(FF)Unpredictional Marriage-Chapter 2

Tittle:Unpredictional Marriage
Author: Cla95
Rating:PG-16
Length: Series
Languange:Indonesian
Pairing: Onew/Hara
Cast: Seungri Bigbang
Summary: Onew mahasiswa lulusan Amerika yang tinggal bersama dua orang temannya dianggap Gay oleh orangtuanya karena satu kejadian yang tidak terduga di apartmentnya. Di sisi lain Goo Hara tidak juga menuruti perintah orangtuanya untuk mengikuti tes ujian masuk Universitas di usir keluar dari keluarganya. Mereka ditendang dari rumah masing-masing dan dapat kembali jika mereka bersedia untuk menikah!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hara menghela nafas. Gadis ini sedang kesal sekali, sudah genap dua hari dia menginap dirumah Nicole tapi tidak ada pertanda Ayahnya mencarinya. Padahal jarang sekali Ayahnya bisa pulang ke Korea, sekalinya pulang Hara tidak dapat bertemu dengannya karena masalah kecil.

Itu menurut Hara, ia berpikir bahwa dia tidak melakukan kesalahan apapun. Nicole menyebut sifat Hara ini dengan ‘Sindrom Nona Goo’. Jelas saja Hara tidak pernah merasa bahwa ia salah padahal gadis ini tidak ikut tes ujian masuk Universitas tahun lalu dan merencanakan untuk kembali tidak ikut tes itu tahun ini.

“Nicole-ah~ Appa benar benar marah sepertinya..”keluh Hara yang sedang duduk di sofa bersama Nicole, menemani Nicole menonton acara tv favorit sahabatnya ini.

“Emang ada yang bilang Ajhussi bercanda?”

“Kamu itu! Sahabat galau malah ngomong gak enak!”kesal Hara sambil mencubit tangan Nicole yang sedang mengaduk ngaduk isi toples, padahal toples makanan yang dipegang sudah kosong. Makanan itu habis oleh Nicole sendiri. Nicole meringis karena cubitan Hara.

“Ara..ara.. Jangan main cubit dong!.”

Hara menghela nafas, ia kembali menunduk lesu. Nicole yang tidak tega langsung merangkul bahu Hara mencoba menghibur sahabatnya itu. Hara benar benar tidak tertarik, ia terlalu putus asa.

Masa aku harus menikah, agar Appa memaafkanku? Batin Hara.

Tiba tiba terdengar bunyi aneh dari perut Hara. Nicole menoleh ke arah Hara penasaran.

“Kamu belum makan?”

“Bagaimana aku bisa makan, semuanya terasa pahit dimulutku.”

“Aku kan meninggalkan banyak makanan dirumah, Hara! Kau ini.”

“Bener deh, aku gak lapar.”

TING NONG!

Suara bel membuat Nicole berhenti memaksa Hara. Ia berjalan menuju pintu apartmentnya. Ia berteriak histeris begitu melihat seseorang yang datang, sebenarnya Nicole lebih histeris dengan sesuatu yang dibawa orang itu.

Seungri masuk ke Apartment Nicole dengan membawa Pizza ditangannya. Hara menghela nafas melihat kelakuan Nicole yang langsung merebut pizza ditangan Seungri setelah menutup pintu Apartmentnya.

“Kau ini tidak sabaran banget sih Cole.”kesal Seungri. Seungri tersenyum ke arah Hara, tapi senyumannya tidak di balas oleh Hara. Gadis itu sudah tertunduk lesu lagi.

“Sumpah kamu kacau banget.”ujar Seungri sambil mendudukkan bokongnya di sofa kosong dekat Hara.

“Ah diam.”

Seungri langsung diam dan menyuruh Nicole cepat membawa pizza dan minuman. Nicole datang dan meletakkan pizza di meja kecil dihadapan mereka. Nicole menggosokan tangannya, terlihat sekali anak ini senang karena ini waktunya untuk menyantap pizza dihadapannya.

