(FF) Lonely Smiles – one shoots

Title                : Lonely Smiles
Author            : Junni
Genre              : Fluff, Friendship
Rating             : G

Warning         : OOC, Alternate Universe
Length            : One-shot
Language       : Indonesian/English

Pairing            : None

Casts               : K-pop

Disclaimer      : I do NOT own names I wrote below. The plot belong to me.

Summary       : The truth behind their smiles.

Note                : I twisted the time

Chapter 16 – Kara: Aegyo

Jiyoung centric

 

Jiyoung membuka matanya, terbangunkan oleh suara Seungyeon yang dengan lembut memanggilnya untuk sarapan. Dari luar kamar terdengar suara Gyuri yang meminta Nicole membantunya dalam membuat sarapan. Dan suara deras air dari arah kamar mandi. Jiyoung beranggapan bahwa Hara sedang mempersiapkan dirinya.

Jiyoung melangkahkan kakinya menjauhi ranjang. Membuka pintu dan berjalan menuju meja makan yang di atasnya tersedia makanan untuk mereka. Jiyoung menempatkan diri di samping Nicole, dengan malas mengambil nasi dan menyuapnya ke dalam mulut. Sangat jarang grup idola dapat makan bersama-sama dengan anggota lengkap. Disibukkan oleh pekerjaan pekerjaan yang tiada henti yang membuat mereka kekurangan tidur dan kekurangan waktu belajar, walaupun pada akhirnya tak ada jaminan mereka akan menjadi yang nomor satu.

Jiyoung terdiam, mendengarkan percakapan para onnie-nya yang konyol. Hara keluar dari kamar mereka dan bergabung di samping Gyuri. Meningkatkan volume tawa di dorm itu. Dan sesekali, Jiyoung akan tersenyum karena bersyukur. Iklim masih sangat dingin, tetapi asalkan ada mereka, Jiyoung yakin harinya akan baik-baik saja.

Pengalaman bersama tak akan pernah terlupakan.

            Itulah yang Jiyoung pikir saat itu.

“Onnie! Gyuri onnie!” panggil Jiyoung. Gyuri menoleh, bertanya-tanya ada apa dengan dongsaeng-nya yang manis nan imut itu.

“Ada apa, Jiyoung?”

“Ah… Onnie, benarkah kita akan merilis lagu baru? Aku mendengarnya dari Hara onnie beberapa waktu yang lalu” tanya Jiyoung bersemangat.

“Eh? Benarkah!? Hal itu jangan kau tanyakan padaku. Coba kita tanyakan pada manajer oppa” jawab Gyuri sambil membimbing Jiyoung menuju manajer mereka.

“Ya!” seru Jiyoung tak sabar. Gyuri tersenyum melihatnya. Maknae Kara adalah yang terimut, pikir Gyuri. Jiyoung menanti-nanti kegiatan baru mereka, bahagia karena akhirnya mereka dapat bekerja bersama lagi.

“Jadi, ini liriknya. Pelajari saja dahulu. Rekamannya akan dilakukan beberapa hari lagi” jelas manajer Kara.

“Baik!” seru semua member Kara dengan semangat. Betapa bahagianya, mereka akan memulai pekerjaan sebagai penyanyi lagi setelah sekian lama. Sejak album Jumping keluar, member Kara jarang berkumpul bersama. Selain itu, pekerjaan mereka di Jepang membuat mereka jarang bertemu teman-teman di Korea.

Jiyoung fastened her grip on the lyric of their new single. Lagu yang berjudul “Jet Coaster Love” itu membuat hati Jiyoung tak dapat berhenti berdebar-debar.

“Hara onnie, tidakkah onnie merasa tidak sabar?” tanya Jiyoung pada Hara yang berada tepat di sampingnya. Hara menatap Jiyoung sebentar, lalu tersenyum dengan lembut.

“Tentu saja, aku akan melakukan pekerjaan denganmu, bagaimana tidak?” jawab Hara sambil mencubit pipi Jiyoung gemas.

“Hei! Bagaimana denganku? Hara-ya, apa kau sudah melupakan aku dan berpaling pada Jiyoung?” tanya Nicole sambil berputar ke depan dan menghadap Hara dan Jiyoung sambil berjalan mundur. Hara mengerutkan dahinya, merasa aneh dengan apa yang dikatakan Nicole.

“Hentikan, itu menjijikkan” ujar Hara dingin.

“Hei~ udara sudah mulai hangat, jangan kau buat dingin lagi dengan perkataanmu!”

“Aku mengerti” sekali lagi, dengan dingin Hara menjawab.

“Ja-jahatnya…” sedih Nicole. The doll giggled, terasa konyol baginya untuk bersikap dingin.

“Sudahlah, aku hanya bercanda” tawa Hara sambil merangkul Nicole dengan lengan kanannya. Gyuri dan Seungyeon hanya tersenyum di belakang mereka. Jiyoung sangat senang. Senang karena tak ada yang berubah dari mereka, walaupun sudah 3 tahun mereka tinggal bersama.

