(FF) BEHIND MY STORY!- Part 8 END

Title: Behind My Story
Author: Cla
Genre: Romance, Dark
Rating: PG17
Length: Series
Language: Indonesian
Pairing: Seungyeon/Onew/Hara
Casts: Kara, SHINee
SummaryAm i too innocent?

Detik detik terasa berjalan lebih lama dari biasanya. Tumpukan orang yang mengerubumi Hara, telah menghilang satu persatu semenjak sebuah ambulance datang membawa sosok Hara yang penuh darah. Beberapa orang masih menatap jalanan yang sudah dipasangi police line. Mereka menatap jalan itu dengan tatapan ngeri. Tidak jauh dari jalan itu seorang wanita mungil yang terlihat acak acakan tertawa seperti orang gila di dalam mobil.

*****

Sirine ambulance berbunyi cukup keras. Taemin berlari cepat menuju mobil ambulance itu. Baru saja seseorang meneleponnya. Seseorang itu mengatakan bahwa dia mendapatkan nomornya dari kartu nama yang ada di dompet seseorang yang menjadi korban tabrakan.

Taemin menatap sosok Hara yang di bawa keruang UGD dengan sedih. Dia meremas tangan kakak iparnya itu keras. Semuanya terasa terjadi begitu cepat dan selalu buruk untuk kakak iparnya ini. Taemin terus mengikuti Hara sampai seorang perawat menahannya untuk tidak masuk ke ruang UGD.

Taemin menghela nafas menyandarkan kepala dan punggungnya pada dinding rumah sakit. Apa yang harus ia katakan pada Onew? Apa yang harus ia katakan? Hanya pikiran itu yang berada di otaknya saat ini.

Dengan lunglai lelaki ini berjalan menuju tangga rumah sakit. Iya berjalan begitu pelan sebelum akhirnya sampai di lantai dimana Onew sedang mencoba berjalan pelan pelan sepertinya sebuah latihan agar kakaknya ini bisa berjalan dengan baik.

“Taemin..”panggil Onew. Tidak ada senyum di wajah kakaknya itu.

“Hyung..” ujar Taemin. Taemin menghampiri Onew. Bersiap siap untuk menopang kakaknya kalau saja kakaknya pingsan begitu mendengar berita ini.

“Kau sudah menemukan Hara? Dimana dia?” tanya Onew.

“Dia.. Hyung.. Hara nuna.. Dia…” Taemin menceritakan apa yang terjadi seterusnya pada Onew. Onew hanya menatap Taemin dengan pandangan kosong dan tubuh pria itu melemas.

***

Seminggu berlalu dan Onew dengan setia menunggu istrinya itu. Dengan tubuhnya yang lemah karena jarang makan dan kondisi tubuh yang memang belum sehat betul, meskipun begitu lelaki ini 24 jam penuh menunggui Hara.

Tidak ada yang berubah dari sosok Hara,pikir Onew. Istrinya itu sama cantiknya saat ia pertama kali bertemu dengan Onew di SMA. Yang berbeda sekarang hanya ada perban pada kepala dan lengan Hara. Sepertinya benturannya cukup keras sampai sampai Hara harus menggunakan penyangga leher.

Hara sendiri tidak bergerak ataupun bersuara. Yang bisa membuat Onew yakin Hara masih hidup adalah alat medis kecil yang menunjukkan detak jantung Hara.

“Aku akan menunggu, seperti saat kau menungguku.”ujar Onew.

Taemin datang dan masuk ke ruangan itu. Lelaki itu tidak berkata apa apa dan hanya diam. Dari celah pintu seorang pria jangkung berdiri dan menatap sosok Hara dengan kasihan. Sosok jangkung itu Minho. Minho yang bebas karena Hara mencabut tuntutannya.

Minho merasa matanya perih. Seperti perkataan orang orang zaman dulu bahwa penyesalan akan datang di saat saat akhir. Itu pula yang Minho rasakan saat ini. Taemin melihat Minho dengan tatapan iba, walaupun rasa kesal masih ada di hatinya. Bayangan kecelakaan yang hampir membuat kakak sepupunya meninggal masih tersimpan di otak Taemin.