“Cole, kamu kan tiap hari liat roti di tokomu tapi tetap saja berperilaku seperti tidak pernah melihat roti.”sindir Seungri.

Nicole menggigit sepotong pizza dan tersenyum pada Seungri.

“Ini berbeda, yang di tokoku untuk dijual yang ini untuk dimakan dan gratis!”

Hara yang mendengar jawaban Nicole tersenyum kecil. Seungri tidak habis pikir dengan Nicole. Sahabatnya ini hanya memikirkan makanan.

“Hara gak makan?”tanya Seungri. Hara menggeleng. Seungri bingung sekali, biasanya Hara sama rakusnya dengan Nicole.

“Dia belum makan dari tadi pagi, galau.”ujar Nicole sambil mengunyah pizza dimulutnya.

“Gak, aku beneran gak laper.”

Seungri memberi kode pada Nicole untuk melakukan sesuatu. Nicole mengerti ia membelah dua sepotong pizza dan melipatnya hingga menjadi buntalan bulat. Nicole menyuruh Hara untuk memakannya tapi Hara malah memundurkan kepalanya. Seungri yang duduk di sebelah Hara menahan kepala gadis itu dan membuka paksa mulutnya. Hara mau tidak mau mengunyah makanan itu.

“Uhuk uhuk! Kalian mau membunuhku.”Hara meneguk air didalam gelas sampai habis.

“yang penting udah makan.”kata Seungri. Akhirnya mereka melanjutkan makannya. Mereka bertiga bercanda dan membuat Hara lupa rasa putus asanya.

Nicole dan Seungri tidak tahu bahwa Hara sudah merencanakan sesuatu. Hara tidak mau memberitahukan mereka, karena para sahabatnya itu pasti akan sangat kaget.

Tepat pukul 11 malam Seungri berpamitan pulang. Hara tersenyum dan memeluk Seungri begitu Seungri beranjak dari sofa untuk pergi. Seungri bingung apa maksud dari pelukan Hara. Terakhir Hara memeluk-nya saat Hara pergi ke Jepang untuk menengok sepupu-nya, tapi daripada bertanya Seungri hanya tersenyum dan langsung pamit pulang.

Dua jam berlalu, Nicole sudah terlelap di sofa ruang tv. Gadis berambut pendek ini memang sengaja tidur di sofa bukan karena terganggu oleh Hara tapi karena ada acara tv favorit-nya yang tidak mungkin ia tinggalkan.

Hara diam diam menyeret koper kecil, Ia berjalan keluar dari kamar Nicole. Hara akan pulang ke rumah Ayah-nya dan karena ia masih takut Ayah-nya tidak menerima-nya, ia cuma membawa satu koper kecil.

Hara membuka pintu Apartment Nicole perlahan, lalu menutupnya tanpa mengeluarkan bunyi berisik. Setelah pintu tertutup Hara menghela nafas panjang.

“Rasa-nya seperti pencuri, mengendap ngendap.”ujar Hara. Gadis itu mulai berjalan menuju lift dan berangkat ke rumah Ayah-nya.

Hara turun dari taxi beberapa meter dari belokan ke rumah-nya. Ia sengaja tidak turun tepat di rumah karena itu sangat mencolok,pikirnya.

Hara berjalan pelan sambil menghela nafas. Ia menggembungkan pipi-nya dan membiarkan otak-nya berpikir tentang calon suami-nya.

“Setidak-nya aku ingin tahu dulu, wajah-nya.”batin Hara. Yah Hara berpikir mungkin menikah bukan hal yang buruk. Lebih buruk lagi kalau Hara menolak itu berarti iya tidak bisa melihat Ayah-nya tersenyum pada-nya lagi dan tidak bisa menikmati fasilitas fasilitas yang Ayah-nya berikan.

