(FF) The simple Things – oneshoots

Tittle : Simple things
Author : Clariska Jung
Length : one shoots
Genre   : love friendship
Rated  : PG 13
Pairing : Jiyoung/Taemin

“Jiyoung! Jangan melamun. Ayo cepat kamu masuk kelas.” ujar Hara menasihati adiknya itu. Adiknya tetap melamun. Mereka berada di kantin sekolah nongkrong seperti biasa. Tapi hari ini Jiyoung terlihat sangat lusuh dan tidak bersemangat.

Hara menghela nafas, dia paling tidak suka kalau Jiyoung terlihat seperti ini. Tidak ada segaris senyum yang muncul di bibir pink milik adiknya itu. “Ada apa sih Jiyoung?” tanya Hara lagi. Tapi Jiyoung tidak menjawab. Jiyoung menyeruput jus mangga di hadapannya lalu berdiri.

“Unnie… Aku ke kelas dulu yah.” ujar Jiyoung lemah, lalu beranjak dari tempat duduknya, sedangkan Hara menatap kepergian adiknya penuh dengan rasa penasaran. “ada apa dengan dia?”

*****

Jiyoung menghela nafas. Ia menyeret kakinya masuk kedalam kelas 2-4, kelasnya sendiri. Dia benar benar malas masuk kelas. Alasannya yah, karena Jiyoung pasti akan melihat Taemin dengan seseorang. Seseorang yang bernama Sulli. Ah Jiyoung malas berfikir tentang ini. Dia duduk di bangkunya.

Krystal yang melihat sesuatu berubah dari Jiyoung, menghampiri Jiyoung.
“Hey! Kenapa sih?” tanya Krystal.
“Ngga apa apa.” Jiyoung terlihat berfikir dulu, ia menatap Krystal.”Kau masih punya nomor Mir sunbae gak?”
“Ha? Untuk apa jing? ” tanya Krystal antusias. Suara Krystal sedikit terdengar oleh seisi penjuru kelas. Buktinya Sulli yang sedang berbicara dengan Taemin menoleh ke arah Jiyoung dan Krystal. Tapi Jiyoung terlalu kesal ia mengabaikan tatapan penasaran dua orang itu dan memfokuskan dirinya pada sosok Krystal di hadapannya.

“Aku ingin lebih dekat dengannya.”

******

Taemin tersenyum pada Kyuhyun sam saat gurunya itu keluar kelas. Taemin bangkit dari Bangkunya dan tersenyum ke arah Jiyoung kekasihnya dari kelas 10. Taemin ingin memperbaiki hubungannya dengan Jiyoung. Yah sekitar dua bulan dan hubungan mereka tidak berjalan baik. Mungkin karena kedatangan Sulli. Sulli hanya teman kecilnya dan Taemin tidak menyimpan rasa apapun pada Sulli. Jiyoung berjalan dan melewati Taemin, tidak menoleh sama sekali.

“Kamu mau kemana ?” tanya Taemin manis menarik tas ransel Jiyoung.

“Bukan urusan kamu.” ujar Jiyoung. Taemin menelan ludah. Kenapa Jiyoung jadi ketus begitu.

“Aku bawa sepeda, ayo bareng.” tawar Taemin masih dengan senyuman andalannya.

“Nggak mau. Aku mau main ma Krystal dulu!” pekik Jiyoung kesal. Jiyoung memukul tangan Taemin yang masih menyentuh ranselnya.

“Yasudah nanti malam, aku telepon yah.” ujar Taemin, tapi Jiyoung keluar tampa memedulikan perkataan Taemin.

“Err… Kenapa sih dia?” tanya Taemin pada diri sendiri.

*****

“Hyung! Kenapa sibuk sekali! Aku bosaaaaaan.” ujar Taemin kesal. Yah Minho kakak Taemin sudah diterima di universitas sekarang. Jadi Minho memutuskan untuk nge kos saja.

“ah masa bosan? Kan ada Jiyoung?” kata Minho sambil terkekeh.
“Ah Jiyoung! Oya aku janji menelponnya. Aku tutup dulu yah hyung!” Taemin menekan tombol end call dan menekan nomor ponsel Jiyoung.

sudah lebih dari tiga kali Taemin mencoba tapi tetap gagal. Taemin menyerah dan tidur di kasurnya.

