(FF) SHARE APARTEMENT! – Chap 1

Tittle        : SHARE APARTEMENT!
Author     : Clariska Jung
Genre       : Romance, Comedy
Rating      : PG15+

Length     : series.
Cast  : SHINee, KARA, MBLAQ’S Yang Seung Ho
Pairing     : Jonghyun with Gyuri
Summary : Gyuri never shared anything to anyone! She was just very cold woman because of the past love story. BUT! Suddenly she had to SHARE HER APARTMENT with a BOY!

 

“Anyeonghaseyo kim jonghyun imnida!” anak lelaki itu membungkuk dan tersenyum kepada Gyuri. Gyuri menatap lelaki itu dari atas sampai bawah. Gaya bocah lelaki ini terlalu keren, dan TAMPAN Gyuri mengakui bahwa bocah lelaki ini tampan. Atau wajah bocah lelaki ini di atas rata rata. Gyuri menggelengkan kepalanya dan kembali menunjukkan wajah arogan khasnya.

“Eum… gyuri noona kan?” tanya jonghyun ramah. Gyuri tetap menatap jonghyun tidak bersahabat.

“Hello?” ujar jonghyun. “apa?” tanya Gyuri pendek, berusaha memasang wajah paling mengerikan agar si tamu di hadapannya mengurungkan diri untuk tinggal disini.

“Boleh aku masuk?” tanya Jonghyun masih dengan senyuman manisnya. Gyuri menghela nafas, menyuruh jonghyun masuk.

****

 

Jonghyun menatap sekeliling ruangan, ruangan yang cukup simple dengan ornamen-ornamen yang berwarna lembut seperti peach dan coklat muda. Jonghyun menatap Gyuri yang masih ada di pintu.

“Boleh aku duduk disini noona?” tanya jonghyun sambil menunjuk sofa. Hanya sofa berwarna peach yang terletak di ruang tv.

“Eumm…” hanya gumaman kecil dari Gyuri, entah mengiyakan atau menolak permintaan Jonghyun. Jonghyun dengan santai meletakan koper dan tas ranselnya dilantai, lalu duduk santai di sofa. Tidak memikirkan maksud dari gumaman Gyuri.
Gyuri menatap Jonghyun dengan pandangan risih.

“Lalu dimana kamarku noona?” tanya Jonghyun, Gyuri berjalan menuju salah satu pintu. Jonghyun mengira bahwa Gyuri pasti pergi ke kamar.”Tunggu sebentar!” ketus Gyuri, sebelum sampai ke pintu dan~

BLAM!

Pintu ruangan itu dengan cepat tertutup. Jonghyun refleks menyentuh dadanya. Sedikit tersenyum dan mengelus ujung bibirnya.

“noona yang mengerikan.” gumam Jonghyun.

****

Gyuri menekan cepat tombol ponselnya, ia menekan nomor seseorang yang sangat ia hapal. Menaruh ponselnya tepat pada telinga kirinya.

“Yeobseyo…” terdengar suara dari ujung telepon.
“Eomma!!” pekik Gyuri sedikit tidak bisa menahan emosinya. “ya…ya…ya… kau kira ibumu ini sudah tuli!” protes eomma Gyuri di ujung telepon. Gyuri tidak peduli, dia tidak menyukai hal ini. Maksudnya tadi memang ia setuju tentang membagi apartementnya. Tapi sekarang tidak, tidak karena AH DIA TIDAK MAU! “Aku tidak jadi setuju.” gumam Gyuri sambil menggigit bibirnya.
“maksudmu?”
“aku tidak mau berbagi apartement dengang bocah itu!” jelas Gyuri sedikit mengontrol volume suaranya, takut takut Jonghyun mendengarnya, atau jangan jangan jonghyun menguping. “kenapa begitu?” tanya Eomma Gyuri, eommanya terdengar tidak senang.
“kau bilang bocah ini baik, tapi dia seperti brandalan!” jelas Gyuri lagi, terdengar helaan nafas dari ujung telepon.
“kau ini berlebihan, Gyuri.”
“Ah ani! Dia benar benar………”
“Jangan menilai orang dari luarnya, Eomma yakin anak itu hanya sedikit berbau Amerika bukan brandalan…” ujar Eomma Gyuri di ujung telepon.

Gyuri menelan ludah, dia mengakui perkataan ibunya benar. Sebenarnya Gyuri merasa tidak nyaman membagi apartementnya dengan orang yang tidak ia kenal baik. Bukan karena jonghyun seperti brandalan. Lagipula Jonghyun terlalu tampan untuk menjadi brandalan. “kau mengerti Gyuri?” tanya Eomma Gyuri. Gyuri hanya mengangguk tidak menyadari bahwa Eommanya tidak dapat melihatnya mengangguk.

