(FF)Walking To The Altar..

Tittle: Walking to the Alta
Author: Cla95
Rating: PG13
Length: Oneshot
Languange: Indonesian
Pairing: Kyuhyun/Eunjung
Cast: Gyuri KARA
Summary: Eunjung berjalan dengan langkah gemetar menuju Altar. Sosok yang berusaha ia lupakan kembali muncul bersama kenangan yang memenuhi otaknya.

Aku begitu gemetar sekarang. Dengan langkah gemetar ini aku tidak yakin aku bisa berdiri tapi ternyata aku berusaha untuk dapat berjalan. Salah satu tanganku mengepal keras aku benar benar takut.

Pintu katedral di hadapanku terbuka sedikit demi sedikit dan sekarang alunan musik klasik terdengar olehku. Suasana pernikahan seperti ini yang selalu aku impikan. Dengan dress putih cantik,alunan musik klasik dan gereja yang sudah terlihat begitu mengagumkan seperti ini. Dengan kepala yang sedikit tertunduk ini aku bisa melihat beberapa tamu undangan berdiri. Sepertinya mereka terlihat penasaran dengan mempelai wanita. Aku berusaha tersenyum semampuku tapi tetap saja aku tidak bisa menghilangkan rasa tegang ini. Aku kembali bergetar, ada apa denganku? Aku benar benar takut.

Entah karena rasa ketakutan ini, aku merasa ada sebuah tangan yang menarikku. Tangan itu menarikku ke dalam sebuah memori yang terjadi sepuluh tahun lalu. Aku jelas masih sangat mengingat masa masa itu.

Saat itu aku masih berusia lima belas tahun dan aku tinggal di salah satu panti asuhan. Ayahku sudah meninggal dan Ibu, entahlah aku tidak tahu dengan nasibnya sampai saat ini karena dia meninggalkanku tanpa jejak sedikitpun. Tapi memang itu bukan hal yang penting dalam hidupku masa itu, meskipun aku masih mengharapkan Ibu bisa muncul sampai saat ini.

Seperti biasa di usia lima belas tahunku itu, aku bekerja cukup keras. Aku tidak boleh menjadi pribadi yang tidak tahu diri, setidaknya aku harus mencari uang sendiri meski hanya akan mendapat beberapa lembar won. Dan pekerjaaan yang aku pilih adalah menjadi pengantar koran. Dengan sepeda panti asuhan yang memang disediakan untukku karena letak sekolah SMA-ku cukup jauh dari panti. Aku mengantarkan koran setiap pagi dan setiap pagi itu pulalah seorang lelaki yang se-usia denganku mengikutiku.

Namanya Cho Kyuhyun, dia merupakan teman sekolahku. Aku tidak terlalu mengenal dia karena kami memang baru berada di tahun pertama tapi lelaki ini terus mengikutiku. Ia berperilaku seperti seorang penguntit, anehnya dia tidak pernah berbicara padaku barang satu patah kata pun. Dia hanya mengikutiku yang asik melempar koran-koran ke rumah rumah sambil bersepeda.

Hal ini terus terjadi, sudah tiga bulan berlalu dan dia terus saja mengikutiku. Aku mulai memberanikan diriku untuk bertanya apa keinginan lelaki ini.

“Bukankah kau punya kehidupan? Kenapa terus mengikuti aku?”tanyaku sehalus mungkin. Dia hanya menatapku dengan wajah yang sama datar-nya seperti saat saat dia mengikutiku.

“Aku tidak memaksamu untuk menjawab. Well aku hanya bertanya.”kataku pendek sambil mendorong sepedaku menuju arah tempat tinggalku.

“Aku suka mengikutimu..”Ujarnya. Aku berbalik dan menatapnya. Akhirnya dia bicara, aku tidak seharusnya tersenyum tapi begitu mendengar suaranya aku tersenyum. Meskipun kami satu sekolah tapi kami tidak sekelas dan ini pertama kalinya aku mendengar suaranya dan sungguh aku benar benar berusaha untuk tidak tertawa.

“Untuk apa kau tertawa?”tanyanya. Aku menggeleng cepat.

“Akhirnya kau bicara juga.”ujarku melanjutkan perjalananku.

“Sampai kapan kau seperti ini?”tanya Kyuhyun lagi. Aku kembali menghentikan langkahku dan menatapnya bingung. Apa maksud dari pertanyaannya ini?