Minho mengabaikan tatapan iba itu. Akhirnya dia membuka pintu kamar rawat. Onew menoleh dan kaget menemui sosok Minho yang datang. Minho berdiri dengan mengenakan kaos berwarna hitam dengan jeans panjang sebagai bawahan. Walaupun Minho mengenakan topi, Onew masih bisa mengenali sosok Minho.

“Untuk apa kau kemari?”ujar Onew. Dari nada suaranya ada perasaan menyalahkan Minho atas semua yang terjadi.

Minho hanya menatap Hara dan tidak melihat Onew. Onew mengulangi pertanyaannya pada Minho.

Akhirnya Minho menjawab meski tatapannya masih menatap Hara sedih. “Aku ingin bicara denganmu..”

******

Onew berjalan pelan menuju atap rumah rumah sakit. Minho sudah pergi lebih dulu. Mereka berpikir bahwa atap rumah sakit merupakan tempat paling pas untuk bicara.

Taemin sendiri memaksa untuk ikut. Adik sepupu Onew ini ingin memapah Onew takut takut kakaknya tidak bisa berjalan dengan baik. Onew jelas jelas menolak. Ia yakin Minho hanya ingin bicara padanya, dan ia sangat yakin dia bisa berjalan cukup baik sekarang. Meski tubuhnya lemah tapi dengan keinginan kuatnya dia pasti bisa berjalan sampai atap rumah sakit.

Taemin masih tidak yakin, tapi kata kata Onew  yang menyuruhnya untuk menjaga Hara. Membuatnya diam dan menurut. Taemin kembali masuk ke dalam ruangan tempat Hara dirawat dan membiarkan Onew berjalan seorang diri.

Meski langkahnya pelan bahkan terlalu pelan tapi benar saja Onew bisa sampai ke atap rumah sakit, karena kemauannya. Disaat Onew keluar dari pintu dan angin yang kencang menerpa wajah dan tubuhnya. Angin itu sangat dingin dan menusuk tulang rusuknya. Tidak jauh dari pintu itu Onew bisa melihat Minho berdiri di dekat dinding pembatas gedung.

Onew berjalan cukup pelan dan Minho melihat itu. “Apa perlu aku bantu?” kata Minho. Onew mengabaikan itu dan terus berjalan menghampiri Minho.

Setelah sampai, Onew mengambil nafas panjang. Rupanya Onew kelelahan dan merasa lemas tapi dia tidak mengeluh dan mencoba berdiri tegak di hadapan Minho. Minho sendiri kembali mengalihkan pandangannya dari Onew dan menatap gedung gedung di kota Seoul yang terlihat kecil dari tempat ini.

“Apa yang ingin kau katakan?”tanya Onew dengan penekanan di setiap kata. Perkataan itu membuat Minho terhenyak. Akhirnya Minho memutuskan untuk menatap Onew, meskipun dia takut untuk melakukannya. Pada saat mereka berdua berpandangan, rasa bersalah kembali muncul di hati Minho.

Sosok di hadapannya terlihat sangat buruk. Pipi penuh orang yang biasanya ada pada orang di hadapannya ini menghilang. Ntah sudah berapa lama Minho tidak bertemu dengan Onew selama ini. Biasanya saat menemui orang ini rasanya tangan Minho ingin terus membogem mentah Onew. Tapi sekarang dia menemukan sosok yang benar benar mengenaskan dalam tubuh Onew.

Dulu dia pikir kalau Onew adalah orang brengsek yang melukai hati kakak perempuannya yang polos. Pria yang pergi bersama seseorang dan menikahi seseorang yang dulu Minho sangat benci, orang yang ternyata merupakan kakak kandungnya juga. Minho sekarang bisa berpikir lebih jernih. Onew sama mengenaskannya dengan Seungyeon kakaknya. Onew mencintai Hara terlalu berlebihan. Rela menjadi alat untuk membalas dendam pada keluarga Minho. Walaupun Minho yakin Hara sudah mencintai Onew saat ini, tapi dia masih berpikir kalau Onew mengenaskan sekarang.