Kara sudah selesai merekam lagu “Jet Coaster Love” dan sedang merekam  lagu “Ima Okuritai Arigatou” saat ini. Jiyoung merasa lagu itu spesial. Lagu itu bagaikan perasaan mereka berenam bersama Sunghee. Walaupun Jiyoung tidak merasakan bagaimana sulitnya keadaan Kara ketika baru debut dan ketika kehilangan Sunghee sebagai main vocal, ia tetap bagian dari Kara yang merasakan pengalaman dan sejarah Kara. Ia telah mendengar berbagai macam versi latar belakang keluarnya Sunghee, tapi yang ia percaya, Sunghee tetaplah onnie-nya.

Jiyoung menyanyikan Ima Okuritai Arigatou dengan membayangkan kenangan-kenangan mereka dahulu. Ketika mereka masih canggung, ketika mereka masih belum kompak, dan ketika di sekolah ia masih…

“Kang Jiyoung!”

“Y-ya!” jawab Jiyoung kaget.

“Apa yang kau lamunkan? Kau melakukan kesalahan dan tidak menyadarinya?” tanya sang produser, sedikit kesal.

“Ma-maafkan saya!” Jiyoung membungkukkan tubuhnya yang tinggi ―setidaknya lebih tinggi dari kedua member tertua. Sang produser mendengus, menyuruhnya melanjutkan.

“Gyuri onnie, apa yang kulakukan?” tanya Jiyoung penasaran sekaligus lugu.

“Kau menyanyikan versi pertamanya, kita sedang menyanyikan yang kedua” jawab Gyuri sambil menenangkannya, mengatakan hal itu bukan masalah besar yang harus diingat.

“Be-begitukah?”

“Ya, dan kau melanturkan kata-kata yang aneh seperti sedang mengigau.”

“Me-mengigau??” tanya Jiyoung gugup.

“Ya, seperti… ‘Bullying’ dan ‘takut’” Jiyoung menelan ludahnya. Gyuri menoleh dengan ekspresi khawatir.

“Jiyoung… Apa terjadi sesuatu?” asked Gyuri anxiously. Jiyoung menundukkan kepalanya, menghela nafas panjang, kemudian mendongak untuk melihat onnie tertuanya itu.

“Aku tidak apa-apa onnie, aku hanya… Sedang menghayal! Ya betul, sedang menghayal!” jawab Jiyoung yang semakin gugup. Gyuri menghela nafas, kemudian tersenyum pada sang maknae.

“Kau tahu kau dapat bergantung kepada kami” ucap Gyuri lembut sambil mengelus kepala Jiyoung. Jiyoung tersenyum manja, memeluk Gyuri yang sedikit lebih pendek darinya.

“Aku tahu.”

“Hei… Sampai kapan kalian akan terus bermesraan?” tanya sang produser yang sedari tadi telah menunggu.

“Onnie, I’m excited!” shouted Jiyoung to Seungyeon. Seungyeon frowned.

            “Jiyoung, you have said that 7 times today…” complained Seungyeon.

            “I just can’t help it! Our 4th anniversary is coming!” Seungyeon smiled and pinched Jiyoung’s cheeks with both of her hands.

            “En wi ah gonna spen it wit sunghee onnie!”

            “Ahahaha, I can’t understand your language, baby Jing” Seungyeon said playfully.

            “I love Kara and Kamilia!!” yelled Jiyoung.

            “Seungyeon, Jiyoung, let’s go!” called Gyul, who was ready for the making of JCL PV. Kara was ready for everything, single, hairstyle, costumes, and smiles. But they just didn’t know. That the biggest problem was coming to their way.

 

“Hara onnie, Nicole onnie, Seungyeon onnie, ayo cepat!” called the petite, youngest girl. Tiga member Kara yang dipanggil keluar dari airport dengan langkah ragu. Jiyoung frowned, bingung dengan perilaku ketiga onnie tersayangnya. Mereka baru saja pulang dari Jepang ke Korea. Mungkin mereka hanya kecapaian.

“Ada apa?” tanyanya khawatir. Salah satu dari ketiga anggota itu menggelengkan kepala tanpa mengucapkan sebuah bahasa dari mulut dan lidahnya. Mereka beranjak menuju mobil dan menemui Gyuri yang sudah menunggu dengan mengenggam sebuah ponsel. Di wajahnya yang indah terlihat sebuah kerutan pada bagian dahi.

“Ahaha, Hara onnie, lihat itu! Gyuri onnie sedang berusaha menghubungi Jonghyun oppa lagi!” canda Jiyoung sambil tertawa. Tapi tak ada seorang pun yang meresponnya. Ketiganya membungkam mulut mereka dan terlihat pucat. Hal tersebut tentunya membuat Jiyoung heran. Sebelumnya, mereka biasa menertawakan hubungan Gyuri dan Jonghyun. Hanya sebagai hiburan saja, tetapi mereka tetap menghargai Gyuri. Tetapi kali ini berbeda. Jiyoung felt something fishy, but she can’t guess what it was.

