(FF) BEHIND MY STORY!- Part 2

Title: Behind My Story
Author: Cla
Genre: Romance, Dark
Rating: PG17
Length: Series
Language: Indonesian
Pairing: Seungyeon/Onew/Hara
Casts: Kara, SHINee
Summary: Am i too innocent?

Part 1

Seungyeon keluar dari ruangan itu ia menemukan sosok Ummanya tapi berjalan mengacuhkannya. Berjalan pelan menuju ruangan yang biasa ia tempati. Bagaimanapun ruangan itu tidak luas dan usang, tapi tempat itu lebih baik dari tempat tadi.

Umma Seungyeon berbisik pada Gyuri. Seperti sesuatu yang penting tapi hanya beberapa detik, lalau tersenyum pada Gyuri

“Aku akan bayar berapapun” ujar Umma Seungyeon sebelum menyusul sosok anaknya yang berjalan tampa arah seorang diri.

“Seungyeooon!”

**********

Selang tiga hari dari pemeriksaan kejiwaan Seungyeon, Umma Seungyeon datang lagi memang Umma Seungyeon mengunjungi Seugyeon setiap hari tapi kali ini berbeda tapi hari ini berbeda ia membawa satu hanbag tambahan selain tas merek Gucci terkenal yang selalu ia pakai

“Seungyeonii..” panggil Ummanya, Umma menaruh handbag dan tas Gucci mewahnya di ranjang yang Seungyeon tiduri. Seungyeon  seperti biasa tidak beranjak sama sekali. Ia tetap berbaring mengabaikan ibunya yang melihatnya, dia sebenarnya tidak tertidur matanya jelas terlihat terbuka dan ada butiran butiran air mata yang membasahi pipinya entah apa yang dipikirkannya tapi Seungyeon sering menangis tampa sebab.

Umma seungyeon mengelus rambut putrinya itu saying. Mendekatkan jarak kepalanya ketelinga Seungyeon

“Ayo bersiap …. Kau ingin pulangkan?”  ajak  Umma seungyeon lembut seungyeon masih diam tidak juga merespon.

Beberapa menit kemudian Seungyeon beranjak sedikit dan bangun dari ranjang kusam itu. Menatap Ummanya seakan bertanya untuk apa Ummanya kemari.

“menjemputmu pulang….”

Seungyeon membulatkan matanya yang kecil seolah tidak percaya dengan perkataan Ummanya, tapi tidak selang beberapa lama senyuman gadis itu menghilang.

“Semua menunggumu.. jadi ayo ganti pakaianmu sekarang..” ajak Umma lagi.

Seungyeon hanya diam ia mengedarkan pandangan bertanya seperti ‘benarkah?’ pada Ummanya. Umma membalas tatapan Tanya itu dengan anggukan yakin.

Tidak perlu beberapa lama,Seungyeon menarik handbag yang ada di ranjang usangya mengeluarkan pakaiannya untuk berganti.

***************************

Seungyeon lupa seperti apa rumahnya, ia turun dari mobil yang telah terparkir di garasi rumahnya. Dia menatap polos rumah yang telah ia tempati semenjak kecil ini.

“Ayo masuk…” ajak Umma. Umma Seungyeon menarik pergelangan tangan Seungyeon.

Seungyeon masuk kerumahnya yang memang cukup besar. Ingatannya masih samar samar. Ia menatap sekeliling ruang tamu yang ia masuki sekarang, walaupun ia lupa tentang rumahnya. Ia menyadari sesuatu yang berubah. Foto.  Tidak ada foto keluarga yang biasanya menempel di dinding ruang tamu, tidak hanya itu foto fot masa kecilnya terlihat berkurang. Biasanya disetiap ruangan Umma Seungyeon memajang foto foto anaknya.

Seungyeon hanya diam ia tidak berniat untuk berkomentar satu kata pun. Ia hanya mengamati perubahan itu dalam diam dan terus menerka nerka apa yang telah berubah.