Sosok dihadapannya itu memiliki lingkar hitam dibawah matanya, sepertinya yang Minho lihat sebelumnya, pipi penuh Onew menghilang. Dengan kemeja putih yang sudah lusuh, kemeja itu terlihat telah dipakai berhari hari. Tubuh Onew pun kurus sekali. Jelas terlihat kalau Onew terus menjaga Hara.

“Apa yang ingin kau bicarakan?”tanya Onew lagi. Suara itu membuat Minho kembali terhenyak.

“Hyung…”kata kata itu terputus setelah Minho mengatakan itu. Itu pertama kalinya Minho memanggil Onew dengan sebutan “hyung”. Ia biasanya memanggil nama Onew dengan panggilan “brengsek” atau panggilan panggilan buruk lainnya.

Mendengar Minho memanggilnya hyung. Pandangan Onew melembut. Onew tidak menatap Minho tajam lagi, bukan karena Minho menyebutnya hyung saja, tetapi juga karena ada nada sedih disuara Minho.

“Aku..”kata kata Minho terputus lagi. Bukannya melanjutkan pria jangkung ini malah jatuh bersujud di hadapan Onew. Onew kaget, tetapi dia tetap berdiri tegak dan menatap ke arah Minho.

Minho membuka topinya, ia mendongak dan menatap Onew. “Maafkan aku… Maaf karena saudaraku menyulitkanmu.. Maaf karena saudaraku mempergunakanmu untuk balas dendam.. Maaf karena aku menyakiti istrimu padahal dia saudaraku..”

Onew tidak mengerti. Dia masih berdiri tegak, dia yakin Minho sungguh sungguh dengan kata katanya tapi mengapa ia meminta maaf atas apa yang dilakukan Hara? Dan dia mengatakan kalau Hara saudaranya.

“Aku saudara Hara.. Kami saudara kandung yang berbeda beberapa bulan, seayah lain ibu..”Minho seakan menjawab segala pertanyaan pertanyaan yang bahkan tidak Onew lontarkan.

“Minho-ya..”panggil Onew lemah. Minho kembali menunduk dan tetap posisinya. Onew memegang pundak Minho dan menariknya untuk berdiri.

Minho berdiri, Onew berjalan menuju pagar pembatas gedung. Minho mengikuti Onew hati hati. Onew terlihat begitu lemah, dia berdiri dan menempatkan tangannya di pagar pembatas gedung. Minho mengikutinya, mereka berdua melihat hiruk pikuk kota Seoul. Mata Minho masih sembab karena air matanya tadi.

Onew tersenyum melihat langit dan Minho bingung karena itu. Apa yang Onew pikirkan di saat saat seperti ini? Apakah Onew memaafkannya? Kenapa dia diam saja dan tidak menjawab? Pikiran pikiran itu terus berputar di otak Minho.

“Kau tahu Minho.. Tuhan itu adil..”ujar Onew tiba tiba. Dengan suaranya yang lemah itu perkataannya menyerupai bisikan yang seperti pasir yang bisa dengan mudah terbawa angindan hilang begitu saja. Minho tidak menjawab dia menatap sosok Onew yang kurus.

“Tuhan mengirimmu untuk menjaga ibumu dan Seungyeon nuna dan aku…? Tuhan cukup adil dengan hanya mengirimku sebagai pelindung Hara. Taemin.. Omma.. Bahkan kau mungkin berpikir kenapa aku terlihat berlebihan pada Hara. Seperti orang yang akan kehabisan nafas ketika Hara sakit.. Seperti orang yang terkena luka bakar di seluruh tubuh jika melihat Hara menangis..”Onew memutuskan kalimatnya itu dan berdecak, lalu menoleh ke arah Minho.

“Bukankah itu berlebihan?”tanya Onew pada Minho. Minho diam seribu bahasa, hanya bisa menatap Onew dengan kedua matanya.

“Tanpa kau jawab, aku tahu. Aku berlebihan.. Tapi demi Tuhan aku merasakan hal seperti itu jika itu terjadi pada Hara.”tambah Onew.

“Aku memaafkanmu Minho.. Karena dari matamu aku menemukan ketulusan yang Hara butuhkan. Mengetahui bahwa kau saudara Hara meringankan bebanku..”ujar Onew lagi.