            Sesampainya Kara di dorm mereka, Gyuri hastily head to her room, which made Jiyoung startled with her onnie’s action. Ketiga member yang sedari tadi tak mengucapkan bahasa verbal masuk ke dalam suatu ruangan. Meninggalkan Jiyoung sendiri.

“Onnie?”

Jiyoung terbangun dari tidurnya. Ia telah beristirahat sejak pulang dari Jepang. Teteapi anehnya, ia tidak merasa segar. Tubuhnya terasa sangat letih, bagaikan menandakan sesuatu yang akan terjadi.

Saat itu letak matahari menandakan senja, tetapi tak satu pun suara yang terdengar dari luar. Sepi. Sepi sekali. Jiyoung beranjak dari ranjangnya dan membuka jendela lebar yang ada di kamarnya. Cahaya senja menerpa dirinya, menandakan sepi yang entah mengapa terasa sangat dalam di hatinya.

Ia memperhatikan burung-burung yang terbang kembali ke sarang mereka. Kemudian mengalihkan pandangan menuju anak-anak yang sedang bermain. Tak lama kemudian, masing-masing berjalan menjauh, dan tak satupun menoleh kembali untuk memulai sesuatu yang baru. Permainan telah berakhir. Bulan telah datang untuk menggantikan matahari bergantung di langitnya. Jiyoung menutup jendelanya. Waktu berjalan sangat cepat. Ia masih dapat mencium aroma angin musim dingin yang menempel pada pakaiannya.

Jiyoung terduduk di lantai, ignoring the silent coldness of the floor. Kemudian ia merapatkan diri pada tembok di sebelah pintu seraya menundukkan kepalanya.

“Onnie…” gumamnya lemah.

“Tidak mungkin! Kita tidak bisa melibatkan Jiyoung dalam hal ini!” Jiyoung raised her head. Jiyoung tertegun heran. Ia tak menyangka bahwa ada Seungyeon di dorm. Jiyoung merapatkan telinganya pada tembok yang memisahkan ruangan tempat ia berada dengan kamar Nicole.

“Sshhh, pelankan suaramu, onnie. Jiyoung mungkin saja mendengar pembicaraan kita” kali ini, terdengar suara Hara, meskipun terdengar sangat pelan bagaikan suara kepakan sayap lembut. Jiyoung merasa sangat aneh mendengar namanya sendiri disebutkan seolah sangat rahasia.

“Bagaimana kita menjelaskan permasalahan ini padanya? Kita juga tak dapat membiarkannya terperangkap dalam sarang seperti ini” ujar Nicole.

‘Terperangkap dalam sarang? Apa maksudnya?’ tanya Jiyoung dalam hati. Ia merasa ada yang aneh. Really strange, if she could add. Para onnienya sudah bersikap aneh sejak siang ketika mereka sampai di Korea. Jiyoung tak dapat menahan rasa ingin tahunya. Ia beranjak, tetapi kemudian berhenti. Apakah untuk menguak semua rahasia yang tak diketahuinya, lebih baik ia diam dan merapat ke dinding kamarnya? Ataukah lebih baik ia datang ke kamar sebelah dan berdiskusi bersama?

Being an innocent, honest girl, Jiyoung moved her feet to the next door. She parted the door, making it so slowly, as if the world would gulp her up. What a surprise it was. What she saw was not the onnies talking seriously, but laughing happily with each 4 cards in their hands.

“Ah, Jiyoung, kau lapar?” tanya Nicole while laughing. Jiyoung frowned.

“Onnie? Weren’t you… Just… Talking about me?” Jiyoung asked curiously. The other three stared at her questioningly. As if they never did what they have.

            “Apa sih, yang kau bicarakan? Tidakkah kau lihat kami sedang bermain?” tanya Seungyeon polos. Rasa penasaran timbul dalam diri Jiyoung.

“Uhmm… Lalu, bagaimana dengan Gyuri onnie? Kalian tidak bersama? Bukankah Gyuri onnie juga ada?” tanyanya dengan gugup. Ketiga member yang baru saja berbohong mengalihkan pandangan darinya, menghindari topik yang bagaikan ranjau di depan mata. Jiyoung was irritated. Seharusnya, sebagai bagian dari keluarga mereka, ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Onnie, aku juga member Kara, mohon jangan perlakukan aku seperti anak kecil! Aku juga harus mengetahui masalah yang dihadapi Kara, bukan? Dengan begitu, mungkin saja aku dapat membantu memecahkan masa―”

“JIYOUNG!!” terdengar seruan Hara yang memotong ucapan Jiyoung dan membuatnya takut. Hara telah membentaknya. Ya, ia telah membentak adik yang selalu dimanjakannya.

“Kau tidak mengerti, keadaan kami dalam masalah ini berbeda! Apa yang kau katakan hanyalah perkiraan, apakah kau dapat mempertanggung jawabkan apa yang kau katakan nanti!?”