Umma Seungyeon terlihat senang, karena Seungyeon tidak menunjukkan kejanggalan apapun pada dirinya. Seungyeon tidak berteriak lagi, biasanya di rumah sakit jiwa itu Seungyeon akan berteriak dan bahkan mencoba untuk menyakiti dirinya sendiri dan tiba tiba diam seperti orang bisu. Perbuatan perbuatan yang memang biasanya dilakukan orang orang yang memang mengalami gangguan jiwa.

“Seungyeonii… kamu ingat kamarmu?”

Seungyeon hanya diam tidak menjawab apapun . matanya masih terpaku pada ruangan ruangan dirumah ini. Ada sebuah perasaan yang muncul di hatinya seperti sebuah kerinduan.

“Ayo kita ke kamarmu..”

Seungyeon menurut, Umma menuntunnya menuju sebuah pintu. Pintu itu terbuka karena dorongan dari tangan Umma. Seungyeon tersenyum melihat warna orange yang muncul dari cat dinding kamarnya. Seungyeo tersenyum kecil lalu masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Ummanya yang melihat dengan senyum sumringah pada dirinya di dekat pintu.

“Umma siapkan makanan dulu, beristirahatlah..”

Seungyeon lagi lagi tidak menjawab, ia asik dengan duniannya sendiri.

Pintu tertutup, Umma Seungyeon pergi ke dapur meninggalkan Seungyeon sendiri dikamar.

Seungyeon masih tersenyum senang melihat kamarnya. Ia dapat menempati kamarnya lagi. Ia berdiri dari ranjang menuju lemari pakaiannya yang memang besar.  Seungyeon membuka lemari besar itu dan ia dapat melihat tumpukan tumpukan baju yang sudah lama tidak ia kenakan. Pakaiannya masih tersimpan rapi sama seperti sebelum ia mencoba bunuh diri untuk kesekian kalinya.

Seungyeon mengitari kamarnya yang cukup luas. Ia menempelkan telunjuknya pada apapun benda yang ada di kamarnya. Ia mencoba menikmati rasa nyaman ini. Ia beranjak lagi dan menyentuhkan jari jarinya pada rak buku. Ada banyak foto dirinya di atas rak buku itu. Tapi lagi lagi ia menyadari ada beberapa foto yang hilang ia mencoba mengingat tapi kenangan itu kabur. Ia menatap dengan seksama dan mengetukkan jemarinya pada rak buku yang terbuat dari kayu itu.

Setelah merasa puas dengan kembalinya ia ke kamar pribadinya, Seungyeon sedikit merasa bosan dan ia memutuskan untuk keluar. Moodnya sedang baik, sehingga ia tidak membiarkan otaknya memikirkan sesuatu yang membuatnya depresi.

Seungyeon keluar dari kamarnya dan berniat untuk melihat Ummanya tetapi pandangannya terpaku pada pintu yang sedikit tersembunyi. Ia berjalan kea rah pintu itu, membuka pintu itu perlahan. Sebuah kamar, kamar ini lebih sempit dari kamarnya. Terlihat jelas bahwa kamar ini sudah jarang ditempati atau memang tidak pernah ditempati lagi.

Ia lupa kamar siapa ini, betapapun ia berusaha mengingat siapa yang biasa tidur disini. Ingatannya masih samar.

Ia menatap kasur yang sama besarnya dengan miliknya dan mendudukinya. Manik matanya mengamati ruangan yang bercat dinding putih polos ini. Pandangannya berhenti pada box berwarna hitam di atas lemari pakaian. Bentuknya persegi, ia mencoba meraoh box hitam itu tapi tidak bisa karena ia terlalu pendek untuk meraihnya. Seungyeon menarik sebuah kursi kecil di dekat meja rias dan menaikki kursi kecil itu. Ia berhasil meraih box hitam itu.

Seungyeon tersenyum ia mengembalikan kursi itu terlebih dulu sebelum membuka box itu. Seungyeon kembali mendudukkan dirinya kembali kekasur dan memangku box itu pada pahanya. Ia membuka box itu tapi terbatuk batuk karena box itu telah dipenuhi debu.