Minho jadi berpikir panjang ke masa lalunya. Sebegitu mengenaskannya,kah Hara? Sebegitu berhak,kah Hara mendapatkan begitu banyak simpati dari Onew.

Minho jadi ingat saat pertama kali Hara datang. Satu satunya kata yang ia lontarkan pada Hara adalah “pengganggu”. Yah Minho menganggap Hara menjadi pengganggu dirumahnya, karena Hara dia harus membagi kasih sayang Seungyeon. Minho juga sering memukul Hara jika Hara tidak sengaja menggunakan barangnya. Hara juga ditempatkan di kamar yang lebih kecil dari kamar Minho dan Seungyeon. Hara tidak pernah diajak Ommanya berpergian padahal mobil Omma tidak akan penuh meski Hara ikut dengan mereka. Minho sadar pada akhirnya, semenjak Hara masuk ke rumahnya Hara tidak diperlakukan dengan baik.

“Aku memaafkanmu Minho..”perkataan Onew membuat Minho kembali terhenyak. Ia menatap Onew lagi dan ia dapat melihat senyuman Onew yang tulus. “Pulanglah… Aku memaafkanmu..” tambah Onew lagi. Minho mengangguk, airmata menetes dari matanya. Mengapa Onew bisa dengan mudah memaafkannya.

“Terimakasih,hyung..”Minho berjalan mundur. Ia akan pulang atau setidaknya pergi dari sini, karena Onew terlihat ingin menyendiri disini. Saat Minho berjalan menuju tangga Minho teringat sesuatu ia belum meminta maaf tentang Seungyeon. Belum meminta maaf atas segala yang Seungyeon lakukan. Minho berbalik dan mendapati Onew yang masih melihat langit langit.

“Hyung..!”

Onew menoleh dan menatap Minho penuh tanya. “Ya?”

“Dan untuk Seungyeon aku minta maaf.. Omma dan aku sedang mencarinya.. ”

“Kau meminta maaf tentang kecelakaan Hara?”tanya Onew tiba tiba. Minho jadi sadar kalau Onew sudah berpikiran kalau Seungyeon yang menabrak Hara.

“Apa kau berpikir kalau Nuna yang melakukannya?”tanya Minho sedih.

“Aku ingin menutup pikiran pikiran kotorku tentangnya, aku berharap aku tidak berpikir bahwa dia pelakunya dan aku berharap bukan dia pelakunya.”Jelas Onew. Minho mengangguk ia berbalik dan berjalan menuruni tangga. Dari perkataan Onew dia bisa menarik kesimpulan kalau Onew positif berpikir itu kelakuan Seungyeon dan secara tidak langsung Onew tidak mau memaafkan Seungyeon.

****

Taemin memanggil dokter, keringat mengalir di pelipis wajahnya. Hara, kakak iparnya terlihat sesak nafas. Taemin berpikir negatif tentang ini. Saat Ayah Onew meninggal, Taemin ada dirumah sakit. Dan kondisinya tidak jauh berbeda dari Hara yang tertidur lemas. Dan sebelum meninggal Ayah Onew sempat sesak nafas seperti Hara, hal ini membuat Taemin khawatir setengah mati. Ia takut Hara meninggal, meski penyakit Hara dan Pamanya berbeda tapi rasa ketakutan terus muncul di dalam diri Taemin.

Dokter langsung berlari menuju kamar Hara ketika Taemin memberitahu suster tentang keadaan Hara. Saat Taemin mengikuti dokter, ia melihat Minho yang berjalan di lorong rumah sakit. Mata Minho terlihat sembab tapi Taemin mengabaikan itu. Minho akhirnya menyadari bahwa Taemin ada di hadapannya.

“Dimana Onew hyung?”tanya Taemin.

Minho menjawab Taemin dengan seadanya. Memberitahukan Taemin kalau Onew masih ada di atap rumah sakit. Minho juga bertanya mengapa Taemin terlihat begitu berantakan. Begitu tahu apa masalahnya Minho langsung berlari ke kamar rawat Hara dan melihat dokter yang sedang bergerumul bersama beberapa suster. Minho merapatkan tangannya. Rasa khawatir muncul dihatinya. Ia tidak ingin hal buruk terjadi pada Hara, bahkan sedikitpun ia tidak menginginkan Hara mati. Dia ingin memulai segalanya dari awal lagi dan dia berdoa untuk Hara, untuk yang pertama kalinya.