“O-onnie, aku…” Jiyoung terdiam sebentar, kelenjar air matanya tak dapat menahan perasaannya saat itu, “aku minta maaf.”

“Jiyoung, kemarilah” ucap Nicole lembut. Jiyoung berjalan ke arahnya dengan kedua kakinya yang terasa sangat rapuh. Hara menatapnya, dan pandangannya melembut seiring melihat air mata yang membasahi pipi sang maknae. Jiyoung settled herself between Seungyeon and Nicole, still scared to Hara.

“Maafkan aku, Jiyoung. Aku berlebihan. Seharusnya aku lebih memikirkanmu. Aku terlalu kekanakkan” said the doll. Jiyoung mengangguk pelan seraya memeluk Nicole.

“Jiyoung,” panggil Seungyeon, “aku akan menjelaskan masalahnya padamu. Tetapi berjanjilah, kau tidak akan terlibat dalam hal ini” Jiyoung hanya mengangguk lemah, menghapus air matanya dengan lengan bajunya.

“Kau pasti mengetahui hubungan Jonghyun dan Gyuri, kan? Dan bagaimana hubungan mereka tak berjalan lancar?” tanya Seungyeon. Jiyoung mengangguk sekali lagi.

“Jonghyun berpacaran dengan Sekyung” nafasnya tertahan, wajahnya pucat. Jiyoung merasa sangat kaget dengan pernyataan yang baru saja ia dengar.

“Kami tak tahu apakah itu terpaksa atau tidak, tapi beredar di internet” jelas Hara.

“Tapi aku tak tahu tentang hal itu.”

“Ya, kami berusaha agar kau tak terlibat. Dan kami pun merahasiakan hal ini dari Gyuri onnie” sambung Nicole.

“Key… Memintaku untuk membantunya, karena ia tak tega melihat hyung-nya yang terlihat sangat depresi” tambah Nicole. Jiyoung menganggukkan kepalanya lagi, mengerti dengan sumber masalah.

“Tetapi kemudian, Gyuri onnie mengetahuinya, dan kami tak tahu harus berbuat apa. Dia memang sedang beristirahat, tetapi mungkin saja dia akan menyalahkan kami…” sambung Seungyeon. Keempatnya terdiam, tidak berani menghadapi sang kakak tertua. Keheningan yang semakin membuat Jiyoung merasa tidak nyaman itu dipecahkan oleh suara lembut Hara.

“Sudahlah Jiyoung, kau harus beristirahat. Besok kau sekolah, kan?”

“Ya” jawab Jiyoung singkat. Ia beranjak dan menoleh sebelum menutup pintu, melihat para onnienya sebelum menghilang dalam mimpi.

“Annyeonghi jumuseyo, onnie” dan dengan itu, Jiyoung kembali sendiri.

Jiyoung melangkahkan kakinya dengan rasa kantuk yang dipanggulnya. Ia tak dapat tidur semalam, memikirkan apa yang akan terjadi pada kariernya nanti. Ia membuka pintu loker sekolahnya, siap untuk mencari ilmu.

“Ah, Hyerin-ah, annyeong!” sapanya pada seorang teman yang melewatinya. Sang teman melihatnya sekilas, lalu mengacuhkannya dan bahkan menghindarinya. Jiyoung mengernyitkan keningnya, bingung dengan perlakuan yang baru saja ia terima. Jiyoung berjalan menuju kelasnya, dan tak ada satu orang pun yang menyapanya. Hal tersebut terlalu aneh, tidak mungkin ia tak dikenal di sekolahnya. Setidaknya satu orang saja.

Jiyoung memakan bekalnya sendirian, bahkan sampai istirahat siang pun, tak ada yang mendekatinya. Lalu orang itu kembali. Orang yang menyebabkannya menderita selama berbulan-bulan dalam kejamnya bullying.

“Mau apa kau?” tanya Jiyoung dingin. Sang lelaki hanya tersenyum licik.

“Apakah kau sudah tak mengingat diriku?”

“Kutanya, mau apa kau!?” asked Jiyoung threatening. Intonasinya meninggi, trauma. Sang pemuda terlihat kesal dan memojokkan Jiyoung.

“Aku ingin uangmu” katanya sambil terus membuat Jiyoung memundurkan langkahnya.

“Aku tidak akan memenuhi keinginanmu lagi” ujar Jiyoung tegas. Ia menghentikan langkahnya.

“Kau ingin hal yang sama padamu dulu terulang lagi?”

“Aku dilindungi undang-undang. Dan fans-ku tak akan tinggal diam apabila mengetahuinya.”

“Benarkah?” Jiyoung menahan nafasnya.

“Kalau begitu, ingatkah apa yang mereka lakukan sebelumnya? Mereka tak dapat melakukan apa-apa! Berhentilah berlindung di balik bayangan orang-orang, Kang Jiyoung” he said full of sarcasm. Jiyoung terdiam sebentar. Soal uang, tak masalah. Ia hanya tidak ingin keluarga dan member-member Kara khawatir.