“Maksudku.. Kau bangun subuh subuh untuk mengantar koran, setelah itu berangkat ke sekolah yang jaraknya jauh dari sini.. Apa kau tidak lelah?”

“Kau terlihat sangat peduli padaku.”ujarku mengejek sebenarnya kalau boleh jujur. Aku juga lelah. Aku terkadang mengantuk saat kegiatan belajar di sekolah berlangsung tapi harus bagaimana lagi? Aku tidak lahir dari keluarga kaya jadi aku tidak bisa berharap pada orang lain. Satu satunya yang bisa kuharapkan hanya diriku sendiri.

“Kau bahkan menggunakan ikat rambut yang sama setiap harinya.”tambah Kyuhyun. Aku tanpa sadar membuka ikat rambutku itu. Rambut panjangku terurai seketika.

“Kau seharusnya memerhatikan penampilanmu.. Kau ini perempuan Eunjung..”dia menghampiriku. Aku mundur seketika tapi dia hanya tersenyum padaku dan merogoh saku celananya. Aku hanya dia berdiri dan tidak beberapa lama kemudian dia mengeluarkan sebuah jepitan yang berwarna merah muda. Jepitan itu sangat manis aku menyukainya.

“Aku sengaja membelikannya untukmu..”ujarnya. Dengan lembut dia menjepit poniku dengan jepitan merah muda itu.

“Kau itu cantik, apa kau tidak pernah sadar tentang itu?”

Aku menunduk, itu pertamakalinya setelah tiga tahun berlalu. Seorang lelaki selain Ayah memuji diriku. Saat masih kecil hanya Ayah yang bilang bahwa aku cantik, yang lainnya bilang kalau aku itu lusuh dan tak terurus hanya karena Ayah cuma seorang buruh di sebuah pabrik.

“Gamsahamnida..”ujarku pelan.

“Mulai besok aku tidak akan menguntitmu seperti tigabulan sebelumnya.”

“Baiklah.. Aku tahu, kau juga punya kehidupan. Lagipula menguntit gadis sepertiku ini tidak ada gunanya kan?”

“Bukan.. Ayahku sudah membelikan sepeda motor untukku. Meskipun sepeda motor itu bekas tapi kondisinya masih sangat bagus. Mulai besok aku akan mengantarmu kemanapun dengan motor itu..”Jelas Kyuhyun. Aku menatapnya bingung. Ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadanya seperti ‘kenapa dia selalu baik padaku?’ ‘apa ada yang ingin kau inginkan dariku’ tapi aku hanya bisa menatapnya bingung.

“Ham Eunjung! Mulai besok betismu tidak akan bertambah besar.. Aku akan menjadikanmu seorang putri mulai besok..”teriak Kyuhyun sambil berlari meninggalkanku. Dia terus meneriakkan itu, tapi karena suaranya yang merdu teriakan itu terdengar indah.

Keesokan harinya aku melakukan aktifitasku seperti biasa. Bangun pagi pagi dan berangkat ke pusat untuk mengambil koran tapi ketika aku membuka pagar panti Kyuhyun muncul dan tersenyum padaku. Aku kaget setengah mati untuk apa dia kemari? Apa kata katanya kemarin serius?batinku.

“Ah aku menunggumu lima belas menit.”ujarnya dengan senyum lebar miliknya. Walaupun baru kemarin dia berbicara dan tersenyum padaku, aku merasa sudah sangat nyaman dengan sikap itu. Ini lebih baik daripda merasa dikuntit dengan wajah datarnya.

“Kau serius dengan perkataanmu kemarin?”

“Ayahku menamaiku Cho Kyuhyun bukan untuk jadi pembohong..”

“Apa kau tidak akan menyesal? Aku hanya seorang Ham Eunjung. Tidak ada gunanya berbuat hal hal baik kepadaku.”ujarku meyakinkannya tapi bukannya menjawab ia malah menutup pagar panti dan menarik tanganku.

Dia memberikan sebuah helm kepadaku. Aku hanya tersenyum linglung. Dia benar benar menepati perkataannya.