****

Onew tersenyum hambar pada langit. Seakan Onew berbicara dengan seseorang di atas sana. Onew berbalik begitu melakukan itu dan dia kaget setengah mati begitu melihat sosok dihadapannya. Sosok yang tidak sedikitpun Onew harapkan untuk dilihat.

Seungyeon berdiri dihadapannya. Dengan sweater rajut panjang dan rambut yang acak acakan. Keadaannya lebih buruk dari keadaan Onew. Seungyeon memegang sesuatu di tangan kirinya. Sebuah gunting yang entah ia dapatkan darimana dan untuk apa?

“Onew…?”panggil Seungyeon dengan senyuman. Senyuman itu sangat menakutkan ditambah dengan lingkaran hitam dibawah mata Seungyeon.

Onew mundur beberapa langkah karena terlalu kaget. Dia tidak takut, tidak sama sekali. Justru ia sangat berani pada Seungyeon, tetapi kehadiran Seungyeon yang tiba tiba dan keadaannya begitu mengerikan.

Seungyeon berjalan langkah demi langkah. Ia menjatuhkan gunting yang ada ditangannya dan terus berjalan menuju tempat Onew berada. Onew mulai bisa mengontrol diri. Ia tidak berjalan mundur lagi, melainkan tetap berdiri dan menatap tajam Seungyeon.

Seungyeon tersenyum lagi. Jaraknya semakin dekat dengan Onew. Dan dia tertawa kecil begitu tangannya sampai pada wajah Onew. Wanita ini perlu berjinjit sedikit karena ia tidak menggunakan alas kaki ditambah tubuh pendek gadis ini sangat jauh bedanya dengan tinggi badan Onew.

“Onew… Apa dia sudah mati? Bukankah dia sudah mati? Kalau sudah cepatlah nikahi aku.. Ayo cepat..”perkataan Seungyeon begitu cepat. Seungyeon mencoba berjinjit untuk mencium bibir Onew tapi dia jatuh tersungkur begitu Onew menampar pipinya sangat keras.

Seungyeon mengeluarkan gumaman kecil, orang normal pasti akan berpikir untuk menjauhi Onew, jika dipukul seperti itu. Tapi Seungyeon justru tersenyum dan mencoba berdiri. Tubuh kurus itu kembali berdiri dan tertawa kecil. Seungyeon tidak merasa Onew menyakitinya tadi. Ia justru berpikir kalau Onew menunjukkan rasa sayangnya dan dia ketagihan dengan rasa sakit itu.

“Onew.. kenapa kasar? Kau tidak merindukanku?”ujar Seungyeon lagi. Sosok kurusnya benar benar menyerupai setan sekarang, benar benar mengerikan dimata Onew.

“Kau bisa bisanya datang kemari!”bentak Onew. Perangai tenang Onew sudah menghilang. Dia seperti kemasukan setan dan ingin menyiksa Seungyeon.

“Kalau aku tidak kemari.. Kau tidak akan bisa bertemu denganku yang cantik ini, kan? Kau tidak bisa menyentuh tubuhku,kan? Aku hanya ingin memberikan diriku padamu..”Seungyeon sudah berada dihadapan Onew. Wanita ini menarik tangan Onew dan menuntunnya untuk meraba tubuhnya. Entah apa yang Seungyeon pikirkan, pikirannya tidak berjalan baik lagi sepertinya.

Onew menarik tangannya tapi Seungyeon memeganginya erat dan menempatkannya di dadanya. Onew merasa jijik pada Seungyeon dan menarik lagi tetapi tarikannya lebih kencang. Sehingga terlepas dari dada Seungyeon.

Seungyeon kembali kaget tapi senyuman mengerikan kembali terukir dibibirnya. Ia berusaha untuk mendekati Onew lagi. Dan lagi lagi terlihat seperti orang yang benar benar tidak waras. Onew sendiri seperti kemasukan setan. Begitu Seungyeon mendekat dia jadi ingat apa yang terjadi pada Hara. Betapa Hara hanya bisa tertidur lemas tanpa bicara apapun. Dengan tega Onew menarik leher sweater Seungyeon menariknya. Entah darimana tenaga itu, tapi Onew bisa melakukannya. Lagipula tubuh Seungyeon benar benar ringan.