“Tapi kalau jelek bagaimana? Walaupun aku tidak tertarik dengan pria setidak-nya suamiku harus tampan.”ujar Hara pada diri-nya sendiri. Ia menghentikan langkah-nya dan berjongkok bingung.

“Ah ottokhae?”ujar-nya lagi.

Hara tidak menyadari bahwa ada dua pria besar dan tegap berbaju hitam yang sudah berada di belakang-nya. Hara bangkit dari tempat ia tadi berjongkok. Ia kembali berjalan menuju rumah-nya, tapi ia sadar bahwa ada langkah yang mengikuti-nya, benar saja saat Hara menoleh kebelakang ada dua orang pria tegap. Hara mau berteriak tapi otak-nya malah menyuruh-nya berlari, jadi Hara berlari secepat kilat tentu saja dua pria tegap itu mengejar ngejar Hara.

Hara terengah. Ia memutar balik, sehingga ia tidak lagi ada dilingkungan perumahan-nya. Ia terduduk di dekat tiang listrik, berusaha bersembunyi.

“Sial! Ada ada saja.”ujar Hara. Mata-nya melihat ke kiri dan ke kanan, ia menghela nafas lagi bersyukur. Tidak ada dua pria tegap berbaju hitam itu lagi. Saking kaget-nya Hara ia lupa kalau ia punya ponsel, jadi dia tidak menelepon sahabat sahabatnya.

Selama lima menit Hara duduk di tempat itu. Ia duduk selonjoran dan terus membuang nafas. Dia membuka sepatu hak tinggi yang tadi ia gunakan untuk berlari, dia baru sadar betapa hebat-nya dia bisa berlari dengan sepatu hak seperti ini.

“Nona Goo Hara?”panggil seseorang. Hara bangkit dan langsung berdiri tidak sempat lagi memakai sepatu-nya. Mata-nya mencari arah sumber suara, ia menoleh ke arah kanan dan benar saja ada satu pria tegap yang tadi mengejar-nya. Hara bersiap berlari ke arah kiri tapi dia terlalu kaget karena lelaki tegap yang tadi juga mengejar-nya sudah ada beberapa langkah dari-nya, saking kaget-nya Hara tidak sengaja menabrak tiang listrik dihadapan-nya yang sukses membuat-nya jatuh pingsan.

***

“Heh, bangun!”

Hara membuka mata-nya perlahan lahan. Pandangan-nya masih buram dan kepala-nya masih sedikit pusing. Dia menarik selimut yang menyelimuti tubuh-nya.

Tunggu, kenapa ada selimut,batin Hara. Iya membuka mata-nya dan mata-nya terbuka lebar saat melihat seorang pria yang sedang mengamati wajah-nya begitu dekat. Ia mendorong Pria itu sampe pria itu jatuh terduduk.

“Kasar sekali sih.”kesal pria itu. Hara refleks menarik selimut yang menyelimuti-nya tadi sampai keatas dada-nya. Untung-nyaย saja baju yang ia kenakanย masih utuh. Hara menatap pria itu galak.

“Dasar maniak!”kesal Hara.

“Hah? Maniak? Aku cuma disuruh bangunin kok sama Omma. Terlalu percaya diri sekali.”kesal pria di hadapan Hara. Hara mengamati pria dihadapan-nya lumayan tampan tapi wajah pria ini penuh oleh pipi,tapi secara keseluruhan pria ini tampan dan manis batin-nya.

Hara menggelengkan kepala-nya karena pikiran-nya terbang kemana mana.

“Sudah ah aku mau keluar, lapar.”kata pria itu.

Saat pria itu mendorong pintu kesamping, sesosok wanita paruh baya muncul dan langsung masuk tampa permisi.Yah Hara sekarang berada di sebuah ruangan atau lebih seperti kamar tradisional korea yang ornamen-nya berupa kayu. Lantai Kayu, dinding kayu dan pintu geser.

“Lama sekali bangunin-nya?”ujar wanita itu. Hara membungkuk sedikit sebagai tanda kesopanan. Ia siap menanyakan sejuta pertanyaan-nya tapi wanita ini malah duduk dan memegang kedua pipi Hara.