“Gyuri?” panggil eommanya.
“Ah ne Eomma…”

Gyuri memutuskan sambungan telepon, menjatuhkan bokongnya ke kasur.

AH! Dia kalah mungkin memang sudah takdir dia harus berbagi apartementnya.

JUMPING JUMPING NOW!

Ponsel Gyuri berbunyi, hanya pesan singkat. Gyuri membukannya.

From : seungyeon~

Hey! Apakau melihat jurnalku?

Gyuri mengetik balasan cepat.To : Seungyeon~

Tidak. Aku tidak lihat.

Hanya beberapa menit ponsel Gyuri kembali berbunyi.

From : Seungyeon~

Ah padahal itu berisi perjanjian perjanjian penting.

AH! gyuri melompat seketika. Perjanjian? Ia tiba tiba mendapat ide untuk membuat beberapa perjanjian dengan Jonghyun. Gyuri mendekati rak buku miliknya yang terletak tidak jauh dari kasur. Mencari kertas kosong dan bolpoin. Gyuri mulai menulis peraturan peraturan yang harus Jonghyun patuhi.

****

Jonghyun menatap pintu ruangan yang tadi dimasuki Gyuri. Sudah hampir 1 jam lebih ia menunggu Gyuri. Tapi masih tidak ada tanda tanda Gyuri akan keluar. Jonghyun melirik notebook yang tergeletak di meja. Mungkin bermain permainan online,

dapat sedikit mengurangi rasa jenuhnya. Jonghyun bangkit dari sofa lalu duduk dilantai, membuka notebook milik Gyuri, lalu menekan tombol power.

CKLEK!

“Jonghyun-ssi… JANGAN SENTUH BARANG BARANGKU!” “eoh?” ujar Jonghyun kaget, menoleh pada Gyuri dengan wajah polos.

****

“Jonghyun-ssi apa aku mengizinkanku menyentuh barang-barangku?” interogasi Gyuri.

Jonghyun tersenyum aneh, menggaruk kepalanya bingung.

“tidak ada, aku hanya bosan.” “oke, lain kali jangan sentuh barang barangku, arachi?” perintah Gyuri. Gyri menaruh 2 lembar kertas di meja.

“Apa ini?” tanya Jonghyun.

Gyuri menghela nafas, duduk disebelah Jonghyun dengan ragu.

“ini perjanjian, atau lebih tepatnya peraturan.”

“maksud noona?” tanya Jonghyun lagi.

“Begini, aku tidak butuh kau membayar uang sewa apartement ini, cukup bayar dengan menaati peraturan-peraturan yang aku berikan.” jelas Gyuri, menyodorkan 1 lembar kertas ke Jonghyun.

“YA! 99 nomor!” pekik Jonghyun. “Ne wae?” tanya Gyuri ketus. Jonghyun menggeleng tidak percaya, sedikit melirik ke arah Gyuri lalu menelan ludah. Membaca kalimat kalimat yang ditulis sekecil mungkin agar muat di 1lembar.

“kau rajin sekali noona,” ujar Jonghyun dengan intonasi aneh.

“bagaimana setuju?” tanya Gyuri.

“Eum… aku harus tanda tangan?”
“ani… kau terlalu sering nonton drama sepertinya.” ketus Gyuri kesal.

“Ya ya ya oke noona!” ujar Jonghyun menaikkan kedua ibu jarinya.

Gyuri berdecak kesal “lihat peraturan nomor 49”

“Gunakan kamar mandi yang ada di dalam ruanganmu,” baca Jonghyun.

“Ah ani…ani… maksudku nomor 39.” Gyuri mengecek ulang catatan miliknya.

“Jangan menggunakan bahasa banmal.” baca Jonghyun lagi.

“nah itu dia… sekarang rapikan barang barangmu!” “baiklah. Dimana ruanganku?” tanya Jonghyun pelan.

Gyuri menunjuk pintu yang bersebelahan dengan ruangan yang tadi ia masuki.

“gamsahamnida.” Jonghyun membungkuk. Membawa barang barangnya dan berjalan menuju kamar.

“Tunggu!” ujar Gyuri.

“Ada apa?” “jangan lupa kertas ini, tempelkan di pintu kamarmu.” perintah Gyuri. Jonghyun mengambil kertas di tangan Gyuri tersenyum dan membungkuk lagi.

“Gamsahamnida.” Jonghyun kembali berjalan menuju pintu, dan membukanya.

