(FF) Senseless- Chap 1

Tittle:  Senseless
Author: clalody95_
Rating: PG15
Length: Mini-series
Languange: Indonesian
Pairing: Taemin/Jiyoung
Cast: SHINee,KARA
Summary: Hot or Cold, She can’t fell anything since her eternaly love  changed.

BOX OF MEMORIES.

“Jiyoung! Palli ireona”suara seorang perempuan memasuki sebuah kamar. Itu Hara yang sedang membangunkan adik bungsunya. Perempuan itu menepuk pundak adiknya lembut, Jiyoung bergerak dengan sangat pelan. Hara tahu Jiyoung pasti sudah bangun karena adiknya telah bergerak.

“Palli Jiyoungi! Kamu sudah mau lulus masih saja harus dibangunkan.”kata Hara sambil memukul pundak Jiyoung lagi. Jiyoung tidak menjawab gadis itu masih membiarkan kepalanya tertindih bantal yang sengaja ia gunakan untuk menutupi wajahnya.

Hara menghela nafas, ia memukul bokong Jiyoung kencang sambil terkekeh lalu menggoda Jiyoung dengan sebutan’Big Baby’ tapi Jiyoung tidak juga merespon.

Selang beberapa lama Hara pergi, Jiyoung bangun dari tidurnya. Gadis itu langsung berdiri dan mematut diri dikaca. Ada lingkaran hitam dibawah matanya yang cantik. Gadis itu tersenyum, senyuman miris yang sangat menyedihkan. Dengan melihat dirinya dikaca dia dapat merasakan kekosongan yang benar benar membelenggunya. Dengan melihat kaca ia bisa merasakan kesedihan yang hanya bisa ia simpan untuk diri sendiri.

Ini alasan mengapa ia tidak pernah langsung bangun saat Hara membangunkannya. Ini alasan mengapa Jiyoung selama tujuh bulan ini menghindari kontak mata dengan kakaknya Hara. Tidak dia tidak hanya menghindari kontak mata dengan Hara tapi pada semua orang.

Jiyoung berjalan menuju jendela kamarnya. Ia berjalan dengan sangat pelan dan entah karena apa setiap langkah yang ia tempuh terasa begitu berat baginya. Matanya terasa perih dan hatinya kosong.

‘Aku tidak pernah menyukai perubahan jika akhirnya dia berada sangat jauh dariku’ pikiran pikiran yang selalu ada di otak Jiyoung kembali muncul. Matanya bukan hanya perih sekarang tapi basah. Sangat buruk karena ini terlalu pagi untuk menangis, tapi ini telah menjadi kebiasaan bagi Jiyoung. Dia sampai di jendela itu membukanya perlahan. Dia melihat ke arah bawah dan mendapati jalan rumahnya. Dulu Jiyoung sangat menyukai kenyataan bahwa kamarnya terletak di lantai dua. Dengan begitu ia bisa dengan mudah melihat seseorang.

Dia mulai berfantasi. Ia menghayalkan orang itu melambaikan tangan padanya. Ia membayangkan Lee Taemin cinta pertamanya tersenyum padanya.

“Jiyoung-ah ayo turun.”Taemin memanggil Jiyoung dari bawah,tapi panggilan itu lagi lagi hanya fantasi Jiyoung. Lelaki yang ia harapkan itu sudah berubah, ia bukan lagi pria yang menyapanya setiap pagi.

Jiyoung menghela nafas, dadanya sesak meski pagi ini begitu terasa sejuk. Ia tidak bisa merasakan aroma angin, segarnya udara pagi. Tidak karena Lee Taemin tidak disini. Ia hanya merasakan kekosongan yang ia sembunyikan dari keluarganya atau teman temannya.

“Jiyoung-ah cepatlah turun. Aku tidak mau terlambat.”Suara Taemin lagi Jiyoung bergidik. Ingatannya begitu tajam. Ia mulai kembali berfantasi, walau setengah jiwanya sadar bahwa Taemin telah berada cukup jauh darinya, sadar bahwa hal yang ia lakukan itu tidak berguna, sadar bahwa Taemin telah berubah. Bukan lagi Taemin cinta pertamanya yang polos dan mencintai Jiyoung.