“Ah aku udah berusaha keras. Dia kebo banget.”kata pria itu. Hara bisa saja melempar bantal didekat-nya tapi wanita paruh baya ini masih ada dihadapan Hara dan masih memegang kedua pipi-nya.

“Jinki-ya lihat calon istrimu cantik sekali.”

Hara menatap wanita paruh baya itu. Tunggu apa yang tadi ia bicarakan?Batin Hara.

“Nggak. Biasa aja kalau senyum gusi-nya keliatan jelek.”ujar pria yang tidak lain adalah Onew.

Wanita paruh baya itu melempar bantal yang ada disamping Hara tepat ke arah kepala Onew.

Hara terkekeh kecil, dan berseringai ke arah Onew. Onew meringis dan menatap kesal Hara.

“Jangan begitu pada calon istri sendiri.”nasihat wanita itu. Hara kembali tertawa, mata-nya kembali menatap wanita paruh baya itu.

“Ha? Tunggu? hah? Calon istri? MWO!”ujar Hara, penyakit linglung Hara baru saja kambuh

Di tempat lain, tepatnya apartment Nicole. Kedua sahabat Hara kelabakan mencari Hara. Seungri sudah mengitari kota Seoul termasuk klub klub malam tempat biasa-nya ia dan Hara kunjungi, tapi tidak juga menemukan Hara.

Nicole terus berusaha mencoba menelepon Ayah Hara. Berharap Hara ada bersama Ayah-nya. Seungri sudah berada di apartment Nicole juga sekarang.

Seungri terus bolak balik di ruang tv, duduk berdiri duduk dan berdiri. Jelas sekali Seungri khawatir. Begitupun juga Nicole, dia terus mencoba menghubungi nomor ponsel Ayah Hara.

“Gak di angkat angkat!”kesal Nicole.

Seungri kembali berdiri, tadi pria ini sudah duduk dan sekarang kembali berdiri dan meratap frustasi.

“Kemana sih anak itu? Coba kau telepon rumah-nya.”usul Seungri dan benar saja Nicole belum mencoba menelepon rumah Hara.

Nicole kembali menekan tombol di ponsel-nya, menaruh ponsel-nya tepat di telinga kiri-nya. Nicole menunggu seseorang di rumah Hara untuk mengangkat teleponnya, tidak lama setelah Nicole mendengar nada sambung seseorang mengangkat telepon dirumah Hara.

Nicole bertanya dimana Hara? Apa Hara ada dirumah? Nicole bertanya banyak pada pelayan di rumah Ayah. Kurang lebih lima menit kemudian Nicole memutuskan sambungan itu dan menatap Seungri disertai helaan nafas.

“Kenapa ada dirumah-nya?”tanya Seungri.

“You know what? Dia dan Ajhussi sedang melaksanakan pernikahan.”ujar Nicole. Nicole berbicara dengan nada bimbang, dia senang karena Hara memilih pilihan yang tepat tapi kenapa tidak memberitahu-nya dan Seungri. Mereka kan sahabat terdekat Hara.

“Ah. Jangan bercanda.. Ayo cepat cari lagi.”ujar Seungri.

“Serius!”

“Kalau Serius dimana pesta-nya? Kemarin kan dia masih disini? Kenapa tiba tiba sekali?”

“Kayak tidak tahu ajhussi aja. Ajhussi kan nyentrik.”kata Nicole duduk di meja makan.

“Terus kita diam aja? kita susul lah Nicole aku harus ngetes calon suami-nya baik dan masuk kriteria kita, tidak?”

“Mau-nya juga begitu tapi mereka mengadakan pesta di kota Gyeongju.”

“Ah Gwangju doang. Itu kan kampungku dan Hara. Sudah ayo siap siap berangkat.”

“SEUNGRI! GYEONGJU! DESA YANGDONG KOTA GYEONGJU.”kesal Nicole.