******

Keesokan harinya Taemin berangkat ke sekolah lebih pagi. Dia harus piket hari ini, jadi ia harus tiba di sekolah pagi sekali. Saat Taemin selesai merapikan kelas dengan teman teman group piketnya. Ia buru buru keluar untuk membeli susu pisang di dekat pos satpam. Saat ia keluar sudah terlihat kalau siswa siswi sudah ramai mau masuk, tidak sesepi tadi. Taemin melihat sosok Jiyoung di sepeda motor! jiyoung tertawa renyah dengan si pengendara motor. Taemin penasaran. Ia duduk di pos bersama kang in adjhussi- satpam sekolahnya.

“Hey bukannya masuk.” tanya Kang in adjhussi. Taemin yang terlalu penasaran tetap melihat Jiyoung dan si pemuda bermotor. Saat melihat Jiyoung turun dari motor Taemin berdiri. Si pengendara ‘motor membuka helmnya. Itu Mir sunbae! Itu Sunbaenya yang dulu sekelas dengan Minho hyungnya! Dan Mir sunbae dulu menyukai Jiyoung. Taemin menggigit bibir bawahnya. Kenapa mereka bisa bersama?

******

Taemin mengikuti Jiyoung dari belakang. Tapi sepertinya Jiyoung menyadarinya, Jiyoung menoleh dan dia menangkap sosok Taemin yang menggaruk kepalanya dan terlihat bingung,

“Kenapa ?” tanya Jiyoung. Taemin tetap berusaha tersenyum. Taemin memang gak pernah marah sama Jiyoung.

“Nggak pengen ngikutin kamu aja. Kamu pulang harus sama aku hari ini.” perintah Taemin, lalu menggandeng tangan Jiyoung.

“Ih gak usah gini.” Jiyoung melepas peganan Taemin dari tangannya.

“Kenapa?” tanya Taemin kaget.

“Aku gak mau!” kesal Jiyoung. Di hati Jiyoung masih bercokol rasa kesal, karena semenjak Sulli pindah ke kelas mereka tampa alasan yang pasti Taemin jadi jarang menelponnya. Dan tiap hari di kelas Taemin lebih banyak berbicara pada Sulli daripada Jiyoung.

“Kamu harus mau.” ujar Taemin memaksa, meski tidak terdengar marah.

*****

Saat bel pulang sekolah. Taemin sudah berdiri didepan bangku Jiyoung. Membuat Jiyoung bingung. Sulli menatap Jiyoung tersenyum. Jiyoung makin bingung. Terlalu bingung apa maksud senyuman itu.

“Ayo pulang!” ujar Taemin bersemangat. Jiyoung menelan ludah. Dia masih ingin membuat perhitungan pada Taemin dengan mogok bicara, tapi Taemin sekarang terlihat benar benar memperhatikannya. Tidak masalah batin Jiyoung. “Ayo.!”

******

esok harinya Mir sunbae datang ke sekolah Taemin dan Jiyoung. Mir terlihat benar benar membutuhkan Jiyoung. Dia menunggu Jiyoung di gerbang sekolah dengan motornya. ketika Taemin dan Jiyoung sedang berjalan bergandengan, mir memanggil Jiyoung. “Jiyoung!”

Jiyoung mencari sumber suara dan menemukan sosok Mir.

“Oppa!” teriak Jiyoung refleks Jiyoung melepas pegangan tangan Taemin. Dan berlari menghampiri Mir.

Taemin melihat mereka dan ia benar benar kesal, mungkin ini pertama kalinya dia cemburu.

“Taemin gajadi pulang sama Jiyoung?” tanya Sulli yang mencoba mengiringi jalan Taemin menuju gerbang sekolah.

“gak jadi. Ayo kita pulang bareng.” ujar Taemin menggandeng tangan Sulli sedikit kasar dan melewati Jiyoung yang berbicara dengan Mir tampa menoleh.

“Loh kok pacarmu duluan?” tanya Mir heran.

“Ah gak tau tuh! Oppa antarkan aku!!”

Mir mengangguk setuju.

*******

Jiyoung membuka pintu kamar kakaknya Hara. memeluk kakaknya itu dari belakang.

“Unnie aku mau putus dari Taemin aja.” Ujarnya gusar. Hara kaget dan memelototinya.
“Enak saja! Jangan taemin kan baik.” kesal Hara. Jiyoung cemberut sambil menggembungkan pipinya. “emang kenapa?”

Jiyoung masih diam dan memeluk unnienya lebih kencang.

“EH SAKIT!” pekik Hara.

“Oh yah… Kemarin aku dapat sms dari Mir.” ujar Hara yang baru ingat tentang hal itu.

“Oh ia aku yang kasih,” jawab Jiyoung seadanya. Hara membulatkan matanya.

“kenapa kamu kasih?”

“dia minta… Dia nanya unnie udah punya pacar belum?”

“Ha?”