“Maaf noona…”

“Eum?” gumam Gyuri. “Aku hendak bertanya, jikalau aku melanggar peraturan ini, hukuman apa yang akan kau berikan kepadaku.” Gyuri hampir tertawa jika tidak menutup mulutnya, kembali seperti Gyuri yang kurang bersahabat untuk menjaga imagenya.

“Ada apa denganmu?” tanya Gyuri

“Aku tidak apa apa, hanya menaati peraturan dalam kertas ini. Di sini tertulis aku dilarang untuk menggunakan bahasa banmal, maka aku harus bicara formal seperti ini.” jelas Jonghyun panjang dengan logat orang korea zaman dulu.

“Aigoo” gyuri menahan tawa “jadi bagaimana noona?” tanya Jonghyun masih dengan logat yang sama.

“Sudah rapikan barang barangmu, nanti saja kita bicarakan lagi.”

“ne noona, gamsahamnida.” sekarang Jonghyun benar benar masuk ke dalam kamar yang di peruntukan untuknya. Gyuri tertawa *****
Pagi harinya Gyuri sudah menyiapkan sarapan untuk 2 orang. Sebenarnya Gyuri tidak senang melakukan ini. Tapi pagi pagi sekali ia mendapat sms ancaman dari Eommanya untuk menyiapkan sarapan untuk 2 orang.

“Saya sungguh berterimakasih,” ujar Jonghyun Gyuri menaikkan satu alisnya, menatap Jonghyun yang baru datang dan mengucapkan kata terimakasih dengan sangat formal. Okay! Gyuri benar benar mulai risih.

Jonghyun hanya tersenyum kecil, tetapi Gyuri menganggap Jonghyun sedang menggodanya. Gyuri meraih segelas susu vanilla lendah kalori, meneguknya cepat.

“Jonghyun-ssi…”
“iya noona?”
“ini kunci apartement ini, hanya ada dua buah kunci, satu untukku dan satu untukmu! Jadi jangan sampai hilang.” jelas Gyuri menyodorkan kunci pada Jonghyun.

Jonghyun mengangguk dan tersenyum. Gyuri bangkit dari kursinya.

“Noona hendak pergi kemana?” tanya Jonghyun, lagi lagi dengan logat yang memuakkan Gyuri karena seperti dibuat buat.

“Tentu saja bekerja.” Gyuri meraih tas di sofa dan berjalan ke pintu****
Jonghyun menatap Gyuri yang memegang gagang pintu.

“Jonghyun-ssi” panggil Gyuri.
“Ia noona?” tanya Gyuri bangkit dari kursi dan datang mendekati Gyuri.

“Aku rasa kau perlu coret peraturan nomor 39, aku muak dengan cara bicaramu.” Jonghyun menggigit bibir bawahnya, ia terlihat begitu frustasi.

Gyuri pergi tampa menata Jonghyun yang kesal.

BLAM

“nenek sihir” gumam Jonghyun. Ia tidak tahan karena perkataan perkataan Gyuri.

****

“Seungyeon!” pekik Gyuri begitu melihat sesosok mungil berjalan seorang diri.

“Hey?”
“Kau terlihat terburu buru.”Ujar Gyuri menyeimbangkan langkahnya dengan langkah Seungyeon.
“Ani… kemarin kemana?”tanya Seungyeon sedikit terlihat penasaran.
“Ah ceritanya panjang, tapi nanti ku ceritakan!” Seungyeon menatap Gyuri tidak percaya. Dia tidak terlalu berharap untuk itu. Dilihat dari sejarah Gyuri yang hampir tidak pernah menceritakan hal pribadi pada dirinya.

****

Siang harinya pada jam makan siang, Gyuri benar benar bercerita dengan Seungyeon Gyuri bercerita bagaimana dia membuat 99peraturan, bukan! 98 peraturan. Karena peraturan ‘tidak menggunakan bahasa banmal di coret karena Gyuri muak dengan gaya bahasa Jonghyun.
“Aku jadi penasaran, siapa lelaki itu.” ujar Seungyeon.

“Jangan mengenalnya! Kalau kamu mau membagi apartmentmu sama dia juga boleh.” tegas Gyuri. Gyuri terlihat serius tentang ini. Seungyeon refleks tertawa keras.
“Jiyoung akan senang pasti.” canda Seungyeon.
“yasudah ambil saja.” ujar Gyuri santai. “Ah aku bercanda Gyuri.” ujar Seungyeon cepat. Gyuri menghela nafas tadi dia benar benar menginginkan Seungyeon membawa Jonghyun keluar dari apartmentnya.

****

Di apartment Gyuri, Jonghyun baru saja bersiap ke kampus. Maklum hari ini dia kuliah siang.

“noona neommu yeoppo” Jonghyun bersenandung riang seorang diri.