“Hah? Gila! Itu kan di Timur banget!”

***

Hara mematut diri-nya di kaca yang berada di kamar tempat ia berdiri sekarang. Sekarang Hara sudah mengenakan pakaian tradisional korea yaitu Hanbok. Ia menatap diri-nya sendiri dari atas sampai bawah. Hanbok yang ia gunakan ini bukan Hanbok baru, Hanbok ini adalah Hanbok milik Ibu calon suami-nya yang merupakan warisan keluarga.

Setelah puas melihat bayangan wajah-nya di kaca, Hara mengintip keadaan luar pada sela jendela kecil yang berada didekat pintu. Keadaan diluar sangat ramai dan dipenuhi orang orang tua yang sibuk berjalan kesana kemari.

Hara menghela nafas. Ia tidak menyangka bahwa akhir-nya akan seperti ini. Walaupun tujuan-nya pergi tadi malam memang untuk meng-iyakan pernikahan ini tapi tetap saja pernikahan ini benar benar tidak terduga. Bisa bisa-nya Ayah-nya membuat-nya stress di kejar kejar orang asing tadi malam, lalu terbangun di sebuah desa.

Hara terus melamunkan sesuatu sampai tiba tiba pintu terbuka dengan bunyi cukup keras. Hara terlonjak karena kaget dan Hara merubah raut kaget-nya menjadi kesal begitu tahu bahwa calon suami-nya lah yang membuka pintu itu.

“Tidak punya sopan santun!”

“Jangan banyak bicara. Aku cuma mau nganterin ini!”ujar Onew mendorong sepasang sepatu tradisional korea. Hara mengambil sepatu itu dan mencoba memakai-nya.

“Seperti Hanbok itu juga sepatu turun temurun. Kesempitan gak?”

“Nggak.”Hara menjawab dengan nada kesal. Tangan-nya mencoba untuk memasukkan kaki-nya pada sepatu itu, ternyata sepatu itu pas sekali dengan sepatu Hara malah cenderung sangat pas dan sedikit menekan kaki-nya.

“Bener?”

“Iya. Udah sana pergi!”

“Yasudah. Oh ya! Ini ponselmu kemarin pas aku gendong kamu ke sini ponselmu terjatuh di rumah depan.”

Hara mengambil ponsel-nya, belum sempat Hara menanyakan tentang sesuatu Onew sudah menghilang.

“Benar benar tidak sopan” gerutu Hara.

Hara melihat ponsel-nya dan benar saja ada 97 pesan yang belum terbuka dan semua pesan itu dari Seungri. Ada 68 panggilan tidak terjawab dari Nicole. Hara memukul kepala-nya. Ia menyesal karena tidak memberitahukan ini semua dan malah pergi diam diam.

“Hara ayo cepat keluar..”panggil suara wanita. Itu pasti Ibu Jinki,batin Hara.

Hara mengirim pesan pada Seungri dan Nicole yang isi-nya sama. Hara meminta mereka untuk tidak khawatir, setelah pesan dikirim Hara keluar dari kamar dan Ibu Jinki menyuruh-nya mengikuti-nya. Satu satu-nya yang Hara syukuri hari ini adalah mendapat ibu mertua yang sangat ramah. Ia jadi ingat pada almarhum ibu-nya. Hara menggelengkan kepala-nya dan mengikuti Ibu Jinki.

Hara tersenyum kearah para tamu yang hampir semua sudah berumur sekitar 35 tahun keatas. Para orang tua dan tamu lain-nya berbisik bisik begitu melihat Hara. Hara pikir mereka semua membicarakan sesuatu yang buruk tentang Hara tapi Ibu Jinki membisikkan kata kata yang membuat Hara tenang.

“Jangan khawatir, mereka kaget karena Jinki dapat istri yang cantik sekali.”