“Jangan terlalu takjub dengan motor ini, okay?”Dia mengedipkan salah satu matanya kepadaku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jadi aku hanya menunduk. Dengan sangat kikuk aku menaiki motor itu dan berpegangan pada pinggangnya. Kalau boleh jujur saar itu merupakan saat pertama kali aku menaiki sepeda motor setelah tiga tahun kematian Ayahku dan aku tidak bisa melakukan apapun selain berpegangan erat pada pinggangnya.

Mulai saat itu waktu terus berjalan dan tidak pernah sedikitpun Cho Kyuhyun berubah. Dia selalu bersamaku dan ada untukku. Hubungan kami tidak pernah jelas seperti apa. Aku juga tidak tahu tapi kalau aku ingin jujur aku ingin berteriak bahwa aku menyukainya tidak aku mencintainya. Bahkan jika ada kata yang lebih indah dari kata cinta aku akan nyatakan padanya tapi sayangnya aku terlalu pengecut. Meskipun dua tahun berlalu dan kami selalu bersama aku tetap tidak bisa menyatakan perasaanku, terlebih aku sadar di sekolah banyak sekali yang mengagumi Kyuhyun. Wajar Kyuhyun tidak hanya tampan dan bersuara merdu tapi ia juga pintar dalam berbagai macam pelajaran.

“Eunjung!”panggil Kyuhyun di taman sekolah. Aku menutup buku sejarah negara Korea seketika dan melambai ke arahnya.

“Coba tebak!”

“Apa?”

“Ayolah Ham Eunjung tebak dulu saja.”

Aku benar benar tidak tahu apa yang bisa membuatnya sesenang ini. Jadi aku pasrah dan menggeleng.

“Ah kau ini..”ujarnya kecewa. Lelaki ini semakin dilihat semakin tampan, batinku.

“Ayolah Kyuhyun.. Aku kan tidak jenius mana mungkin aku tahu sesuatu tampa diberitahu lebih dulu.”ujarku membela diri. Tawanya yang renyah terdengar ditelingaku dan lagi rasa cintaku padanya semakin menjadi jadi.

“Jang Sam bilang kalau sekolah menyiapkan 5 buah beasiswa untuk Universitas Nasional Seoul!”Aku mendongak seketika. Itu adalah berita baik biasanya sekolah kami hanya mendapat dua atau tiga buah beasiswa. Aku tersenyum cerah, sekarang aku tahu kenapa dia terlihat bahagia. Jelas saja selama dua tahun ini aku mengenalnya, keinginan terbesar Kyuhyun adalah menjadi dokter karena Ayahnya memiliki penyakit diabetes, jadi lelaki ini terobsesi untuk menjadi dokter.

“Kyuhyun-ah tanpa tambahan jumlah beasiswa itu kau pasti akan mendapatkannya.”

“Tentu saja aku akan dapat, tidak! Kita harus mendapatkannya.”

“Kita?”

“Ya! Ham Eunjung dan Cho Kyuhyun harus selalu bersama, mari belajar yang giat.” Aku menggeleng cepat. Aku memang ingin sekali kuliah tapi aku tidak mungkin memaksakan diri untuk kuliah karena tuntutan biaya. Dan Universitas Nasional Seoul adalah Universitas paling terkenal hanya 7% peserta ujian seleksi masuk Universitas itu yang lolos dan itu gila.

“Aku sudah bilang ada lima buah beasiswa! Dan kita akan mendapatkan dua dari lima beasiswa itu.”

“Kyuhyun.. Melihatmu masuk universitas itu sudah sangat menyenangkan. Aku tidak perlu hal lain lagi.”

“Masih ada satu tahun kedepan dan aku tahu bahwa kau bisa! Aku tahu kau pintar. Ayo berjuang bersama!”Kata katanya kembali membakar semangatku tapi aku tidak bisa mengerti kenapa dia selalu ingin bersamaku. Apa alasan sebenarnya?

“Aku tidak tahu mengapa kau selalu seperti ini.”tanyaku menunduk.

“Maksudmu?”

“Semenjak di tahun pertama sampai sekarang, kenapa kau ingin selalu bersamaku?”tanyaku pelan.

Dia diam, Aku rasa mataku perih. Aku takut kalau dia tidak bisa menjawab bearti dia hanya merasa kasihan padaku. Aku mencoba untuk tersenyum dan menatapnya meskipun jelas salah satu tanganku mengepal karena gemetar.