Seungyeon meringis tapi wanita ini tetap tidak berhenti tersenyum. Disela kesakitan pada lehernya, Seungyeon berusaha meraih wajah Onew dan bergelayut padanya.

“Apa dia sudah mati, Jinki..?”perkataan itu terus terus ia lontarkan.

Onew kehabisan kata. Dia membanting Seungyeon seperti sebuah barang yang tidak berharga. Bantingan itu cukup keras, karena Seungyeon muntah darah. Tapi wanita ini lagi lagi tidak terlihat sedih dia justru tersenyum dan tertawa kecil masih berusaha untuk berdiri.

Tubuh lemah Seungyeon sepertinya sudah kuat lagi. Ia tidak dapat berdiri dengan benar. Dia terseok dan meringis di kaki Onew memeluk kaki Onew erat.

“Jinki.. kenapa tidak menjawabku..? Apa dia sudah mati?”

“Han Seungyeon! Hara tidak akan mati dengan cara kotormu!”marah Onew. Dia menendang Seungyeon dan lagi lagi membuat Seungyeon tersungkur. Tanpa rasa simpati sedikitpun dia meninggalkan Seungyeon yang tergeletak dilantai dengan penuh luka. Onew tidak tahu setan apa yang ada di tubuhnya.

“Jinki! Kalau kau pergi… aku akan membunuhmu!”teriak Seungyeon. Onew menoleh dan menangkap sosok Seungyeon yang berdiri dengan susah payah. Ada seringai di wajah kecil Seungyeon. Dan Onew bisa melihat gunting yang terlihat tajam yang sekarang Seungyeon genggam.

“Aku tidak takut Seungyeon!”ujar Onew diam ditempatnya. Dia berdiri didekat pintu menuju tangga. Seungyeon berjalan terseok dan menggenggam gunting tajam itu erat. Seperti halnya Onew, Seungyeon juga tidak tahu setan apa yang berkecamuk didirinya. Dia selalu merasakan hal itu setiap Onew menyebut nama Hara, karena ketika Onew menyebut nama Hara. Onew selalu menyebut namanya seperti sebuah nama yang patut diagungkan dan Seungyeon benci itu.

Seungyeon semakin dekat. Sosoknya yang mengerikan membuat Onew mundur selangkah. Onew tidak menyadari kalau dengan mundur selangkah dia sudah mencapai anak tangga pertama. Onew kehilangan keseimbangannya. Tanpa disengaja dan tanpa campur tangan Seungyeon  Onew terguling di anak anak tangga dan jidadnya terbentur pada anak tangga terakhir dilantai itu.

Seungyeon berteriak dia melepaskan gunting digenggamanya dan menangis sejadi jadinya. Jejak kaki seseorang tiba tiba hadir. Dan jejak kaki itu berhenti ditempat Seungyeon menemukan sosok Onew yang tidak bernafas karena benturan di kepalanya yang cukup kencang.

Itu Minho yang menemukan Seungyeon yang histeris dengan keadaan Onew. Itu Minho yang ingin memberitahukan Onew kalau Hara telah tiada beberapa detik yang lalu. Itu Minho yang jatuh terduduk dan menatap Seungyeon dengan tatapan yang begitu sedih.

******

Seseorang masuk ke ruangan usang yang sempat kosong beberapa bulan yang lalu. Seseorang yang masuk itu adalah Gyuri, dokter kejiwaan Seungyeon. Wanita cantik ini masuk dan memanggil nama Seungyeon, tapi tidak ada jawaban sama sekali.

Wanita ini berjalan maju dan menemukan Seungyeon yang terbaring membelakangi pintu. Gyuri hanya bisa melihat punggung Seungyeon yang kurus.

“Seungyeon…”

“Seungyeon-ssi..”

“Seungyeon-ssi!”panggil Gyuri lebih keras tapi Seungyeon tidak juga menjawab. Gyuri menarik bahu Seungyeon dan ia terpekik kaget melihat apa yang ia lihat.

