(FF)WHITE LIES-ONESHOT

Title: WHITE LIES
Author: Cla95
Genre: Romance,Sad
Rating: PG15
Length: Oneshot
Language: Indonesian
Pairing: Key/Nicole/Miho
Casts: SHINee,KARA,
Summary: Hubungan Key dan Nicole baik baik saja, sampai satu kecelakaan yang menimpa Nicole dan membuat Key mau tidak mau harus meninggalkan Nicole bersama orang lain.

Key dan Nicole telah berhubungan lebih dari tiga tahun. Key tidak pernah bisa hidup sedetik pun tampa Nicole. Terlalu terikatkah? Yah Key selalu bilang bahwa ia mencintai Nicole lebih besar dan bertambah banyak setiap harinya. Dan Nicole benci itu. Nicole selalu benci hal itu, ia benci saat Key mengatakan ‘My love is bigger than yours.’

Walaupun perkataan itu adalah sesuatu yang menyenangkan, walaupun Nicole faktanya menikmatinya. Tapi ia tidak menyukai itu. Key selalu mengira bahwa Nicole tidak mencintai Key sebanyak Key mencintai Nicole. Nicole mencintai Key. Sangat. Dan bahkan lebih besar dari Key.

Nicole dan Key membangun hubungan ini, melalui banyak tahap. Persahabatan. Tahap pertama yang mereka lalui, sebelum menjadi sepasang kekasih. Nicole dan Key juga bersahabat dengan Minho. Teman SMA mereka, Minho juga menyukai Nicole. Tapi Minho mengalah karena ia tahu bahwa hanya Key dimata Nicole. “Aku tidak akan memaksa sesuatu yang bukan milikku.” kata Minho saat Key bertanya pada Minho tentang perasaan Minho. Dan semenjak dua tahun lalu Minho pergi ke Jepang untuk melanjutkan study-nya. Entah niat tulus untuk belajar atau menghindari Nicole. Key dan Nicole tidak mengerti itu sama sekali.

Nicole kuliah di konkuk sedangkan Key di Kyunghee. Otomatis kampus mereka berbeda. Nicole selalu menolak jika Key ingin mengantarnya. Nicole lebih nyaman mengendarai mobilnya sendiri ke kampus daripada di antar. Tapi kali ini Key terlalu khawatir padahal ini bukan pertama kalinya, ia membiarkan Nicole mengendarai mobilnya sendiri.

“Biar aku antar kali ini saja Cori, please!” Key memohon pada Nicole di halaman depan rumah Nicole. Nicole menggeleng cepat, ia mengecup bibir Key cepat dan masuk ke dalam mobilnya. Membuka jendela mobil-nya dan tersenyum ke arah Key.

“Jangan berlebihan kibum..” ujarnya, Key yang terlalu khawatir memasukkan kepalanya di jendela yang terbuka masih memohon.

“Jangan buat aku kesal, awas kepalamu!” pekik Nicole. Key mau tidak mau mengeluarkan kepalanya dari jendela, tetapi ia mengecup bibir tipis Nicole terlebih dahulu.

“Ingat hati hati, feeling ku tidak enak.” Nicole mengangguk. Meninggalkan sosok Key dan pergi dengan mobilnya.

—-

Key memainkan kunci mobilnya. Ia masih bingung antara kuliah atau tidaknya hari ini. Ia benar benar malas. Ponsel Key berbunyi di dalam kantongnya. Sebuah telepon dari nomor tak dikenal.

“Yeobseyo.”

Hanya beberapa detik dari ia mengangkat ponselnya, Key menjatuhkan ponselnya ke rerumputan di pekarangan rumahnya. Ia membuka pintu mobil dan menutupnya dengan kasar. Ia terlihat depresi karena sesuatu ia menangis, mengendarai mobilnya begitu cepat. Benar saja feelingnya hari ini. Semua feelingnya benar ia tidak seharusnya membiarkan Nicole mengendarai mobilnya sendiri. Terjadi kecelakaan beruntun dan Nicole kritis di rumah sakit.