“Kyuhyun-ah kalau hanya karena kau kasihan padaku, berhentilah. Aku tidak bisa menerima kebaikanmu lagi.”Ujarku menggigit bibir. Aku benar benar takut, aku takut bahwa dia hanya merasakan kasihan padaku.

“Aku bukan dari keluarga kaya. Aku tidak punya mobil mewah, kau sudah mengunjungi rumahku kan? Rumahku begitu kecil. Ayahku sakit sakitan. Kami hidup dari uang pensiunan yang kecil. Aku sekolah juga karena beasiswa. Bagaimana bisa aku mengasihanimu kalau aku sendiri perlu di kasihani!”sentaknya. Aku menatapnya dan aku bisa melihat matanya yang menatapnya marah. Ini pertama kalinya, sebelumnya aku tidak pernah melihatnya marah sedikitpun.

“Kyuhyun-ah..”panggilku pelan.

“Kenapa kau selalu seperti ini!”sentaknya lagi. Aku menggigit bibirku lagi, ini benar benar menakutkan. Kyuhyun marah padaku secara tiba tiba.

“Kyuhyun-ah…”

“Kenapa tidak juga mengerti?! Aku ini menyukaimu.. Bukan.. aku mencintaimu..”ujarnya pelan. Kata kata itu berputar dikepalaku. Aku merasa kakiku gemetar. Benarkah? Apa dia salah bicara? Apa aku sedang bermimpi? Kenapa tiba tiba sekali? Tuhan tolong jangan permainkan aku,batinku.

“Saat pertama melihatmu aku langsung peduli.. Saat aku melewati kelasmu dan melihatmu ketiduran aku merasa khawatir apa kau benar benar lelah?.. Aku rasa hidupmu sangat sulit dan aku sedih karena itu.. Ini bukan rasa belas kasihan tapi ini karena aku menyukaimu dari pertama melihatmu.. Tiga bulan aku berperilaku sebagai penguntit, aku hanya ingin tahu apa sih yang kau lakukan dan benar hidupmu lebih mengerikan daripadaku. Kau seorang gadis tapi terlalu banyak melakukan hal yang sebenarnya tidak pantas kau lakukan.. Aku sedih karena itu dan lagi lagi itu bukan rasa kasihan tapi karena aku mencintaimu.. Kalau aku seorang pria kaya, aku ingin membawamu lari. Aku tidak akan membiarkanmu meneteskan satu keringatpun.. Karena aku mencintaimu.. Jadi jangan bicara seperti itu.. Aku mencintaimu..”Dia menangis. Kalau aku bukan Ham Eunjung, mungkin aku akan tertawa. Pria populer di sekolahku ini menangis seperti anak kecil berusia lima tahun tapi aku Ham Eunjung, gadis yang sedang ia bicarakan. Bagaimanapun aku berusaha untuk tertawa, usahaku tetap gagal. Aku menangis dengan isak tangis yang cukup besar. Aku hanya bisa menunduk dan menatap sepasang sepatu jelek yang aku kenakan, berusaha menghentikan tangisku. Samar samar tangisan Kyuhyun tidak lagi terdengar dan pria itu sekarang berjongkok didepanku, pria ini tersenyum dengan matanya yang sedikit merah.

“Jangan menangis..”ujarnya merapikan poniku yang menutupi wajahku. Aku tetap menangis bagaimana mungkin aku tidak menangis. Perkataannya tadi sangat berharga untukku dan tidak mungkin terlupakan begitu saja.

“Maafkan aku..”ujarku pelan. Aku tidak berharap dia bisa mendengarku karena yang terdengar dari mulutku sebenarnya hanya isakan isakan tangis.

“Bicara yang jelas..”

“Maafkan aku..”kataku lagi tapi tetap saja aku tidak bisa berhenti menangis.

“Lain kali cobalah mengerti kau tidak selalu sendirian..”ujarnya lagi. Aku mencoba menatapnya, senyuman itu sudah muncul lagi dibibirnya. Senyuman lebar yang paling aku sukai.

Aku mengangguk cepat dan menatap matanya dalam. Sungguh aku baru menyadarinya mata itu benar benar indah. Itu mata terindah yang pernah aku lihat, bagaimana mungkin aku baru menyadarinya.

“Jadi berjanjilah! Kau harus belajar dengan giat. Kita harus bisa masuk universitas itu! Mengerti?”dia memberikanku kelingkinya, aku tersenyum dan mengaitkan kelingki kecilku padanya.