“dia suka unnie.”

“Unnie gasuka dia.” ujar Hara kesal. Jiyoung kembali mengunci mulutnya dan berbaring di kasur Hara.

“Jiyoung! Kau tahu unnie sedang dekat sama mahasiswa konkuk loh…” ujat Hara bersemangat menepuk kepala adiknya itu.

“eumm…”

“namanya Onew lucu!” kata Hara hampir berteriak. Jiyoung hanya ber-oh ria. Membuat Hara memukul tangan Jiyoung.

“AUW!” pekik Jiyoung. Jiyoung yang kesal pergi keluar kamar Hara, meninggalkan Hara yang menatap Jiyoung aneh.

“Tidak biasanya dia cepat ngambek?” gumam Hara. Hara mengambil ponsel di meja dekat kasurnya. Ia mau menelpon lee taemin.

******

Jiyoung melirik bangku Taemin yang kosong. Sudah masuk pelajaran pertama dan Taemin belum datang. Jiyoung memang kesal pada Taemin tapi ia tidak bisa bohong kalau ia khawatir.

Saat bel istirahat Sulli menghampiri Jiyoung. Dengan sengaja Jiyoung mengabaikan Sulli. Tapi akhirnya ia tidak tega dan bertanya pada Sulli.

“Err.. Ada apa?” tanya Jiyoung.

“eum Taemin itu kecelakaan.” ujar Sulli seperti berbisik.

“Apa! jangan bercanda sulli.” pekik Jiyoung.

Sulli menceritakan tentang kejadian kemarin, saat Taemin melihat Jiyoung dan Taemin kesal. sulli juga cerita waktu Taemin nendang botol dan botol yang Taemin tendang mengenai preman yang bernama Jonghyun. Akhirnya Taemin di hajar hajar habis habisan. Setelah mendengar hal itu, Jiyoung langsung cabut dari sekolah dengan bantuan Sulli dan Krystal.

******

Jiyoung sampai di taman dekat rumah Taemin. Ia menunggu Taemin disana karena kata Sulli “Taemin tidak pulang karena takut dimarahi”.
Jiyoung menghela nafasnya berkali kali tapi dia tetap khawatir. Harusnya kemarin dia tidak membuat Taemin kesal. Ada banyak pikiran pikiran yang menggeliat di otak Jiyoung.

“Jiyoung…” panggil seseorang. Jiyoung dengan ragu menoleh. Ia tidak tega kalau harus melihat wajah Taemin yang hancur hancuran. Tapi begitu Jiyoung menoleh Taemin tetap tampan seperti biasanya.

“Ah! Kau berbohong.” kesal Jiyoung menghampiri Taemin dan memukul dada Taemin.

“Jiyoung aku sudah kurus, jangan dipukul… Itu sakit.” pinta Taemin.jiyoung menghentikan pukulannya.

“Kau masih kesal?” tanya Taemin. Jiyoung menunduk lesu, tetapi Jiyoung tidak kesal lagi pada Taemin.

“Err… Aniyo! Jangan lakukan itu lagi Taemin.” perintah Jiyoung kesal.

Mereka duduk di bangku taman. Bergandengan tangan.

“Kemarin cemburu?” tanya Jiyoung penasaran. Taemin mengangguk manis, tidak malu mengakui kecemburuannya. Jiyoung tersenyum mungkin ia juga harus jujur kalau dia paling sering cemburu.

“Aku juga cemburu.”

“Aku tahu.” kata Taemin memotong perkataan Jiyoung. “Sulli kan?”

Jiyoung mengangguk. Taemin menarik bahu Jiyoung agar lebih dekat padanya.

“Jiyoung ada hal hal simple yang harus kau tahu.” kata Taemin serius.

“hah? Apa itu?”

“Kau gadisku, dan aku yang berhak menjagamu. sarranghaeyo.” kata Taemin sambil mengecup puncak kepala Jiyoung. Jiyoung terkekeh geli karena ini pertama kalinya Taemin mengakatakan hal hal seperti ini.

“Ada juga hal simple yang harus kau ketahui!” Taemin menatap Jiyoung dan mengangkat alisnya.

“Kau lelakiku, dan kau hanya milikku!” kata Jiyoung keras dan mencubit hidung Taemin. Taemin menarik tangan Jiyoung dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Jiyoung. Jiyoung refleks menutup matanya. Dan kedua bocah itu berciuman, hanya sekilas tapi jantung mereka berdetak lebih cepat dari biasanya.

Jiyoung memeluk Taemin kencang. “Harusnya setiap hari kita seperti ini.”

FINISH!

Advertisements