—-

Key berlari ke lorong rumah sakit, mencari kamar dengan nomor 097, kamar Nicole dirawat. Ia terengah saat akhirnya sampai di kamar bernomor 097, seorang dokter keluar dari kamar itu.

“Kim ki bum?”

“Ne.. Dia belum sadar. Jangan terlalu khhawatir untuk sekarang kepalanya tidak terluka dan fisiknya utuh.” Dokter itu meninggalkan Key. Key menghela nafas, ia masih bingung antara senang atau sedih akan berita itu.

Ia melihat sosok Nicole terbaring, dengan alat bantu pernapasan. Gadisnya diam saja tidak tersenyum. Key menarik sebuah kursi mendekati Nicole, mendudukinya dan menggenggam tangan Nicole. Banyak perban. Parah! Ia gagal menjaga Nicole. Ia tidak dapat diandalkan.

Setiap harinya Key menjenguk Nicole. Nicole sudah sadar dan keluarga Nicole menyerahkan segalanya pada Key, karena sebagian besar keluarga Nicole berdomisili di Amerika dan tidak dapat menjenguk Nicole di Korea.

“Kibummiee, aigoo ish perban ini menggangguku.” Nicole sudah mulai bercanda seperti biasa, tersenyum seperti biasanya.

“Ini semua salahmu sendiri.”

“Ara.. Tapi kenapa tangan kiri ku terasa lebih berat?” Nicole mencoba menggerakkan tangan kirinya tapi gagal. Key menghampiri Nicole dan menyuruhnya untuk berbaring.

“Masih dalam pemulihan.” ujar Key, membetulkan bantal bantal agar Nicole bisa tidur nyaman. Kepala Nicole tidak menyentuh bantal bantal itu sama sekali.

“Hey! Nanti leher kamu sakit.”

“Cium..” Key menurut, ia mengecup bibir Nicole dan melepasnya.

“Kok cuma sebentar?”

Key menghela nafas, mengecup bibir Nicole berkali kali dan mendorong kepala Nicole dengan dorongan bibirnya perlahan.

“Sekarang tidur.”

—-

Tidak lama kemudian Key pergi ke ruangan Dokter Nicole untuk berkonsultasi. Ia bertanya banyak dan memberitahukan keluhan Nicole. Key terlalu rajin dan khawatir sehingga ia datang sendiri ke Dokter yang merawat Nicole daripada menunggu Dokter itu datang memeriksa Nicole.

“Aku rasa kedua tangannya kehilangan fungsi. Saraf sarafnya terluka karena benturan benturan.”

“Maksudmu?”

“Tangannya kemungkinan tidak bisa berfungsi dengan baik lagi, Tangan kirinya lebih parah terkena benturan dari pada yang kanan. Dan ada pecahan kaca yang menempel cukup lama sebelum di operasi sehingga tangan Kirinya full tidak dapat berfungsi lagi.”

Key menelan ludah. Ia menunduk, terlalu bingung bagaimana cara ia harus memberitahukan hal ini pada Nicole.

“Tangan kanannya?”

“Sebentar lagi juga tidak akan berfungsi dengan baik.”

Key kembali menelan ludah, ia menggigit bibirnya. Tidak ada pertanyaan lagi di otaknya, yang ada di otaknya adalah bagaimana cara memberitahu Nicole.

Key keluar dari ruangan Dokter itu, berjalan menuju kamar rawat Nicole. Ia baru saja mau membuka pintu, saat mata kucing Key menatap seseorang yang ia kenal sedang bercanda dengan Nicole. Itu Minho. Minho datang dari Jepang khusus untuk menJenguk Nicole. Cemburukah Key? Ia tidak tahu. Ia tidak berpikir tentang itu.

Key mengurungkan keinginannya untuk mengatakan berita buruk tentang kedua tangan Nicole. Dan berjalan menuju taman rumah sakit. Ia melihat bangku yang hanya diisi oleh seorang gadis.