“Aku tak membawa uang sepeser pun” the boy chuckled and smirked for the last time, before he changed his expression.

“Jangan bercanda denganku!” dan suara tamparan keras terdengar. Ia merogoh saku Jiyoung, kemudian menemukan dompetnya. Pemuda itu mengambil semua uang yang ada, lalu melemparkan dompet milik Jiyoung dengan kasar tepat di muka sang gadis. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah yang menjauh, dan Jiyoung membuka matanya.

Permainan baru telah dimulai.

Jiyoung berjalan dengan sisa tenaga yang dimilikinya, mengabaikan semua tatapan yang menatapnya dengan jijik, begitu pula dengan bisikan-bisikan yang memfitnahnya. Pada akhirnya, tak ada yang menolongnya.

Seragamnya robek, menyisakan lubang-lubang yang memperlihatkan bagian tubuhnya. Wajahnya kotor dan tubuhnya basah karena lumpur. Kakinya lecet karena berusaha menendang terlalu keras. Rambutnya kusut dan pendek, mereka telah membakar dan menggunting rambutnya dengan kasar dan tak berperasaan. Dan di wajahnya terlihat jelas sisa-sisa air mata. Tenggorokannya sakit, ia telah berusaha mengeluarkan suara sekeras mungkin agar orang-orang menyadari kehadirannya, tapi tak satu pun yang peduli. Dan mereka telah melukai bagian kiri wajah Jiyoung. Yang mungkin tak akan hilang tanpa operasi plastik.

‘Idola sepertimu sudah biasa melakukan operasi plastik, kan? Kau hanya perlu melakukannya sekali lagi’

Kalimat yang mereka katakan berdengung di kepala Jiyoung berulang-ulang. Dan ia merasa tidak percaya mereka telah melakukan hal yang sangat kejam hanya dalam satu hari. Ia sangat tidak ingin para onnie-nya melihatnya dalam keadaan seperti ini. Tapi apalah daya? Ia hanya mempunyai tenaga untuk sampai ke dorm, itu saja.

Jiyoung telah sampai di dorm, setidaknya ia dapat merasa tenang di sini. Tapi tahukah ia bahwa saat itulah keadaan yang paling menyakitkannya akan datang? Tidak. Tentunya tidak. Karena kemampuan manusia sangatlah terbatas.

Jiyoung membuka pintu, alangkah kagetnya ia, yang ia lihat bukanlah apa yang ia harapkan, melainkan sangat berlawanan dengan apa yang ia bayangkan.

Jiyoung memperhatikan apa yang sedang berlangsung di rumah keduanya. Ibu Nicole ada di sana, dan ia tak mengerti mengapa. Peralatan rumah sedikit berantakan. Dan Gyuri terlihat sangat marah dengan wajah merah padam. Ia melihat ke sisi lain ruangan, dimana Seungyeon, Hara, dan Nicole berada dengan wajah pucat. Jiyoung membuka mulutnya, berusaha untuk mengeluarkan sebuah bahasa verbal. Tetapi gagal. Her lips were trembling in immense fear. Dan ketika itulah ia menginjak ranjau.

“Gyuri onnie, ada apa? Kita tidak seharusnya bermusuhan seperti ini~” Jiyoung telah menggunakan aegyo-nya. Di sebuah kejadian dimana suasana terasa sangat mencekam.

“Gyuri onn―”

“Diam kau, Kang Jiyoung!! Apa yang kau tahu soal masalah ini!? Orang yang hanya dapat melakukan aegyo sepertimu, hanya menjadi orang yang tidak berguna!!”

And the Goddes hit the jackpot.

Jiyoung merasa bagaikan dirinya telah tersambar petir. Tubuhnya kaku, wajahnya pucat, dan gemetar. Tubuhnya gemetar sangat hebat.

Kemudian, sebuah jeritan keras terdengar. Jeritan yang sangat memilukan. Jiyoung menangis dan membiarkan suaranya habis dalam jeritan. Tidak lagi memperdulikan kesehatan pita suaranya. Tubuhnya jatuh tak terkendali. Kemudian saat itulah, semua orang di sana menyadari keadaan Jiyoung. Rambutnya pendek dan tubuhnya kotor. Mereka sadar apa yang telah dialaminya. Tapi tak seorang pun menghampirinya. Tak satupun. Karena mereka tidak butuh tangisannya.

Malam itu adalah malam terburuk bagi Jiyoung. Kulitnya diplester. Rambutnya telah dirapikan, dan besok ia harus pergi ke salon untuk memasang extension. Tetapi walaupun ia memanjangkan rambutnya lagi, Jiyoung tahu. Bahwa tidak mungkin semuanya akan kembali seperti semula.

Ia bukanlah lagi Kang Jiyoung yang lugu dan polos. Bukan lagi seseorang yang pantas menyandang gelar “the cute maknae”. Pada hari itu, terjadi sebuah perubahan besar pada diri Jiyoung. Ia telah menghadapi realita bahwa mereka tidak mungkin bersama selamanya. Gleam in her eyes had disappeared.

