(FF) Real Unreal – oneshoots

Tittle   :  Real and Unreal

Author: clariska cho

Length: one shoots

Genre  : romance angst =3=

Rated  : pg-15

Cast    : Han Seungyeon KARA

Onew SHINee

Cho Kyuhyun SUPERJUNIOR

Sudah hampir 2tahun berlalu. Dia telah pergi… Iya dia, maksudku Cho kyuhyun kekasihku. Aku masih mencintainya dan tidak pernah berhenti mencintainnya.

Seseorang baru hadir daalam hidupku. Dia bernama lee jinki. Aku mengenalnya tidak begitu lama. Tapi dia mampu membuatku tersenyum. Walau dia tidak bisa membuatku tertawa. Tawaku hanya untuk Cho kyuhyunku.

Aku tidak melupakan cho kyuhyun, tentu bahkan jika Tuhan menurunkan dewa untuk menjadi pengganti Cho kyuhyunku. Aku akan berteriak marah pada Tuhan.

“apa yang kau lakukan ?” tanya jinki menatapku bingung.

“bukan urusanmu bodoh, pergilah!” marahku, mataku menatapnya dingin.

“kau serius? Kau tidak mau ditemani oleh namja tampan sepertiku?” seperti biasa dia melemparkan candaan khasnya, membuat sudut dibibirku terasa tertarik membuat senyuman.

“baiklah.. Jangan berisik aku sedang mengenang seseorang.”ujarku pendek. mataku kembali menutup, angin membelai pipiku lembut.

“Seungyeon ya bisa kau mendengarku?”suara yang sudah lama tidak kudengar muncul seketika. Aku membuka mataku, hanya ada jinki yang menatapku serius.

“apakau mengatakan sesuatu tadi?”

“ani.. Aku hanya menatapmu.”jawabnya, aku berusaha mengingat suara itu. Jelas itu suara cho kyuhyunku.

******

Semenjak kejadian itu aku semakin sering pergi keatap gedung kampusku. Kembali memejam mataku, dan membiarkan angin membelai wajahku.

Kali ini aku tidak mendengar suara tapi sebuah dekapan hangat.

Dekapan hangat yang hanya bisa diberikan oleh orang yang aku cintai.

Aku membuka mataku berhati hati. Rasa takut muncul. Aku takut begitu mataku terbuka dekapan hangat ini akan menghilang.

Tapi aku salah dekapan ini malah semakin erat.

“oppa…”panggilku pelan.

“kau bisa merasakanku Seungyeon?”tanya suara itu.

“sangat jelas.”ucapku mantap sekarang aku mencoba melepaskan dekapannya. Berbalik mencari sosoknya.

Dan sosoknya sungguh terlihat jelas, dia tersenyum tubuhnya dibalut pakaian yang terbuat dari sutra putih.

“akhirnya tuhan mengijinkan aku melihatmu.”ujarnya, aku mencoba berpikiran waras. Aku yakin ini hanya sebuah mimpi, tapi beratus kali aku memejamkan mata dan membukanya, cho kyuhyun tetap di depan mataku. Tersenyum.

“kau tidak ingin mendekapku eumm?”tanyanya, aku berjalan canggung mendekatinya. Menenggelamkan kepalaku didadanya.

“bagaimana bisa?” gumamku pelan.

“sangat panjang, intinya aku telah membuat kebaikan yang cukup, beliau memberikan hadiah untukku.”

“kau bisa menemaniku lagi?”tanyaku pelan. Aku tidak peduli bahwa pertanyaanku sudah sangat jelas merupakan pertanyaan kosong tak berisi.

“aku sudah mati jaghi..”ujarnya sedih.

“aku tahu.”aku mengeratkan dekapanku padanya, terdengar jejak kaki yang mulai mendekat. Tiba tiba kyuhyun menghilang.. Aku memeluk angin.

“betulkan kau ada disini!kkaja dosen sudah datang.”Jinki menarik tanganku.

“kenapa kau membuatnya pergi?”kataku lemah. Airmataku terasa jelas jatuh mengalir dipipiku.

“nugu?”tanyanya heran.

“jangan seperti itu lagi.. Aku tidak ingin dia pergi… Jangan menggangguku saat dia datang. Ara!”perintahku keras bercampur dengan airmata dan isak tangisku.

“ya seungyeon!! apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti..”ujarnya khawatir.

Aku diam tidak menjawab hanya isak tangis yang keluar dari bibirku.

***

Hari ini aku kembali berdiam diri menatap langit yang terasa lebih dekat diatas gedung ini.

Sosok kyuhyun yang kemarin masih tersimpan jelas di memori otakku.

“jaghi..” berhasil aku hampir terpekik senang, aku bisa mendengar suaranya lagi.