“Mari berusaha bersama sama.”ujarku pelan karena suaraku habis. Aku tersenyum karena suaraku yang nyaris menghilang itu. Aku baru menyadari bahwa Kyuhyun sudah berjongkok cukup lama jadi aku menatapnya kasian dan menyuruhnya untuk berdiri.

“Tolong bantu aku berdiri, Eunjung-ku!”ujarnya manja. Aku tersipu malu, beginikah hubungan kami sekarang. Dia milikku dan aku miliknya. Dengan sekuat tenaga aku menariknya untuk bangun dan sifat jahilnya kembali muncul. Ia berdiri tiba tiba padahal peganganku padanya sudah mulai mengendur dan akibatnya aku oleng dan sedikit lagi aku akan terjatuh tapi dengan sigap dia menangkapku. Aku bernafas lega sambil menatapnya marah tapi tanpa aba aba dia menarikku untuk mendekat dan mencium bibirku. Satu satunya hal yang terpikir olehku adalah ciuman pertamaku adalah Cho Kyuhyun dan tidak ada yang lebih baik dari itu. Aku hanya diam dalam ciuman ini, terlalu kaget dan bahagia tapi gigitan kecil di bibirku membuatku tersadar bahwa aku sedang berciuman. Aku berusaha membalas ciuman itu, yang aku sadari selama bibir ini menempel pada bibirnya, aku merasa sengatan sengatan aneh di sekujur tubuhku. Aku rasa ini yang setiap orang rasakan saat jatuh cinta dan berciuman. Aku hanya tertawa kecil memikirkan itu dan karena itu Kyuhyun menarik ciumannya pada bibirku.

“Apasih? Merusak suasana banget.”katanya cemberut. Aku menggandeng tangannya cepat sebelum dia pergi meninggalkanku karena kesal dengan sifatku.

“Ayo kita pulang, matahari benar benar tenggelam sepertinya..”ujarku mengalihkan pembicaraan.

“Aku tidak pernah tahu waktu ketika bersamamu..”ujarnya. Aku tersipu malu dan mempererat peganganku pada tangannya.

“Ayo! Ham Eunjung harus masuk Universitas Nasional Seoul!”ujarku bersemangat. Kyuhyun tertawa renyah lagi. Mendengar tawa renyah itu aku merasa suara itu adalah suara yang terbaik yang aku miliki.

Waktu berlalu dengan cepat dan tidak terasa tes masuk universitas sudah di depan mata. Kyuhyun sudah mendapat surat resmi dari Universitas Nasional Seoul karena dia memang sangat pintar dia tidak perlu mengikuti dua seleksi lagi. Berbeda denganku yang sangat jauh lebih bodoh darinya tapi tidak masalah sejauh ini aku sudah cukup berusaha. Cho Kyuhyun sebagai pacar yang baik menemaniku belajar setiap hari bahkan aku menginap di rumahnya sambil membantunya merawat Ayah dan membantu menyiapkan masakan untuk keluarganya karena Ibu Kyuhyun sibuk memberitahukan keluarganya dikampung. Ibu Kyuhyun adalah ibu normal lainnya yang tidak bisa berhenti memamerkan kesuksesan anaknya pada para tetangga.

“Kau sudah siap dengan wawancara dan pilihan jurusan besok?”

“Aku tidak siap..”candaku. Kyuhyun langsung cemberut dan menatapku tajam.
“Bohong! Aku bercanda aku benar benar siap!”

“Dasar kau ini. Yasudah mari bersenang senang sebelum hari H tiba.”ajaknya. Aku mengangguk dan mengiyakan ajakannya. Sudah lama semenjak kami berkencan, jadi berkencan sebelum hari H bukan masalah besar.

Kami berjalan jalan ke kawasan pasar dan membeli jajanan pasar dan tepat didekat pasar sedang di adakan festival. Disana semua orang terlihat asik dan bergerumul.