            Jiyoung berjalan menjauh dari ranjangnya setelah meringkuk sangat lama di atas kasurnya. Ia membuka jendela lebarnya, membiarkan udara dingin masuk dan menusuk tulangnya. Malam itu terasa sangat terang tanpa bantuan cahaya buatan. Bulan purnama muncul ditemani bintang-bintang yang mengelilinginya. Jiyoung tersenyum kecil, sedikit terhibur dengan keberadaan bulan yang bagaikan dirinya dan bintang-bintang sebagai onnie-onnienya.

Tetapi sesaat kemudian, senyumnya menghilang dan digantikan oleh setetes airmata. Bintang-bintang di sekitar bulan tidak lagi menampakkan sinarnya. Just like her and her onnies.

Malam itu pemandangan terlihat begitu biru. Dan Jiyoung tidak dapat menahan keinginannya untuk menangis. Matanya yang kosong mengeluarkan airmata. Keelopak matanya bengkak. Tubuhnya jelas dingin karena udara malam musim dingin, tetapi ia tak menghiraukannya. Ataukah mungkin ia tak dapat lagi merasakannya.

When you and I met there were things I could never say
To only say I was shy is not as simple a reason

Although ideals and reality
Are usually not the same
Looking into the future Will I still be there?

The world is changing color
Timidly I turn the page of today
But just by you smiling
I can believe in our future

 

            Tanpa sadar ia menyanyikan lagu yang menurutnya spesial itu. Jiyoung menyanyikannya dengan sangat lembut, sangat memilukan. Dan airmatanya tak dapat berhenti mengalir. Hatinya menjerit, tetapi tak pernah keluar satu pun kata penolakan.

 

Before we were born
We were destined
Even if you were born again
I want to see.. I want to see you

Painful, sad tears fall
Gentle, bright smiles lay bare**
Because of your honest expressions
I have been saved

Kenangan bersama Kara muncul dalam aliran ingatannya. Satu demi satu mengalir seiring dengan lirik lagu yang dinyanyikannya.

From my heart
Right now, I want to say “Thank You”
Do you hear me
Someday I will Put on that silver dress*
Darling, I just want to tell you how much I love you
Promise me, okay
Even after 10 years
We’ll walk together


From my heart
Right now, I want to say “Thank You”
Do you hear me
I can’t express it well These feelings I have for you
Darling, I just want you to know my only true love is you
I love you
Even after 100 years

 I’ll stay by your side

Jiyoung fell on her knees. Ia bersandar pada jendela lebarnya, membuat tangannya sebagai tumpuan kepalanya. Ia membiarkan agin malam merasuki kamarnya yang sepi. Hara, Nicole, dan Seungyeon menolak tidur di sana. Jiyoung menutup mata, membiarkan cahaya bulan menyapunya.

“Annyeong haseyo, Jiyoung imnida. Mulai hari ini saya akan menggantikan Sunghee-sshi bersama Hara-sshi” a girl walked to her and raised her chin.

            “Bukan, keberadaanmu di sini bukanlah untuk menggantikan, melainkan untuk melengkapi. Selamat datang, anggota keluarga yang baru.”

 

            “Ada apa, Jiyoung? Apakah kau gugup?”

            “Ah… Maaf onnie, aku tak dapat berhenti bergetar.”

            “Tidak apa-apa. Yakinlah pada dirimu sendiri. Kau sudah bekerja keras untuk comeback kita. Aku akan terus mendukungmu.”

 

            “Jiyoung, orang-orang itu menindasmu lagi!?”

            “Ya, maaafkan aku, onnie…”

            “Mengapa kau meminta maaf? Akulah yang seharusnya meminta maaf karena telah membiarkanmu menderita seperti ini. Kau dapat bergantung padaku, Jiyoung. Kapanpun.”

 

            “Onnie, kau cantik sekali. Dan senyummu juga indah.”

            “Kau ingin senyum yang indah, Jiyoung?” the cute one nodded her head.

            “Tersenyumlah dengan tulus dan bahagia. Tertawalah, Jiyoung.”

Jiyoung membuka matanya, kemudian menutupnya kembali setelah melirik sang bulan.

あなたのそばにいるわ

I’ll stay by your side

            “Onnie…” kemudian ia terjatuh dari dunianya, menuju kegelapan tiada akhir.

Jiyoung membuka matanya dengan berat. Dia menyadari bahwa semalam ia tertidur dengan jendela terbuka, dan angin malam musim dingin menyelimutinya. Jiyoung bingung dengan apa yang harus dilakukannya hari itu. Dia takut keadaan akan menjadi canggung, atau yang paling parah, suasana seperti kemarin akan terulang.