“oppa tunjukkan dirimu..”tuntutku manja. Aku bisa merasa derai angin terasa lebih kencang sekarang.

“aku dibelakangmu..”ujarnya aku membalikkan tubuhku cepat, dan dapat kulihat namja itu lagi. Cho kyuhyun tersenyum lebar membuka tangannya. Aku berlari kencang memeluknya.

“maafkan aku kemarin..”ujarnya mengecup puncak kepalaku.

“kenapa kau pergi?”tanyaku pelan, aku takut dengan pertanyaanku.

“aku tidak suka dengan namja itu, dia selalu berada didekatmu.”ujarnya mendengus kesal.

“kau cemburu.. Bahkan orang matipun cemburu.”kataku senang, tapi sepertinya katakataku membuatnya sedih.

Sungguh bodoh bagaimana bisa aku mengatakan ini padanya.

“mianhae..”gumamku, dia melepaskan dekapannya. Mataku otomatis pedih, airmata kembali jatuh.

“jangan pergi.. Aku tidak ingin kau pergi untuk kedua kalinya.. Atau ketiga kalinya.. Aku ingin kita selalu bersama oppa.. Oppa.. Hajimaa..” isak tangisku kian membesar.

Aku sungguh takut kyuhyun kembali pergi dari hadapanku.

“tolong jangan menangis.. Aku tidak akan pergi tenanglah.. Jangan menangis.”dia kembali mendekapku erat membuatku merasa nyaman seketika.

“sarranghaeyo oppa sarranghaeyo nae cho kyuhyun.”ujarku lemah.

“na do sarranghaeyo Han seungyeon.. Gomawo telah mencintaiku sejauh ini.”

*****

Hari ini aku begitu bersemangat ke kampus. Aku akan bertemu lagi dengan cho kyuhyun.

Yah cho kyuhyunku aku sungguh senang. Kesabaranku untuk mencintainya selama 2tahun tidak sia sia. Walau sangat tidak mungkin ini nyata. Tapi sangat jelas bahwa kyuhyun hadir karena dia juga mencintaiku.

Aku berjalan menuju halte bus menuju kampusku. Sebuah motor berhenti dihadapanku.

“naiklah..”jinki membuka helm yang ia pakai.

“ah tidak usah.. Nanti dia marah.”ucapku mantap. Dia menatap diriku bingung.

“pergilah jinki.”kataku ramah.

“hmm… Aku tidak memberikan ini semua gratis Kau harus membayar sebanyak kau membayar ongkos naik bis.”jelasnya padaku tersenyum, matanya tenggelam dalam pipinya yang penuh. Aku menatapnya dan mengangguk.

*****

Mataku tertuju pada sosok kyuhyun diatap gedung, aku tergesah gesah naik ke atas.

“Seungyeon! Tunggu aku.. !”teriak jinki.

“jangan naik keatap gedung menyusulku.. Atau aku akan marah!”balasku berteriak, dia menggeleng kesal.

*****

“oppa…” nafasku tersengal sengal karena berlari.

“kemarilah.”ucapnya pendek, aku berjalan pelan kesampingnya. Dia menarik tanganku membiarkan aku berada didepannya.

Dia mendekap tubuhku dari belakang. Bibirnya mengecup leherku, membuatku geli.

“oppa jangan begini..”ujarku merengek.

“waeyo?”tanyanya padaku.

“hanya sudah tidak terbiasa.”jawabku lemah, mata kami tertuju pada langit yang terlihat sangat biru, yang menggambarkan sebuah ketenangan.

“mianhae karena aku tidak berhati hati.. Mianhae karena membuatmu terus menunggu dalam ketidakberdayaanku.. Aku hanya memang tidak diciptakan untukmu semenjak aku lahir.. Di catatan beliau jelas dirimu tidak ditakdirkan untukku.. Aku yang terlalu egois berharap kau bisa kubawa tapi..”katakatanya jelas terasa sedih, aku berbalik dan mengecup pipinya lalu bibirnya.

“oppa.. Kita ditakdirkan bersama..buktinya kita bisa bersama.. Kita sekarang sedang berdekapan itu artinya kita ditakdirkan bersama oppa.. Jangan asal bicara..”sanggahku panjang aku tidak mau ada kesedihan dalam dirinya. Matanya yang sempurna berusaha menyembunyikan sesuatu.

“ada banyak hal yang mungkin manusia bisa tidak mengetahuinya.”ujarnya menatapku penuh kesedihan.

“apa maksudmu oppa?” dia mundur beberapa langkah. Matanya tidak rela meninggalkanku aku terdiam membisu, terpaan angin terasa makin besar. Rambutku berkibar mataku pedih menatapnya. Dan jelas sekarang aku menangis, aku yakin setelah ini tidak akan besok.