Sebenarnya Jonghyun ingin langsung berangkat, tapi sesuai aturan yang ditulis Gyuri. Dia harus membersihkan cucian piring bekas sarapan tadi. Jonghyun terus bersenandung, sampai matanya menangkap benda kecil yang tergeletak di meja makan. Sebuah kunci. “Aku rasa aku telah meletakkan kunci itu, di tasku.” gumam Jonghyun heran. Ia mengambil kunci itu, lalu memasukkannya ke dalam saku jeans warna hitam yang ia kenakan.
“Mungkin aku lupa.” gumamnya lagi.

Setelah selesai merapikan, Jonghyun berangkat. ****

Gyuri merapikan barang barang di mejanya. Saat seseorang datang ke ruangannya. Itu Sunye atasannya.
“Gyuri-ssi… bisa ikut aku ?” tanya Sunye ramah. Yah Sunye adalah atasan yang ramah tidak seenaknya. Dalam pekerjaan dibidang majalah. Majalah fashion tepatnya, tidak selalu terjadi kisah seperti film “Devil Wears Prada” batin Gyuri.
“tentu saja, aku akan keruanganmu secepatnya.” ujar Gyuri cepat. Sunye tersenyum, lalu melangkahkan kakinya pergi dari ruangan Gyuri. Gyuri merapikan pakaiannya, setelah  itu pergi dengan langkah tergesah ke ruangan sunye.
****

Ini pertama kalinya, maksudnya ini hari pertama Jonghyun kuliah di Korea. Tapi karena sikap Jonghyun yang easy going. Membuat dia cepat mendapat teman. Dan sekarang hanya beberapa jam. Yah hanya beberapa jam dan dia sudah mempunyai teman akrab bernama Key. Dan mereka sudah merencanakan bermain semalaman hanya untuk nongkrong.

“Oh ya, dimana kau tinggal?” tanya Key dengan nada antusias.
“Aku tinggal bersama seorang noona, key.” “WOW! Noona? kau punya noona?” tanya Key antusias lagi.
“Bukan dia lebih tua dariku, tapi kami tidak punya hubungan saudara sama sekali!” jelas Jonhyung.
“Wow kau pacaran dengan noona?!” pekik Key. Jonghyun menutup mulut Key.
“Ah… ani! Aku cuma numpang.” “oh numpang.” kata Key pendek. Key masih tertawa geli. Jonghyun hanya menatap Key putus asa. Salah dia mendapat teman seorang namja tapi sangat cerewet.

****

Gyuri keluar dari ruangan Sunye. Ia terlihat menghela nafas, lalu melirik arlojinya. Sudah waktunya ia pulang. Gyuri mengemas barang barangnya, yakin semuanya telah masuk di handbagnya.
****

Sesampainya di lorong apartmentnya. Gyuri membuka tas nya. Ia mencari kunci apartmentnya. Ia melepas tasnya karena tidak menemukan kuncinya. Gyuri mengeluarkan semua isi tasnya, tapi NIHIL ia tidak menemukannya. Kalau dia minta kunci apartment lagi pasti tidak akan diperbolehkan. Baru saja kemarin dia meminta satu kunci untuk Jonghyun. Gyuri masih berusaha mencari kunci tapi tidak ketemu. “Ah kenapa bisa hilang sih!!” Kesal Gyuri putus asa. Gyuri meraih ponselnya, mungkin lebih baik jika iya meminta Jonghyun untuk pulang lebih cepat, tapi Gyuri baru sadar kalo ia tidak memiliki nomor Jonghyun. Ah kenapa begitu sial! Batin Gyuri. *****

Hampir 2jam Gyuri menunggu Jonghyun sambil berdiri, kakinya terasa pegal sepenuhnya. Gyuri menyerah dan duduk tepat di depan pintu apartmentnya.

Jonghyun tidak juga datang, Gyuri melirik arlojinya, sudah hampir jam 12 malam, ia mengantuk. Yah hanya beberapa menit Gyuri sudah terlelap. Jonghyu tiba setelah itu. Ia terlihat kaget melihat Gyuri tertidur didepan pintu dan terlihat lelah.

Dengan hati hati Jonghyun membuka pintu apartment lalu menggendong Gyuri hati hati.

“aigoo berat”

“seungho…” gumam Gyuri. Jonghyun menghentikan langkahnya, menatap wajah Gyuri yang tepat di dadanya. Penasaran dengan siapa Seungho.

Gyuri masih terlelap sepertinya bermimpi.

“Seungho…” gumam Gyuri lagi. Jonghyun mengabaikan gumam Gyuri.

TBC~

 

Advertisements