Ia membuka box itu, ada sebuah kain berwarna biru menutupi sesuatu didalamnya. Ia menarik kain itu dan sekarang ia bisa melihat foto foto.

Ia mencoba menahan sesuatu di dalam dirinya. Ia menarik nafas dalam dalam dan menaruh foto yang telah dibingkai ke kasur.  Lagi lagi ia menemukan bingkai foto, ia menelan ludah melihat sosok gadis.

Ada sebuah diary tapi ia tidak tertarik untuk membukanya. Ia mengeluarkan semua isi box hitam itu sampai sampai di bagian paling bawah ia menemuka sebuah kartu berwarna putih gading, kartu itu adalah kartu undangan pernikahan. Iam menarik kartu itu dan membuka pita yang mengikat kartu itu. Pita itu sudah terlipat sehingga tidak terlihat seperti sebuah hiasan lagi.

Seungyeon membuka kartu undangan berwarna putih gading itu. Ia membaca isinya, matanya membulat begitu mendapati dua nama di dalam kartu itu. Tidak lama setelah membaca kartu itu Seungyeon memegangi kepalanya. Mengerang kesal dan membantingi bingkai bingkai foto yang tadi ia letakkan di kasur. Ia kesal, beci dan marah. Semua perasaan buruk ada di hatinya dan menghentak hentak untuk keluar. Ia bertriak tidak jelas. Mengambil pecahan kaca yang tergeletak dilantai. Pecahan kaca yang ia dapati karena membanting seluruh bingkai foto. Ia mengarahkan serpihan kaca itu pada nadi di pergelangan tangannya.

*************

Umma seungyeon menaruh hidangan hidangan yang baru ia masak ke meja makan, tetapi tiba tiba terdengar erangan dan teriakan beruntun  dari atas. Ia melepas sarung tangan yang ia kenakan dan melempar asal. Umma bergegas menaiki tangga ia benar benar khawatir dengan keadaan seungyeon.

Umma Seungyeon melihat pintu kamar seungyeo yang terbuka. Melangkah masuk ke kamar seungyeon tapi nihil ia tidak menemukan Seungyeon.

Kekhawatirannya semakin menjadi jadi. Ia berpikir sesuatu yang buruk, ia takut anaknya mencoba menyakiti dirinya sendiri lagi. Umma Seungyeon teringat sesuatu ia lupa mengunci kamar hara. Ia berlari menuju kamar yang sedikit tersembunyi karena terletak di lorong lorong ujung rumahnya.

“Seungyeon..”  Umma seungyeon membanting pintu dan menemukan seungyeon yang tergeletak dilantai dan membelakangi pintu. Box hitam yang telah lama ia rapikan tergeletak dibawah dan banyak banyak pecahan kaca. Ia tidak melihat darah sama sekali. Tidak seperti kejadian waktu itu.

Ia memanggil nama Seungyeon berulang kali, tapi Seungyeon tidak juga menjawab. Umma putus asa dan menarik tubuh Seubgyeon agar melihat kearahnya.

“Umm..aa” panggil seungyeon. Umma Seungyeon tersentak dan melihat ada serpihan kaca yang cukup besar yang di genggam oleh Seungyeon.

Umma Seungyeon merasa lega setidaknya meski Seungyeon membuat telapak tangannya mengeluarkan darah, Seungyeon tidak mengarahkan serpihan kaca itu ke nadinya.

Seungyeon menekan tangannya terus sehingga membuat darah merembes dari tangannya. Umma Seunguyeon menarik Seungyeon ke atas , ia bergerak hati hati karena banyaknya serpihan kaca.

“Umm..aa” racau Seungyeon  pandangan gadis itu kembali kosong sama seperti saat ia di periksa oleh Gyuri.

********

Umma Sungyeon melilitkan perban ke telapak tangan kanan Seungyeon, sedikit menitikkan airmata karena baru saja ia berharap bahwa Seungyeon akan sembuh. Umma seungyeon menyadari kesalahannya, seharusnya dari dulu ia membuang barang barang Hara atau bahkan membakarnya.