Karena kata kata itu Hara menjadi tenang. Ia berjalan yakin ke tempat Jinki berdiri. Mereka berdua melakukan pernikahan tradisional ala korea. Jinki yang saat menemui Hara dikamar-nya memakai kaos sudah memakai baju yang sama ramai-nya dengan baju yang Hara kenakan. Mereka berdua memberi salam pada dewa yang keluarga Jinki sembah. Diam diam mata Hara menangkap sosok lelaki paruh baya yang sangat ia kenali. Ayah-nya melihat Hara terus menerus dengan pandangan yang tidak pernah Hara lihat sebelum-nya.

Setelah menyembah dewa dewa, mereka berdua memberi salam pada keluarga Jinki yang merupakan sosok sosok yang dihormati di desa ini. Ayah Hara juga terdapat didalam-nya.

Hara sempat kaget saat memberi salam pada sosok yang terlihat paling tua diantara yang lain. Seorang kakek itu mengedipkan mata-nya kearah Hara yang membuat Hara hanpir terlonjak. Hara hanya bisa tersenyum saat para orang tua tertawa kearah-nya.

“Itu kakekku jangan malu malu-in.”bisik Jinki saat ia membantu Hara untuk bangun.

Setelah upacara pernikahan. Hara diharuskan menyambut tamu dengan terus berdiri dan berjalan kesana kemari, sedangkan Jinki duduk duduk bersama orang orang tua dan makan.

“sungguh enak sekali jadi dia.”gerutu Hara dalam hati.

Hara meringis sakit setelah hampir satu jam setengah dia berjalan kesana kemari. Ia baru menyadari bahwa sepatu yang ia gunakan ini terlalu pas dan membuat kaki-nya sakit. Ia meringis sakit, tapi tidak tahu harus bicara dengan siapa. Onew yang memang sedari tadi berbicara dengan keluarga-nya dan Ayah Hara sambil mengamati Hara akhir-nya pamit dan menghampiri Hara.

“Ayo, masuk ke kamar.” Ujar Onew begitu sampai tepat dihadapan Hara.

“Mw.. Mwo?!”ujar Hara sambil menyilangkan tangan-nya di dada-nya.

“Tamu-nya sebentar lagi juga sudah mau pergi. Mending kita ke kamar.”

Hara menatap suami-nya tidak percaya apa maksud-nya menyuruh-nya ke kamar,batin Hara. Onew yang kesal karena Hara lemot langsung berbalik ke arah tamu dan tersenyum.

“Paman, Bibi aku dan istriku mohon diri dulu. Terimakasih sudah datang.”ujar Onew. Hara hanya menunduk karena malu.

Onew langsung menarik tangan Hara. Ternyata dari rumah utama ke tempat Hara tadi lumayan jauh. Mereka berdua harus berjalan sedangkan kaki Hara sudah benar benar lecet seperti-nya.

“Lepaskan saja.”

“Apa? Apa yang dilepas?”ujar Hara. Pikiran Hara sudah menjalar kemana mana.

“Sepatulah.. Masa baju.”

“Ke kenapa..?”

“Lecet kan kakimu?”

“Oh iya..”Hara melepas sepatu-nya dan berteriak kecil karena kaki-nya benar benar perih.

Tidak beberapa lama kemudian. Mereka sampai. Sesuatu membuat Hara kaget karena kamar yang tadi ia tempati sudah berubah. Ada beberapa yang berubah seperti-nya ruangan ini dipersiapkan untuk pengantin baru.

“Kerajinan.”ujar Onew.

“Iya bener. “kata Hara pelan.

“Aku capek. Mau tidur selamat malam.”ujar Onew setelah membuka baju-nya sehingga hanya memakai pakaian putih atau piyama tidur tradisional korea. Hara mengangguk kikuk dan ikut membuka baju-nya. Hara mengintip ke arah Jinki takut takut mata Jinki terbuka. Setelah yakin mata itu tertutup Hara mengganti pakaian-nya.

