecak kemudian dan terlihat seperti berpikir.

“Pertama kali kita bertemu.. Kau ingat? Saat Dongwoon sunbaenim ditemukan terluka parah? Mengapa kau ada di Sekolahku? Lalu saat aku memanjat pagar pembatas sekolah untuk pergi ke hutan.. Kenapa kau ada disana? Siapa kau sebenarnya?”Aku bertanya terus menerus. Aku sendiri tidak percaya kalau aku berbicara sebanyak ini pada seseorang.

“Jika kau tahu siapa aku sebenarnya, kau masih ingin melihatku? Maksudku? Apa kau benar benar ingin tahu siapa aku sebenarnya?”Myungsoo balik bertanya. Aku bingung, kenapa dia justru balik bertanya. Memangnya kenapa kalau aku tahu siapa dia sebenarnya? Apa dia benar benar ikut andil di balik kejanggalan yang terjadi belakangan ini.

“Krystal! Apa kau masih ingin melihatku jika kau tahu siapa aku sebenarnya!” Myungsoo terlihat frustasi.

“Myungsoo-ssi.. Myungsoo-ssi”Aku berusaha menenangkannya. Dia terlihat frustasi. Wajahnya yang putih sempurna terlihat memerah. Aku mencoba meraih wajahnya agar dia dapat tenang tapi dia justru menangis.

“Apa kau masih ingin melihatku nanti?”tanyanya pelan. Dia mulai tenang dan dapat mengontrol emosinya. Aku menatap matanya dalam. Aku tahu ini aneh tapi aku sekarang menyadarinya, semenjak pertama kali aku bertemu dengannya saat mengambil mp3 playerku yang tertinggal itu. Aku sadar kalau aku menyukainya pada saat itu juga, dan mimpi mimpi burukku itu terjadi karena memang aku terlalu memikirkan pria ini.

“Aku tetap akan melihatmu, meski kau dalang di balik kematian Jaejin.”Ujarku. Myungsoo menatapku tidak percaya, dia memelukku erat hingga aku tidak bisa bernafas.

“Krystal…” gumamnya pelan, aku tersenyum sambil mengelus pundaknya. Ada apa denganku? Kenapa aku tidak ingin lepas dari orang asing ini.

*****

Keesokan harinya aku duduk diam di bangku kelas. Sekolah masih sepi, belum ada seorangpun. Entah apa yang mengisi pikiranku tadi malam, tapi semalam tadi aku tidak bermimpi buruk sama sekali. Sekolah baru akan dimulai 45 menit lagi, dan aku rasa berjalan jalan sedikit ke lantai dua bukan sebuah masalah. Aku berjalan sambil melihat kelas kelas yang masih kosong. Kelas Myungsoo yang terletak di dekat tangga justru benar benar kosong, tidak ada seorangpun yang sudah duduk atau memulai piket pagi mereka di kelas itu. Aku kembali berjalan, tiba tiba otakku berpikir tentang Myungsoo. Dimana dia sekarang? Apakah dia sudah makan? Semalam dia menemaniku sampai ke dua orangtuaku pulang.

Suara deras air membuyarkan lamunanku, aku berjalan mendekat ke toilet yang terletak dipaling ujung lorong. Aku berjalan sebiasa mungkin, ketika aku sampai di pintu masuk toilet. Seseorang keluar dengan terburu buru dan memakai topi hitam yang menutupi wajahnya disertai jaket hitam yang sedikit kebesaran. Aku  menoleh kea rah orang itu, aku seperti mengenalinya. Aku menatap punggung orang itu, dan membuyarkan lamunanku begitu sadar kalau suara deras air belum juga berhenti.

Aku berjalan ke dalam toilet dan memutar keran agar air berhenti mengalir. Aku berkaca sebentar, wajahku tetap sama putih pucat tidak cantik, tapi sekarang hidupku sedikit lebih berwarna aku memiliki Myungsoo. Kim Myungsoo yang tidak bisa dimiliki orang lain selain aku, dari pantulan sosokku di cermin aku bisa melihat sesuatu berwarna merah yang bersumber dari bilik ke tiga di toilet ini. Tubuhku tiba tiba membeku, seperti darahku berhenti mengalir. Aku berusaha seberani mungkin untuk berjalan ke bilik itu dan saat aku mencoba membuka pintu bilik itu dengan perlahan, pintu itu ternyata tidak terkunci. Aku berteriak sejadi jadinya, mungkin itu pertama kalinya aku berteriak. Seseorang duduk di closet dengan darah yang membanjiri seluruh tubuhnya, wajahnya dipenuhin darah dan pipi kirinya sobek. Aku kembali berteriak, kepalaku pusing karena begitu banyaknya darah.

 

TO BE CONTINUED

Advertisements