Jiyoung mencoba berdiri, namun dikagetkan oleh tanah yang menggoncangnya hingga terjatuh. Lalu Jiyoung menyadari bahwa bukan tanahlah yang menggerakkannya, tetapi kepalanya yang terasa berat tak mampu mendirikan kakinya. Tubuhnya panas. Ia terserang flu karena semalaman tidur tanpa penghangatan ketika gelap malam.

Tapi Jiyoung tidak memperdulikan demamnya, ia tetap berjalan keluar kamar. Di luar, Jiyoung menemukan ketiga member yang semalam tak menampakkan ujung hidungnya di dorm.

“Onniedeul…” ketiga member tersebut menoleh kea rah Jiyoung. Mereka tersenyum, membuat Jiyoung lega.

“Kalian sudah pulang!” seru Jiyoung. Jiyoung turut tersenyum, menenangkan hati Seungyeon, Hara, dan Nicole. Tetapi sesaat kemudian, senyum mereka berubah menjadi tatapan serius dan kecewa. Jiyoung merasa gelisah, ia tidak ingin lagi berpisah dengan para onnie-nya. Namun sayangnya, apa yang terjadi melenceng sangat jauh dari harapannya.

“Jiyoung, kami sudah memutuskan untuk lepas dari DSP entertainment” Jiyoung received another shock. Jiyoung terdiam kaku. Wajahnya pucat, keringat dingin mulai tampak. Kakinya gemetar.  Jiyoug membuka mulutnya, ingin mengatakan sebuah kalimat penolakan. Tak dapat dihindari, lidahnya kelu. Kebenarannya tercekat di tenggorokannya sendiri, sebagai sebuah perjuangan yang gagal.

“A-apakah karena masalah Jonghyun oppa?” akhirnya sebuah pertanyaan keluar dari mulut Jiyoung. Seungyeon tersenyum kecut.

“Tidak, Jiyoung. Itu masalah pribadi, tidak akan melibatkan Kara. Jiyoung, aku ingin kau ikut dengan kami” ucap Seungyeon seraya memeluk Jiyoung. Jiyoung dengan kasar melepaskan diri dari Ham.

“Ikut dengan kalian!? Aku bahkan tak mengerti apa yang sedang kalian ributkan! Lalu bagaimana dengan Gyuri onnie!? Kalian akan mengabaikannya!?” akhirnya, Jiyoung melepaskan semua amarahnya. She was really pissed. Kesal karena mereka tidak memikirkan perasaannya. Kesal karena ia tak dapat melakukan apa-apa.

“Kami sudah berbicara pada Gyuri, tapi dia―”

“Tak bisa begitu!! Tidakkah kau mengerti perasaan Kamilia!? Aku tak ingin―”

“JIYOUNG!!” a shout of her name echoed in the house. Jiyoung telah sekali lagi jatuh dari dunianya. Kali ini, dengan terpaksa ia harus masuk ke dalam lubang kegelapan. Sampai akhir, ia hanya memperjuangkan hak orang lain.

Jiyoung membuka matanya, terlepas dari belenggu hipnotis mimpi. Jiyoung ingat dia pingsan ketika di rumah, dan menemukan dirinya berada dalam ruangan putih yang berbau obat. Rumah sakit. Kemudian, seorang perawat datang.

“Ah, kau sudah bangun?” tanyanya ramah. Jiyoung nodded her head.

“Kau boleh langsung pulang apabila kau mau. Dokter tak menemukan apa-apa selain flu ringan dan demam” Jiyoung menganggukan kepalanya sekali lagi.

“Uhm… Dimana onnie…?” tanya Jiyoung tak yakin. Sang perawat menoleh ke arahnya setelah meletakkan beberapa sampul obat.

“Ah, orang-orang yang membawamu kemari? Mereka sudah pulang” jelas sekali terlihat dalam mata Jiyoung sedalam-dalamnya kekecewaan. Tak satu pun menemaninya di sini. Jiyoung tidak ingin pulang. Suasana yang sama hanya akan terulang.

Sejak saat itu, hubungan mereka telah berubah. Konflik antara kara dan DSP beredar di internet. Membuat semua Kamilia di seluruh dunia khawatir. Jiyoung tak pernah lagi datang ke sekolah, dan ia harus kembali ke jepang. Bagaimana pun juga, pekerjaan tak bisa menunggu mereka untuk menyelsaikan konflik mereka.

Tiada hari tanpa kesediahn tersirat di wajah Jiyoung. Ia telah berkali-kali membujuk member-member kara untuk kembali, tapi tak satu pun mendengarkannya. Kecewa. Jiyoung merasa sangat kecewa pada para onnie-nya. Dan ia terpaksa mengikuti mereka. Ia pun tak mengerti, mengapa ia tidak mempunyai pilihan lain.

Sampai pada suatu hari, Hara menarik tuntutannya.

“Terima kasih sudah menyadarkanku, Jiyoung” ujar Hara sambil mengelus kepala Jiyoung. Jiyoung merasa sangat terharu, ia ingin sekali menangis. Hara berjanji padanya untuk melembutkan hati Gyuri, dan memintanya untuk melakukan hal yang sama pada Seungyeon dan Nicole.