“Boleh aku duduk disini?” tanya Key. Gadis itu mengangguk. Key duduk dalam diam. Menatap kosong pemandangan di hadapannya. Tampa sadar air matanya jatuh. Ia masih menyesal mengapa ia membuat Nicole menjadi tidak sempurna. Mengapa ia tidak menjaga Nicole padahal ia selalu bilang bahwa cintanya lebih besar untuk Nicole. Tetapi kenapa Nicole bisa sakit seperti ini.

“Ini pakai.” gadis disamping Key menyerahkan sapu tangan pada Key. Key tersenyum menarik sapu tangan itu.

“Gamsahamnida…”

“Goo hara.”

“Oh Gamsahamnida Goo hara ssi.”

” Sama sama, ada masalah kah?”

Key menggeleng ia hanya tersenyum pada Gadis bernaama Hara ini.

—-

Sudah hampir satu minggu, Nicole menetap dirumah sakit dan Key belum memberitahukan masalah disfungsi tangan pada Nicole. Minho setiap hari menjenguk Nicole. ‘Berbagi tugas’ jelas Minho pada Key. Key tidak ambil pusing semenjak ini karena ia memang ingin menghindar dari Nicole. Karena ia yakin Nicole akan tahu kalau Key sedang berbohong.

“Key?” panggil Minho disuatu malam saat keduanya sedang menjaga Nicole.

“Hmm?”

“Kau tahu kenapa aku datang ke Korea?”

“Menjenguk Nicole pasti, apa lagi?” Key tidak tertarik, ia melanjutkan menonton televisi yang ada diruangan itu.

“Bukan.”

“Lalu?”

“Aku ingin mengambilnya darimu.”

Key menatap Minho, menarik kerah kaos Minho dan menuntunnya keluar dari kamar rawat Nicole. Key membanting Minho ke tembok di lorong paling ujung.

“Apa?”

“Aku akan mengambilnya darimu.”
“Kau gila?”

“Saat perpisahan dua tahun lalu, aku mengatakan sesuatukan Key?”

“Kau tidak akan memaksakan sesuatu yang bukan milikmu.”

“Aku akan mengambil  Nicole sebagai kewajiban.”

“Maksudmu?”

“Aku belajar banyak di Jepang, dan aku semakin mantap ketika kau mengirimkanku email tentang kecalakaan ini. Aku bertekat mengambilnya darimu.”

“Maksudmu apa bodo!”

“Key kau tidak bisa menjaganya, kau tidak bisa.” Minho menekan setiap kata yang ia lontarkan. Key melepaskan pegangannya dari kerah Minho.

“You Can’t!”

“I can, i’m not the old Minho, Key.” Minho menyapu kaos nya dengan tangan kirinya. Meninggalkan sosok Key yang duduk di lorong dan menunduk pasrah.

Key mendengar suara jejak kaki, ia menghela nafas. Ini memang salahnya. Kembali ia menangis.

“Pakai ini?” Goo Hara memberikan sapu tangan pada Key, gadis yang beberapa hari lalu duduk ditaman bersamanya. Key menerima sapu tangan itu.

“Aku harus memanggilmu gadis sapu tangan?” canda Key. Hara terkekeh kecil lalu kembali menatap Key.

“Jadi karena itu kau menangis, kemarin?”

“Eoh?….. Ani aku tidak peduli dengan Minho.”

“Lalu?”

“Aku tidak menjaga kekasihku dengan baik Hara-ssi.”

“pasti ada kesempatan kedua, kau bisa menjaganya dan mencintainya dengan berbagai cara.”

“Maksudmu?”

“Maksudku? Tidak aku tidak bermaksud apa apa Key-ssi…”

—-

Minho dan Key terlihat kikuk setelah kejadian itu. Dan sampai sekarang Key belum memberitahu masalah kelumpuhan tangan Nicole. Key masih menutupinya sampai suatu hari Key menemukan Nicole yang menangis terisak di kamar rawatnya.

“Kenapa kamu tidak memberi tahuku?” pekik Nicole pada Key.

Key diam. Ia tahu tentang apa ini. Ia sadar pasti Dokter yang memeriksa Nicole akan memberitahu Nicole cepat atau lambat. Untuk kebaikan Nicole juga.