Kami menghampiri gerombolan itu, benar saja ada lomba menyanyi disitu dan genre yang diperlombakan adalah Trot. Dengan sengaja aku mendorong Kyuhyun ke arah panggung, aku memaksanya untuk mengikuti lomba itu. Hadiah pertama akan mendapat daging sapi kualitas terbaik, aku yang tergila gila akan daging sapi langsung menyuruhnya ikut dan memaksanya untuk menang. Kyuhyun terlihat malu tapi akhirnya ia menurut dan bernyanyi di atas panggung. Aku berjoget dengan orang orang tua yang menonton festival. Suara Kyuhyun yang memang merdu terdengar pas dengan alunan musik trot. Aku tertawa melihat senyuman nakalnya kepada para nenek nenek. Aku tidak sengaja melihat kebelakang dan aku menemukan sosok wanita cantik berambut panjang yang tertegun melihat Kyuhyun. Apa dia terpesona dengan Kyuhyun?batinku. Tapi pemikiran itu aku hapus sesegera mungkin karena gadis yang tidak kami kenal seperti itu mana mungkin bisa menghancurkan hubunganku dan Kyuhyun. Dan aku salah, manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti.

Kyuhyun mengantarkanku ke salon setelah dia selesai menyanyi, kami menang juara dua dan hadiahnya hanya dua buah es krim berukuran jumbo. Kami merencanakan makan es krim setelah aku potong rambut.

“Jangan warnai rambutmu, mengerti?”

Aku mengangguk dan menurut. Kyuhyun selalu bilang kalau rambut coklat alamiku ini sangat bagus, jadi dia tidak mau melihat rambutku di cat warna apapun.

“Jalan jalanlah.. Menunggu perempuan potong rambut itu sangat membosankan”ujarku dia mengangguk dan mengecup pipiku sebelum menghilang dari pintu salon kecantikan.

Tidak beberapa lama kemudian, aku selesai dengan urusan rambutku. Aku cukup kaget dengan hasilnya. Rambut panjangku telah menghilang dan sekarang menjadi pendek tapi aku merasa lebih percaya diri. Kyuhyun datang dengan dua buah kantung belanjaan dan dia menatapku takjub.

“Kenapa sependek ini?”

“Kau tidak suka?”

“…..”

“Kyuhyun-ah aku juga tidak tahu, aku hanya meminta potongan rambutku disesuaikan dengan wajahku.. Mian”

“Ah tidak bagus, kau terlihat cantik”ujar Kyuhyun mengacungkan kedua ibu jarinya. Aku kira Kyuhyun berbohong tapi tatapan mata itu jelas tatapan mata yang berbinar.

Aku berjalan gugup menuju ruang wawancara. Ada tiga orang yang duduk dihadapan sebuah kursi kosong. Aku menduduki kursi itu setelah membungkuk dan memberi salam. Mereka bertanya tentang prestasi-ku dan keluarga dan aku menjawab semua pertanyaan dengan jujur. Aku merasa perutku sakit setengah mati karena wawancara tidak juga selesai, selang 40 menit wawancara berakhir dan aku tidak bisa berhenti tersenyum karena mendapat surat pilihan fakultas.

Kyuhyun menatapku ragu begitu aku keluar dari ruangan, dia berusaha tersenyum tapi aku yakin dia juga gugup.

“Kau dapat surat pilihan fakultas..?”

“Ya!”pekikku. Kyuhyun memelukku erat dan membuat aku tidak menginjak tanah. Segalanya dimulai dari saat ini. Aku dan Kyuhyun, inilah awal sebenarnya. Aku masih ingat waktu itu ada seorang gadis cantik yang melangkah dan menghampiri kami.

Sebelum memori di otakku mengalir semakin dalam, tepukan tangan para tamu membangunkan aku dari lamunanku. Walaupun tanganku masih bergetar aku masih mencoba tersenyum sebisaku. Dengan pendengaranku yang cukup tajam aku bisa mendengar bisik bisik para tamu.

“Dia benar benar seperti dewi..”

“Aku berharap aku bisa secantik dia..”

Banyak sekali pujian yang aku dengar dan aku hanya bisa tersenyum sebisaku. Aku harus bisa berjalan sampai altar meski kaki ini terasa berat dan aku seperti harus menyeretnya. Dari kejauhan aku bisa melihat Kyuhyun berdiri, sosoknya membelakangiku. Tidak sedikitpun menoleh ke arah kami.