Tapi kemudian, ia bertanya-tanya. Apa yang sudah disadari oleh Hara? Apa yang membuat member lain tidak kembali? Sebetulnya apa yang telah ia lakukan?

Seharusnya ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Jiyoung. Hari peringatan ke-4 sejak debut Kara. Rasanya ia ingin menangis lagi. Jiyoung menggelangkan kepalanya. Performance Kara akan dimulai kurang dari 10 menit, ia tak dapat menangis. Apabila ia menangis, make up-nya akan luntur, kelopak matanya benkak, dan mukanya kemerahan. Jiyoung tidak ingin merepotkan orang lain lagi.

Tak lama kemudian, sebuah panggilan ditujukan untuk mereka. Semua anggota Kara naik ke panggung tanpa mengatakan apapun pada satu sama lain.

Ketika mereka siap di atas panggung, Jiyoung dapat melihat betapa antusiasnya Kamilia. Dia merasa bersalah karena tidak dapat menjanga hubungan Kara demi mereka.

Musik dimulai. Mereka tak memiliki pilihan lain, mereka harus menyanyi untuk mendapatkan nafkah. Pada awalnya, mereka menyanyi tanpa emosi, namun seiring dengan syair yang mereka nyanyikan, hati mereka terasa makin berat.

Jiyoung tidak dapat menahan airmatanya lagi. Setetes demi setetes membasahi wajahnya. Membasuh hati semua orang yang hadir di sana. Tanpa disadari, mereka pun menangis, turut merasakan kesedihan yang Kara rasakan.  Dan pada saat itulah, Jiyoung merasakan bahwa Kara sangatlah dekat, dimana pun mereka berada. Dan Jiyoung menyadari suatu hal.

‘This is not supposed to be happening in our 4th anniversary’

            Jiyoung teringat akan kata-kata gurunya dahulu. Mengajaknya untuk berfikir, ia mengingatnya lebih detail.

Life is dream, realize it

            Jiyoung sudah menyadarinya, hidupnya tak akan selalu monoton. Itulah mengapa datang masalah-masalah yang menghancurkan hatinya berkali-kali.

Life is sorrow, overcome it

            Itu dia. Yang Jiyoung lakukan hanyalah bersedih. Atau lebih tepatnya, ia sama sekali tak mendapat kesempatan untuk memperjuangkan haknya. Tapia pa yang akan terjadi jika ia mencobanya lebih keras?

Life is a struggle, accept it

            Tidak. Dia tidak ingin hanya menahan dan menerimanya. Ia ingin melakukan sesuatu.

Life is life, fight for it

            Berjuang. Berjuang, Jiyoung. Lakukan semua hal yang kau dapat lakukan. Apalah artinya ia menjalani semua ini, apabila pada akhirnya ia tak mengerti apa yang harus diperjuangkan?

            Pada detik itu, Jiyoung bertekad untuk menyelsaikannya. Setelah turun dari panggung, Jiyoung memberanikan diri untuk mengajak semua onnie-nya untuk berdiskusi. Mereka akan menyelsaikan semuanya, Jiyoung yakin akan hal itu. Menyelsaikan masalah yang tak satu Kamilia pun yang tahu, dan tak akan ada yang tahu.

“Jiyoung” panggil sang kakak tertua. Jiyoung membuka matanya perlahan, kemudian beranjak dari tempatnya duduk.

“Ya, onnie. Aku sudah siap” ujarnya tegas. Tubuhnya tegap, dadanya membusung. Kain putih indah menyelimuti dirinya dengan sempurnya. Gaun yang disiapkan untuknya sebagai kostum “Ima Okuritai Arigatou” PV membuatnya terlihat sangat mengagumkan.

Gyuri gasped, shocked by her dongsaeng’s change. Kemudian dia tersenyum, melambangkan kebahagiaannya pada perubahan sang maknae. Time changes people. Dan tak pernah Gyuri mengira, adiknya akan berubah sangat drastis seperti ini.

Senyumnya berubah. Air mukanya berubah. Tatapannya berubah. Suaranya berubah. Dan yang terpenting, kasih sayangnya berubah. Menjadi sangat lembut.

Semua orang menyadarinya. Tetapi Jiyoung tidak tahu apa-apa soal hal itu. Jiyoung telah mendapatkan sesuatu yang berharga, sebagai ganti perjuangannya dalam menyatukan kembali keluarganya.

Maturity

―Fin―

A/N: 16th chapter of my friendship fic, Lonely Smiles and yet I made this first. A request from Clariska onnie. Credits to leealya for “Hyerin”. Finally managed to finish it on the time.

Cla said ” This is not my own fanfictions, it was made by Junni. One of my dongsaeng, She’s still young but she has talented and great passion about writing. I knew her from Kara Holic. I hope you guys will love the fic’s as much as mine. So dont forget to write down your comment. Because even a short words it will be her happiness^^” and junni i will update Share apartment soon For you ^^
Advertisements