Entah untuk ratusan kalinya, Jiyoung menangis disetiap pagi harinya. Jiyoung tidak peduli, ia tidak bisa tertawa, tidak bisa makan, tidak bisa mendengar, tidak bisa meraba. Panca inderanya mati, karena Taemin meninggalkannya.

Pandangan Jiyoung mengedar di penjuru kamarnya, pandangan mata lelah itu berhenti tepat di sebuah box hitam yang terletak di dekat kasurnya. Box itu menempel dengan dinding kamarnya. Jiyoung mendekati box itu. Ia mendudukkan dirinya di lantai dan membuka box itu. Beberapa kenangan, lagi lagi kenangan tentangnya dan Taemin. Jiyoung bergidik sebentar sebelum tubuhnya bergetar karena menahan tangisan dan teriakan yang ingin ia lontarkan. Dia tidak boleh menangis dan berteriak atau tidak untuk sekarang, karena Hara kakaknya masih dibawah. Dia tidak mau melihat Hara sedih melihatnya.

Mata Jiyoung menatap tajam sebuah amplop berwarna merah muda dalam box itu. Sebuah surat cinta, tentu saja itu dari Taemin. Taemin yang pemalu itu pernah mengirim surat cinta pada Jiyoung. Surat cinta yang lucu bagi Jiyoung tapi surat itu membuatnya sesak. Airmatanya telah turun sedari tadi, walaupun tidak ada isakan yang muncul, tapi percayalah tangisan diam Jiyoung sangat menyakitkan. Jiyoung membuka surat itu, entah untuk berapa kalinya dia membuka surat itu.

To : Jiyoung.

Jiyoung-ah. Ini Err.. Taemin. Taemin subae ehhm. Aku disuruh Minho hyung untuk mengatakan ini. Sejujurnya kalau Minho hyung tidak mengancamku, aku tidak akan mengatakan ini kekek~

Jiyoung-ah aku heran kenapa kita bisa punya banyak kesamaan. Kamu pemalu, aku juga. Kamu belum.. pacaran. Dan tentu kau tahu aku tidak.. punya pengalaman cinta sama sekali.

Jiyoung-ah karena itu mari lebih dekat. Maksudku bukan dekat. Aduh aku terlalu tegang mengatakannya. Apa yang harus aku katakan.. Sebentar lagi aku yakin aku akan benar benar meleleh.

Jiyoung-ah jangan! jangan! Berhenti membaca surat ini. Jangan! Aku belum selesai bicara, aku harus mengatakan ini padamu. Jadi tunggu sebentar. Okay aku harus menarik nafasku.. Hussh! 1..2..3.
Aku menyukaimu Jiyoung-ah, pyoong!

Tunggu, apakah ini seperti surat cinta? Maafkan aku Jiyoung kekeke~”

Jiyoung menelan ludah, ia melipat tangannya dilututnya membenamkan wajahnya di situ. Menangis sejadi jadinya disitu. Box itu seperti mimpi buruk dan mimpi indah secara bersamaan.

Ia kembali mendongak dan lagi lagi barang barang di dalam box itu selalu menarik perhatiannya, isi box itu seakan memanggilnya untuk bermain dengan mereka. Jiyoung tahu setelah ia mengambil salah satu barang dari box itu. Dia akan menangis tapi tetap saja gadis itu mengambil sebuah syal berwarna abu yang sedikit kusam dari box itu. Ingatannya kembali muncul seperti proyektor film yang memunculkan gambar ke layar.

“Jiyoung-ah.. Dingin tidak?”ujar Taemin saat itu. Jiyoung masih ingat, ia mengangguk dengan cepat, Taemin berlari menuju salah satu toko dan kembali dengan syal abu itu.

“Jiyoung-ah maafkan aku tidak ada warna kuning atau warna cerah lainnya. Err… Sebenarnya ada hanya terlalu mahal. Hanya ada ini.” Taemin melingkarkan syal itu ke leher Jiyoung. Jiyoung ingat betul hatinya bergetar dia tidak pernah sedekat itu dengan Taemin. Walaupun saat itu mereka sudah pacaran.

“Kenapa tubuhmu bergetar Jiyoung?”

“Ah ani.. Oppa-ah kajja!”

“Apa masih dingin?”