“Apa dia benar benar tidak mau melihatku?”batinku. Aku telah sampai di dekat altar dan seseorang wanita di hadapanku maju beberapa langkah di depanku. Dia sahabatku saat aku kuliah di jurusan fashion. Park Gyuri namanya dan dialah yang akan menikahi Cho Kyuhyun bukan aku. Dialah yang menikah dengan segala hal yang aku inginkan dalam rencana pernikahan yang selalu aku impikan. Dialah yang mendapat pujian dari tamu, bukan aku. Dialah yang bersanding di depan altar bersama satu satunya lelaki yang aku cintai dan lagi lagi bukan aku.Dialah yang melihat Kyuhyun kagum saat Kyuhyun menyanyi diatas panggung bertahun tahun yang lalu. Dia yang berjalan menghampiri aku dan Kyuhyun waktu itu.

Sedikit demi sedikit Kyuhyun berbalik dan meraih tangan Gyuri, sebelum akhirnya Gyuri menaruh tangannya di lengan Kyuhyun. Aku bersumpah kami; kyuhyun dan aku sempat saling menatap dan aku bisa melihat raut wajahnya yang terpaksa dan matanya yang mencerminkan kekecewaannya padaku.

Aku hanya bisa diam menunduk dan terus memegang bunga. Aku hanya penghias di pernikahan ini. Aku hanya pengiring pengantin wanita dan aku bukan tokoh utama yang bisa berdiri diatas altar. Ini sangat sulit bagiku melihat orang yang aku cintai menikah dengan sahabatku tapi ini yang terbaik.

Dengan pernikahan ini Kyuhyun bisa memiliki sebuah klinik. Dengan pernikahan ini keluarga Gyuri rela membiayai pengobatan Ayah Kyuhyun yang semakin hari penyakitnya bertambah parah. Dengan pernikahan ini aku tidak perlu melihat Ibu Kyuhyun yang menangis karena keadaan keluarganya yang semakin terpuruk. Dengan pernikahan ini aku tidak perlu memilih antara terus bersama Kyuhyun atau kehilangan sahabat-ku Gyuri yang selalu menjagaku saat kamu kuliah dulu. Aku rasa ini pilihan terbaikku, meski Gyuri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Kyuhyun. Dia tidak pernah tahu kalau aku dan Kyuhyun saling mencintai.

Di tengah usahaku untuk menahan tangis itu, seseorang memanggil namaku. Aku menoleh ke arah sumber suara itu. Dan aku bisa menemukan sosok Nickhun; sahabat dari Kyuhyun. Aku dengan langkah pelan bergeser ke arah-nya. Dia berada di sebelah altar berdiri dengan khidmat.

“Eunjung-ssi apa kabarmu?”sapanya ramah. Aku tersenyum, aku yakin meskipun aku berkata aku baik baik saja. Dia sebenarnya tahu apa yang sebenarnya aku rasakan.

“Aku baik.. Senang rasa-nya kembali ke Korea dan melihat pernikahan sahabat sahabatku.”

“Bagaimana dengan Paris..?” Nickhun mulai berbasa basi. Aku hanya menjawab seadanya mataku masih khidmat mengikuti jalannya upacara pernikahan.

“Kyuhyun menitipkan ini padaku..” Mendengar Nickhun mengucapkan nama Kyuhyun. Aku menoleh kearahnya dan aku mendapati sebuah surat di tangannya. Surat ber-amplopkan putih polos. Aku menerimanya tampa bertanya.

“Bacalah..”ujar Nickhun. Aku menggeleng rasanya aneh membaca surat di saat upacara pernikahan sedang berlangsung.

“Kita tidak berdiri di tempat yang monoton, Eunjung-ssi bacalah sebelum semuanya terlambat..”

Karena perkataannya, Aku membuka surat itu. Nickhun hanya diam di sampingku mendengarkan ceramah pendeta, sambil sesekali menatap ke arahku. Aku merasa jantungku berdetak begitu cepat, ada rasa ragu dan takut untuk membaca surat ini.

Gyuri diam diam melihatku. Aku tersenyum begitu pandangan kami bertemu. Setelah Gyuri kembali fokus menatap pendeta, aku mulai membuka lipatan keras. Mataku begitu familiar dengan tulisan ini, benar ini tulisan tangan milik Kyuhyun. Aku mulai membaca surat itu dan tanganku bergetar memegang surat itu.

Untuk Ham Eunjung.

Sekarang kau berdiri di samping Altar, melihatku bersama seseorang yang benar benar kau kenali. Apa benar ini yang kau inginkan?