Mata Seungyeon tertutup dan tubuhnya benar benar tidak bergerak sama sekali. Wajah Seungyeon begitu pucat dan sesuatu membuat Gyuri berteriak begitu melihat pergelangan tangan kanan Seungyeon. Hancur seperti berusaha diiris secara kasar dan terus menerus oleh Seungyeon. Darah Seungyeon meluber ke kasur yang diselimut seprai warna putih.

“Bagaimana bisa?”ujar Gyuri masih kaget. Dia melihat sekeliling ruangan dan sangat yakin kalau ia dan para perawat tidak meletakkan benda benda berbahaya di ruangan ini. Matanya mengedar sekali lagi ke arah kasur ada sebuah note coklat yang memang ia berikan untuk Seungyeon semenjak Seungyeon kembali kesini.

Tujuan utama Gyuri memberikan note itu agar Seungyeon belajar menulis sesuatu yang ia ingat atau yang ia rasakan, lebih tepatnya sebagai sebuah terapi. Gyuri menatap ngeri pergelakan tangan Seungyeon yang masih dilumuri darah dan note bersampul coklat itu terletak didekat tangannya, terbuka pada halaman yang sepertinya di isi baru baru ini. Gyuri memanggil perawat dan menyuruh staff rumah sakit menghubungi keluarga Seungyeon.

Gyuri melihat sebuah bolpoin yang juga tergeletak disamping pergelangan tangan kanan Seungyeon.

Mengerikan, batin Gyuri.

Ternyata Seungyeon berusaha mengoyak dan mengiris pergelangan tangannya dengan bolpoin yang Gyuri berikan. Bolpoin yang digunakan untuk menulis di note itu, ia gunakan untuk menyakiti tubuhnya. Para perawat memindahkan tubuh Seungyeon keluar, pastinya mereka memindahkan Seungyeon ke kamar mayat karena saat mereka mencoba menolong wanita ini ternyata jantung Seungyeon sudah benar benar berhenti.

Ruangan sudah kosong. Hanya tinggal Gyuri di dalam ruangan itu. Wanita cantik ini duduk dikasur tempat Seungyeon biasa tidur dan darah di kasur itu belum juga dibersihkan.

Gyuri meraih note coklat yang tersimpan dan telah tertutup. Pada sampul depan note itu terdapat tulisan kecil yang bertuliskan ‘ Behind My Story’.

Gyuri menghela nafas ia tidak pernah berpikir bahwa sebuah bolpoin bisa membunuh orang.

Gyuri membuka note itu dan membaca halaman terakhir yang dipenuhi tulisan dan ada sedikit noda darah di halaman itu. Dari halaman halaman lainnya. Halaman ini ditulis cukup rapi dan jelas.

Disini gelap. Aku sendiri, yang aku ingat adalah cerita cerita mengerikan dari Omma yang terus terngiang ditelingaku. Ommaku berdosa… Dia memiliki banyak dosa. Lalu bagaimana denganku? Aku pembunuh.
Aku takut.. Disini benar benar gelap aku merindukan adikku yang sangat cantik. Dia sangat sangat cantik. Hara yang mati karena ulahku.. Hara tolong unnie disini benar benar gelap.. Aku takut.. Aku tidak bisa percaya siapa siapa sekarang, bahkan Ommaku. Hara! unnie benar benar takut disini gelap tidak ada sinar dan aku sendiri disini. Aku takut.. Benar benar takut..

THE END

 

A/N: Finally the story ended. Thanks banget buat reader yang masih nunggu fic ini. Akhirnya tamat dan yah begitulah akhirnya. Aku harap para reader bisa puas dengan akhir cerita. Nah sebelumnya aku mau nanya beberapa pertanyaan buat reader yah.Jadi sertakan jawaban pada komen komen kalian yah! CHU ❤

  1.        Menurut kalian siapa tokoh paling jahat disini? +alasan
  2.      Menurut kalian siapa tokoh yang jadi favorite kalian disini?+alasan
  3.       Menurut kalian secene favorite selama BMS itu yang mana?+alasan
  4.       Apa kalian puas sama fanfic ini?+alasan
Advertisements