Mereka berdua tidur bersebelahan tapi saling membelakangi. Hara tidak bisa tidur sama sekali. Pikiran-nya menjalar kemana mana, sedangkan Onew sudah tertidur lelap.

Hara meraih ponsel yang terletak dekat dengan-nya. Mata-nya membaca pesan baru dari Seungri dan Nicole. Seperti-nya pesan ini dikirim setelah ia mengirim pesan pada mereka untuk tidak khawatir.

Hara tidak membalas pesan itu. Dia malah melihat sebuah foto diponsel-nya. Foto itu merupakan foto seorang wanita yang sedang memangku gadis berusia sebelas tahun. Mereka tersenyum manis. Hara tersenyum melihat-nya.

“Omma aku sudah menikah..”ujar Hara.

Setelah puas melihat foto itu Hara meletakkan ponsel-nya, tapi muncul suara jejak kaki seseorang diluar. Dia melihat jam di ponsel-nya sudah hampir jam 12 malam siapa yang datang. Hara mengabaikan-nya dan tetap membaringkan tubuh-nya.

Suara jejak kaki itu semakin dekat, Hara beranjak dan duduk tapi Jinki langsung menahan-nya. Hara terkunci oleh lengan Jinki. Dia menatap Jinki. Mata Jinki sangat merah, seperti-nya dia memang sudah terlelap tadi. Hara mau bicara tapi mulut-nya dibungkam oleh tangan Jinki yang satu-nya lagi.

“Ssttss… Omma pasti sedang mau mengintip.”bisik Jinki tepat ditelinga Hara. Hara membulatkan mata-nya lalu mengangguk pelan. Mereka berdua sudah berbaring sekarang dan Jinki memeluk punggung Hara, karena Hara membelakangi-nya. Kepala Jinki menempel dibahu Hara dan dengan jelas Hara bisa mendengar nafas Jinki. Hara memegang dada-nya pelan benar saja jantung-nya berdetak dengan cepat. Hara mencoba memenjamkan mata-nya meski tangan Onew melingkar di pinggang-nya.

Tidak beberapa lama kemudian. Pintu kamar bergeser, Hara yakin itu pasti Ibu mertua-nya.

Tidak lama kemudian pintu kembali menutup. Hara bisa mendengar suara bisikan dari luar walaupun tidak terlalu jelas. Ibu mertua-nya terdengar puas. Hara menghela nafas dan menoleh ke arah belakang dan Hara baru menyadari bahwa wajah Jinki sangat dekat dengan-nya. Ia mencoba melepas pelukan Jinki tapi pelukan-nya sangat kuat.

Hara masih mencoba bergerak dan melepaskan pelukan Jinki tapi ternyata pelukan itu benar benar erat. Hara terkunci oleh posisi itu. Hara kembali menoleh sebentar dan Jinki terlihat sudah benar benar tertidur.

Hara menghela nafas dan akhir-nya menyerah, ia membiarkan diri-nya terkunci dalam posisi itu. Setidak-nya posisi itu membuat-nya hangat, karena malam ini memang sedikit batin Hara.

“Tapi awas saja! Kalau dia pura pura!”ujar Hara cukup keras, tetapi saat ia menoleh Jinki masih memejamkan mata-nya. Hara yang juga mulai mengantuk karena suasana dan tubuh yang nyaman karena kehangatan dari pelukan Jinki akhir-nya memejamkan mata-nya dan tertidur pulas.

TO BE CONTINUED

A/N: WELL! hallo semuanya? kangen ama aku? XD. Sebenernya masih harus hiatus tapi gatel pengen nge-post ini jadi di post deh. Semoga reader setiaku pada seneng ama chap ini, and btw HAPPY RAMADHAN! yee! buat readers-ku yang muslim selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga selama sebulan kedepan puasa kita dapat diterima. Walaupun bulan puasa aku gak bosen bosennya ngingetin untuk jangan jadi silent reader! DOSA LHO!

Advertisements