“Aku takut kau sedih sayang.” Nicole tersenyum miris.

“Terimakasih, kibum”

“Kau marah?”

“Ani..”

“Kalau begitu jangan menangis.”

Nicole mengangguk pelan, tapi hasilnya ia kembali terisak sedih. Key menghampirinya memeluk gadisnya itu. Memeluk Nicole dari belakang, menjatuhkan pundaknya di bahu kecil Nicole.

“Jangan meninggalkanku, karena aku cacat.”

“I won’t.” Key mengatakan ini dari dasar hatinya yang terdalam, ia tidak akan meninggalkan Nicole karena ia cacat. Dia bukan orang seperti itu.

—–

Setelah Nicole tertidur. Key keluar dari ruangan itu dan menemukan seseorang di dekat pintu. Choi Minho.

“Jadi dia cacat?”

“MINHO! Berhenti menganggu hubunganku dengan Nicole!” Key hampir berteriak.

“Terlambat..”

“Maksudmu?”

“Aku bisa menyembuhkan Nicole.”

“Kau serius?”

“Yah dengan satu syarat.”

“Tinggalkan dia kim ki bum?” Minho menaikkan satu alisnya. Key meninggalkan Minho. Tidak menjawab apapun ia tidak mau. Ia tidak akan melepaskan Nicole. Bukan masalah besar jika ia harus mengurus Nicole dengan tangan yang seperti itu.

Semula keadaan berjalan lancar tapi Key lama kelamaan menyadari sesuatu. Nicole sering menangis sendiri dan Key sakit akan itu. Ia tidak menyukai Airmata Nicole. Ia membenci Nicole menangis.

Key terus melihat kejadian itu, sampai akhirnya ia putus asa. Key mencari Minho.

“Key?”

“Bawa dia pergi, buat dia seperti semula.”

“Kau serius?”

“Yah hanya beri aku…” Key berbicara pada Minho di sambungan telepon.

“Baik hanya satu minggu, Key dan jangan temui Nicole lagi.”

—-

“Minho bilang di Jepang pengobatan tradisionalnya ampuh.”

“Jinjja?”

Nicole mengangguk, meyakinkan Key.

“kalau begitu, kau harus ke Jepang, Cole.”

“Pengobatannya dua tahun.”

“Lalu?”

“Aku akan pergi, jika kau ikut.”

Key menggeleng. “Kau gila? Pergilah bersama Minho. Aku punya urusan di Korea.”

Nicole menatap Key tak percaya. Ia tidak mengira Key bisa mengatakan hal seperti itu padanya. Terlalu dingin.

—-

Nicole merasa ada kejanggalan pada Key. Key terlihat tidak rajin menemui Nicole. Hari ini hari terakhir Nicole dirumah sakit dan Key bilang ia ingin ke kamar kecil. Jadi Minho yang membantunya merapikan barang.

“Ya! Jauh jauh dari jepang,aku hanya jadi babumu, Cole.”

“Ya! Minho jangan mengeluh.. Hey dimana kunciku?”

“Hah? Maksudmu kibum?.

“Iya kunci ku cuma satu. Kim Kibum.”

“Aku tidak tahu.”

“Lebih baik kita ke mobil duluan.” ujar Minho. Nicole menurut ia duduk di kursi roda, memangku tas di pahanya. Dan Minho mendorong kursi roda itu.

Nicole memasang mata mencari sosok Key. Tidak ada. Saat ia meelewati taman rumah sakit, ia menemukan Key sedang duduk bersama wanita. Ada sesuatu yang berdesir di hatinya. Gadis disebelah Key sangat sempurna dan cantik. Apa dia berubah karena wanita itu? Batin Nicole.

—-

Hari hari berikutnya Key tetap terlihat berbeda bagi Nicole. Sikapnya tidak acuh pada Nicole. Ia bahkan kadang tidak menjawab pertanyaan Nicole.

Nicole khawatir dengan Key dan ingin bertanya. Tapi ia terlalu takut tentang kemungkinan terburuk.

“Key kita harus bicara,”

“Iya, kita harus bicara.”