Maaf, kata maaf terus meneru keluar dari bibir wanita tua ini. Keheningan muncul tidak ada yang berbicara sama sekali. Seungyeon juga masih diam seperti biasa dengan pandangan kosongnya.

Umma seungyeon selesai mengobati luka seungyeon dan langsung memeluk Seungyeon erat. Kembali mengatakan kata maaf.

Tapi kali ini seungyeon menjawab “Gweuchana…”

“Umm..aa”

“Ya”

“Aku ingat semuanya sekarang..”

Umma Seungyeon melepaskan pelukannya pada seungyeon.

“Ingat apa?”

“Semuanya..”

Umma Seungyeon mentap putrinya tidak percaya. Semenjak kejadian itu . yah satu kejadian yang membuat anak anaknya menetap dirumah sakit jiwa dan putranya mendekam di penjara.

Kejadian dimana Seungyeon, mencob

Membunuh diri untuk kesekian kalinya tgapi yang terakhir ini berbeda ini terlalu ekstrim.  Seungyeon meminum obat obatan berdosis tinggi dan mengiris pergelangan tangannya dengan pisau besar yang tajam. Umma Seungyeon reflex melihat luka di pergelangan tangan Seungyeon. Semenjak itu Seungyeon depresi, walaupun ia berhasil membuat Seungyeon tetap bernafas tapi ia lupa keseluruhan masa lalunya. Ia kadang ingat tentang Onew kadang tidak. Ia ingat bagaimana Hara menghancurkan keluarga ini terkadang tidak. Kenangan kenangan pahit masa lalu itu tidak bisa seluruhnya dicerna oleh seungyeon.

“Aku ingat semuanya..” Seungyeon meletakkan kedua tangannya ke pundak Umma.

“Aku ingat semuanya tentang Hara..”

“Ingaat! Aku ingat aku ingat!” Seungyeon mencengkram pundak Ummanya diluar kesadarannya.

“Seungyeon sakit..” Umma Seungyeon meringis kesakitan tapi sengyeon mengabaikannya sampai airmata keluar dari mata Ummanya.

“Maaf Umma…” Seungyeon menunduk dan kemudian berdiri meninggalkanUmmanya.

Umma Seungyeon mencoba berdiri dan memanggil nama Seungyeon tapi sosok Seungyeon menghilang dengan cepat, dan Seungyeon mengendarai mobil keluar menuju suatu tempat.

*************

Minho duduk dilantai seperti biasa, ia benar benar bosan. Ia tidak dapat melakukan apapun disini. Sudah sekitar delapan bulan atau lebih dari itu ia lupa semenjak kapan ia mendekam disini.

Seseorang polisi yang biasa berjaga menghampiri Minho.

“Minho Choi..” panggil polisi itu.

Minho mengabaikan panggilan itu. Ia berpikir untuk apa menyahut. Toh ia pasti akan mendengarkan hal hal tidak berguna.

“MINHO CHOI!!”

“tidak usah berteriak! “ balas Minho berteriak.

Polisi menatapnya tidak suka tapi Minho malah menantangnya.

“Ada yang mau bertemu denganmu..”

Minho bingung, bukankah Umma baru berkunjung kemarin mengapa berkunjung lagi. Polisi itu menatap Minho kesal.

“Ya! Apa yang kau lihat cepat buka!!” kesal Minho.

Minho menyeret langkanya menuju ruangan besuk. Matanya menatap kaget sosok perempuan mungil yang menatap sosoknya tersenyum.

“Nu…na..”

TBC

an : Minho udah nongol ada beberapa tokoh utama yang belum nongol, menurut kalian siapa yang bakal muncul next chap? OH ya buat yang udah komen makasih banget atas penghargaan kalian buat aku. tapi sebenarnya banyak banget Silent Readers yang belum muncul muncul juga.! AKU BENER BENER CAPEK! kenpa sih kalian gak menghormati aku sama sekali. Tolong yah kalau kamu pengen FF ini di update cepet tolong komen. Sekali lagi makasih buat reader setia yang udah komen CHU ❤ :3

Advertisements