Aku bertanya tanya terus dalam hati. Apa yang sebenarnya membuatmu meninggalkanku dan sekolah di Paris. Apa benar hanya untuk impianmu? Lalu mengapa sangat sulit untukku menghubungimu. Bertahun tahun berlalu dan itu tetap menjadi pertanyaan bagiku.

Seseorang memberitahuku sesuatu. Dia memberitahuku bahwa kau meninggalkanku karena Gyuri. Apa itu benar? Bagaimana bisa kau menyerahkanku pada Gyuri? Aku hanya ingin bersamamu. Meskipun Gyuri banyak menolong keluargaku itu tidak merubah apapun. Aku masih hanya mencintaimu, hanya Ham Eunjung tapi kenapa kau melakukan ini padaku?

Aku tahu pada akhirnya kalau kau melakukan ini bukan hanya untuk Gyuri tapi juga aku. Kau berpikir kalau aku bersama Gyuri, maka semuanya akan berjalan dengan baik. Begitukah? Demi tuhan Ham Eunjung aku hanya menginginkanmu. Tidak peduli nanti jika aku bersamamu, Ayah akan dikeluarkan dari perawatan rumah sakit, atau aku tidak dapat memiliki klinik yang keluarga Gyuri berikan padaku. Aku bersumpah aku tidak akan menyesal.

Ham Eunjungku.. aku mencintaimu. Hanya kau, sekarang tolong berjalan ke arahku. Katakan kalau kau akan bersamaku. Katakan bahwa kau menginginkanku juga. Mari berlari bersama meninggalkan gereja ini. Mari melakukan hal bersama sama seperti dulu. Lihat ke arahku dan mengangguklah. Tatap aku dan beritahu bahwa kau ingin bersamaku sebelum itu terlambat.

Berdiri di altar bersama orang yang tidak aku cintai, rasanya seperti neraka. Kau harus menolongku Eunjung. Kau tahu betapa tidak nyamannya ini? Jadi lihat aku sekarang dan katakan kalau kau akan memulai kembali bersamaku Ham Eunjungku.. aku mohon..

Surat itu berakhir dengan permintaan Kyuhyun. Mataku basah karena membacanya, tanganku masih gemetar. Nickhun membantuku berdiri. Dan mataku menatap sosok Kyuhyun yang juga melihatku. Matanya menatapku dengan penuh harapan. Mata itu seperti menyuruhku untuk menariknya dan berlari, kakiku sangat lemas dan kepalaku seperti berputar.

Aku mencoba berdiri tampa bantuan Nickhun dan aku menghapus air mata di kelopak mataku. Mataku menatap Kyuhyun dalam. Mata kami saling berbicara satu sama lain. Benar dia menginginkan aku untuk berlari bersamanya , begitupun aku. Tapi apa yang harus aku lakukan? Bagaimana dengan Gyuri.

Suara pastur membuatku sadar dan mengalihkan pandangan pada Gyuri yang terlihat khawatir. Kyuhyun masih diam seperti patung dan melihat ke arahku.

“Tuan Cho Kyuhyun, apa kau bersedia menjaga Park Gyuri seumur hidupmu?”Pastur mengulang kalimatnya, Kyuhyun tetap menoleh ke arahku. Aku bisa melihat bagaimana Gyuri terlihat khawatir.

Dengan segala kekuatan yang aku punya, aku menatap Kyuhyun tajam dan menggeleng. Aku berbicara tanpa suara padanya “Aku tidak ingin bersamamu..”

Matanya menatapku tidak percaya. Dia melihatku dengan penuh rasa kecewa sebelum akhirnya dia kembali menghadap pastur dan mengatakan “Aku Cho Kyuhyun bersedia menikahi Park Gyuri.”

Kakiku lemas dan airmata kembali terjatuh. Nickhun kembali mencoba menolongku untuk berdiri. Aku mencoba kembali menghapus airmataku. Sejujurnya aku ingin melakukan yang Kyuhyun pinta. Tapi aku sadar aku hanya akan bisa menjadi beban untuknya. Aku tidak bisa memberi segala hal yang dia perlukan. Hanya Gyuri yang bisa itu mengapa aku tetap diam dan menunduk menyembunyikan mataku yang sepertinya telah bengkak. Cho Kyuhyun aku harap kau mengerti, aku mencintaimu dengan caraku.

THE END

Advertisements