“Ani.. Oppa jinjja. Kajja.” Jiyoung mengabaikan pertanyaan Taemin saat itu dan berjalan terlebih dulu, tapi sesuatu menahannya. Sebuah dekapan hangat dan tangan lelaki kurus yang ia kenali melingkar di pinggangnya.

“Begini.. Hangat tidak?”Jiyoung semakin bergetar. Pada saat itu, meski musim dingin. Meski salju turun begitu deras dia merasa sangat hangat. Itu pelukan pertama mereka begitu manis baginya, tapi tetap saja tubuhnya bergetar. Ia bukan kedinginan saat itu tapi dia tegang, karena Taemin begitu dekat dengannya.

“Kenapa masih bergetar juga, apa lebih baik kita tidak jadi nonton?”tanya Taemin mengeratkan pelukannya, nada polos itu menggelitik telinga Jiyoung.

“Ah.. Ani.”

“Tidak apa apa.. Besok saja kita nontonnya, kamu bergetar Jiyoung pasti sangat dingin.”ujar Taemin, Jiyoung menggigit bibirnya. Haruskah dia jujur?

“Sebenarnya Oppa, aku tidak dingin sama sekali kok.”

“Lalu?”

“Kita ter.. Lalu dekat dan aku tegang.”

Jiyoung bisa mendengar tawa renyah Taemin saat itu. Ia malah mengeratkan pelukannya tidak peduli bahwa mereka ada di jalanan umum. Taemin justru mendekatkan wajahnya ke telinga Jiyoung dan tampa Jiyoung antisipasi, Taemin mengecup pipi kanan Jiyoung.

Itu kecupan pertama mereka. Kecupan dimana hati Jiyoung sepenuhnya sudah kepunyaan Taemin.

Jiyoung kembali menaruh syal abu itu, sekarang pandangannya terhenti pada sebuah cangkir kecil berwarna pink. Cangkir itu kecil. Cangkir yang juga diberikan Taemin untuknya.

Ingatan Jiyoung kembali berputar pada saat Taemin datang ke rumahnya dan mengajaknya ke pekarangan rumah Taemin.

“Oppa apa? Kenapa kesini?”

“Tunggu. Err.. Kemarin.. Aku.. Hmm..”

“Kamu mulai lagi, jelaskan yang benar oppa.”

“Kemarin aku menguping pembicaraan Minho hyung dan Jonghyun hyung, dia berbicara tentang kita.”ujar Taemin cepat seperti tidak mengambil nafas sama sekali.

“Lalu apa masalahnya?”

“Mereka membicarakan tentang-apakah kita-sudah- .. Berciuman?-

“Hah? mereka gila!”

Taemin tidak berkata apa apa saat itu, tapi tiba tiba tangannya menyentuh bahu Jiyoung, membuat dada Jiyoung berdetak cepat.

“Oppa apa?”

“Ah.. Tidak jadi deh, kamu kayaknya gak ngerti. Tunggu saja disini.”ujar Taemin dengan nada kecewa, lalu laki laki itu menghilang ke dalam rumahnya.

Jiyoung menurut dan menunggu, tidak beberapa lama kemudian Taemin datang dengan membawa cangkir pink ini.

“Sekarang minum.” Jiyoung yang memang cukup haus menurut. Tepat sehabis Jiyoung meminum air dari cangkir itu, Taemin mengambilnya dan meminum air yang tersisa.

Taemin tersenyum ke arah Jiyoung yang bingung.

“Dengar kita sudah berciuman Jiyoungi. Jadi jangan coba untuk berselingkuh.”

Jiyoung mengangguk iya mengerti sekarang, maksud Taemin adalah jika mereka telah berciuman. Jiyoung akan terikat pada Taemin.

Jiyoung tersenyum mengingat hal itu. Mengingat Taemin yang dengan polos meminum air dari cangkir yang ia pegang sekarang.

Jiyoung menarik diri dari kenangannya kembali tertunduk dan menaruh cangkir itu ke box hitam.

“Bisakah semuanya seperti dulu?”bisiknya. Ia seperti berbicara pada barang barang dihadapannya. Barang barang yang selalu bisa menghidupi Taeminnya walau dalam kenangan.

“Demi tuhan. Aku ingin kamu kembali.”bisik Jiyoung lagi.

“Apa aku harus membuatmu untuk kembali?”

TO BE CONTINUED

Advertisements