“Key?” Nicole terlalu bingung tentang apa yang harus ia katakan.

“biar aku duluan.”

Hening. Tidak ada yang berbicara, lalu Key melanjutkan percakapan ini.

“I met another woman, Cole.”
Nicole ingin menekan dadanya, tapi gagal kedua tangannya kaku. Hanya tangan kananya yang mampu bergerak kecil tapi terlalu lemah untuk itu sekarang.

“Aku mencintai orang lain.”

“Siapa?”

“Goo Hara. Anak pemilik rumah sakit.”

“gadis yang bersamamu di taman kemarin?”

“De,”

“Kalian cocok.”

“Mianhae..”

“gweunchana.” Nicole berjalan menuju kamarnya. Ia menutup pintu kamarnya dan mulai terisak didalam kamar. Terlalu sakit. Padahal Key selalu bilang bahwa cintanya pada Nicole sangat besar, melebihi cinta Nicole pada Key. Tapi itu hanya kebohongan. Nicole menggerakkan tangan kanannya pelan, karena tangannya betul betul kaku. Ia menekan speed dial untuk Minho dengan tangan kanannya yang lemah.

“Yeoboseyo?”

“Minho secepatnya, bawa aku ke Jepang.”

Nicole menjatuhkan ponselnya. Ia menangis keras. Mungkin ini salah satu cara lain bagaimana menunjukkan pada Key bahwa cinta Nicole sama besarnya dengan cinta Key bahkan lebih besar. Karena Nicole sadar Key tidak pantas dengan ia seseorang yang cacat.

*******

Key sedang berbincang di taman Rumah sakit untuk kesekian kalinya. Nicole tidak tahu sama sekali kalau Key tetap ke rumah sakit ini meski iya telah keluar dari dua hari yang lalu. Lagipula mereka sekarang saling bersikap kaku terhadap satu sama lain.

Kebetulan hari itu Minho mengajak Nicole untuk mengambil data data kesehatan Nicole selama ia dirawat kemarin. Nicole seperti biasa menggunakan kursi roda, walaupun kakinya bisa berjalan dengan baik. Ia tidak ingin terlihat bodoh bisa berjalan tapi tangannya kaku.

Saat Minho melihat sosok Key, ia sengaja memperlambat dorongan pada kursi roda Nicole. Tampa Nicole inginkan, ia melihat sosok Key yang sedang tertawa renyah dengan gadis berambut panjang yang sebelumnya juga bersamanya. Nicole tersenyum, senyuman pahit. Ia sakit tapi tidak ingin menangis. Untuk Key ,semuanya asal Key bahagia, ia rela.

*******
Telah genap satu minggu dan ini waktu keberangkatan Nicole. Key sengaja menyibukkan dirinya dengan melakukan olahraga. Padahal dia tidak terlalu suka berolahraga. Dia mengunjungi Hara. Hara telah menjadi sahabat barunya yang mendengar segala keluh kesahnya.

“Hari ini kah?” tanya Hara, Hara memberikan minuman dingin kaleng ke Key. Key menerimanya sambil tersenyum.

“Hei, aku bertanya padamu.. Hari ini kah?”

“Apa?”

“Nicolemu pergi..”

Key tidak ada niatan untuk menjawab. Salah satu alasannya untuk mengunjungi Hara, karena ia ingin lupa tentang keberangkatan Nicole.

Hara duduk disebelah Key dan meremas pundak Key.

“Jika aku jadi kau…”

“Kau akan menahannya? Begitukah?” Key menerka, bukankah hal seperti itu sering terjadi di drama drama.

“Well.. Kalau pun tidak menahannya, kau bisa mengatakan selamat jalan.. Dua tahun tidak sebentar Key.” Hara berbicara sambil menatap langit langit atap lorong rumah sakit.

Key hanya diam. Terlihat sedang berpikir. Hara hanya menggembungkan pipinya menunggu Key berbicara.

“Apa kau boleh keluar dari sini?” tanya Key tiba tiba.

“Hah?”

“Aku akan mengatakan selamat tinggal untuk terakhir kalinya, asal kau ikut.”

“Kenapa aku harus ikut? Ayah pasti membunuhku!” tanya Hara kaget.

Key diam, sepertinya mau merubah pikirannya. Hara menghela nafas. Dia sebenarnya tahu,Key menyuruhnya ikut, supaya Key memiliki seseorang untuk bersandar. Melirik kanan kiri rumah sakit. Tidak ada yang sedang berjaga. Hara meraih tangan kanan Key dan menariknya.

“Ayo! Cepat tidak ada yang menyadariku disini. Jadi aku bisa kabur.” ajak Hara.

Key menatap Hara bingung, tapi tidak lama kemudian malah menarik Hara untuk berlari. Ia tahu kalau Hara tidak boleh keluar dari rumah sakit karena Ayahnya yang pemilik rumah sakit terlalu khawatir tentang keselamatan anak perempuanya ini, yang merupakan satu satunya keluarga yang tersisa.

*******

Nicole berjalan ke arah gate untuk check in ke Jepang. Ia sengaja berjalan menggunakan kakinya sendiri tidak dengan kursi roda. Sebagai gantinya ia menggantung tangan kirinya dengan perban lalu mengikatnya kepundaknya. Setidaknya ia terlihat lebih baik daripada menggunakan kursi roda. Minho berjalan berdampingan dengan Nicole. Mereka tidak bicara apapun hanya diam. Lebih tepatnya Nicole tidak ingin berbicara.

“Nicole!” seseorang meneriakkan nama Nicole. Nicole menoleh ke arah sumber suara dan menemukan sesosok Key yang terengah engah dan wanita itu lagi.

“Key!” panggil Minho dengan raut kaget yang dibuat buat.

Nicole tersenyum lebar, faktanya Nicole ingin menangis. Ingin berteriak bagaimana Key datang bersama wanita di saat saat dimana seharusnya Key menahannya.

“Kau bersama Hara lagi?” tanya Minho.

Key hanya mengangguk, ia tidak tertarik dengan Minho. Key langsung menatap Nicole.

“Kau..”

“Apa?” kata Nicole mencoba tersenyum. Dan berhasil ia tersenyum, senyuman friendly Nicole yang berlawanan dengan hatinya yang sakit.

“Cepatlah sembuh. Dan datanglah ke pesta pertunanganku dengan Hara..” ujar Key.

Diam. Tidak ada yang berbicara sama sekali. Suasana bandara memang ramai tapi antara kedua orang itu semuanya terdengar begitu sunyi.

“Pasti..” kata Nicole berusaha semantap mungkin. “Minho kajja..”

Key melihat punggung Nicole berat. Ia terus menatap punggung itu tampa berkedip. Ia tidak akan bisa memeluk punggung itu lagi, dia tidak bisa tidur di bahu Nicole lagi. Ia tidak bisa memeluk Nicole saat ia tertidur. Ia tidak dapat mengecup bibir Nicole yang selalu terasa manis. Ia tidak akan bisa mengelus rambut Nicole yang begitu terasa lembut ditangannya.

Sosok Nicole dan Minho menghilang, Nicole tidak berbalik satu detik pun ke arah Key. Key jatuh berlutut, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menangis lagi, ia merasa benar benar berat melepas Nicole. Ia terus terisak, Hara yang sedari tadi diam memapah Key untuk berdiri.

Dengan susah payah Hara memapah Key. Key diam tidak menggerakkan kakinya walaupun ia telah sepenuhnya berdiri.

“Key jangan begini terus.. Ayo kita pulang.. Jangan buat dirimu berantakkan..” ujar Hara mengelus pundak Key.

Hara benar, Key tidak seharusnya menjadi berantakkan. Ia harus menjalani hidupnya betapapun berat hal ini. Ia masih bisa mencintai Nicole dalam diam.

“I love her so much, how can i live without her..” Key tiba tiba menarik Hara dan memeluknya. Hara yang kaget tidak membalas pelukannya, tapi mendengar suara Key yang bergetar ia menepuk punggung Key pelan berusaha menenangkan Key.

“Aku tahu..”

THE END

Advertisements