Aku yakin setelah ini hidupku kembali tak berarti seperti awal dia meninggalkanku karena kecelakaan itu. Lututku lemas.

“op…ppa….opp..a”isakku semakin keras, dia masih menatapku hanya berada beberapa langkah dariku tapi seperti ada beribu ribu baja dan tameng transparan yang menghalangi kami.

Hatiku sesak seketika.

“cho kyuhyun kyuhyun!!”teriakku keras, teriakanku terdengar lemah karena isak tangisku.

Dia tersenyum wajahnya yang sempurna membuat senyumannya terasa lebih dari sempurna.

“dengarkan aku… Jangan bertindak bodoh.. Bersikaplah seperti aku telah pergi lama.. Jangan bertindak bodoh… Saranghantago han seung yeon… Sarranghaeyo…”aku semakin terisak keras dia menghilang terbawa angin. Aku tertunduk lesu dan kembali terisak. Mataku terasa bengkak karena tangisan ini, tapi aku tak peduli. Aku mencoba berdiri walau lututku benar benar terasa sangat lemah.

“jangan bertindak bodoh..”gumamku mengulangi pesannya.

“jangan bertindak bodoh…”gumamku lagi aku berjalan menuju ujung gedung menatap kebawah gedung.

“hanya ada satu cara untuk menemui orang mati..”ujarku pada diri sendiri. Tanganku bergetar menyentuh ujung pembatas gedung.

“dan caranya sangat mudah..” aku berusah menopang berat tubuhku di lutut dan mencoba naik ke pembatas gedung ini.

“rasa sakitnya tidak akan lama.. Akan sebanding dengan pertemuanmu dengannya..”tambahku meyakinkan diri, aku memejamkan mataku.

Airmataku meleleh jatuh.

“sarranghaeyo cho kyuhyun jeongmal..”ucapku lemah. Ku hempaskan tubuhku seketika.

“Seungyeon!!”aku mendengar teriakan seseorang dan semuanya tiba tiba gelap.

******

Aku terbangun dan merasakan sebuah tangan menggenggamku. Aku menatap seisi ruangan, aku berada dirumah sakit. Dan jinki sedang menggenggam tanganku.

Aku kembali memejamkan kedua mataku. Bukannya seharusnya aku mati? Kenapa aku berada disini?batinku.

Aku kembali membuka mataku. Terasa nyeri mungkin karena tangisanku tadi.

“sudah sadar?”tanya jinki khawatir.

“kenapa aku disini.?”akubalik bertanya. Dia menatapku matanya merah seperti habis menangis

“kau menangis?”tanyaku lagi. Dia menggeleng pelan.

“bagaimana aku masih bisa hidup? seharusnya aku bertemu dengannya?”tanyaku lebih pada diri sendiri.

“jangan berpikir untuk mati!”marahnya, aku menatapnya tidak percaya.

“jadi kau yang membuatku masih bernyawa huh?!”sentakku. Dia menatapku lemah seperti bukan lee jinki yang ku kenal.

“aku…akuu..”ucapnya terbata.

“aku akan terus menggagalkan rencana bodohmu untuk mati.!”katanya tegas. Aku berdecak seketika.

“siapa kau?!”kemarahanku memuncak, bisa bisanya dia menghancurkan mimpiku untuk bertemu kyuhyun!.

“aku nyata dan dia tidak.”jawabnya, aku terdiam seketika tidak percaya dengan kata katanya.

“aku lelah menyimpan ini.. Lelah berpura pura tidak peduli.. Aku sangat peduli padamu !!”dia menyentakku membuat aku malu untuk menatapnya.

“dia benar dia nyata dan aku tidak dia benar.”aku mendengar bisikan seseorang lagi. Dia lagi.

Mataku kembali berair.

“aku lelah berdiam diri menatapmu berbicara pada angin.. Mendekap angin.. Mencumbu angin.”jinki melanjutkan kata katanya yang merobek pertahanan egoku. Aku kembali terisak.

“dengarkan baik baik Dia benar dia nyata aku tidak.”bisikan itu datang lagi. Aku menutup telingaku terlalu bingung dengan apa yang terjadi.

“HENTIKAN!!”Teriakku keras. Jinki menaruh tangan ditanganku yang lemah dia menyingkirkan tanganku dari telingaku. Menaruhnya di pundaknya.

“dengarkan aku belajarlah mencintaiku betapa sulitnya itu.. Jangan bertindak bodoh.” Entahlah apa yang aku pikirkan tapi aku memeluk jinki erat membiarkan tangisanku tenggelam dalam dadanya.

“sarranghantago Seunyeon saranghaeyo.”2orang yang mengucapkan itu bersama sama. Yah kyuhyun dan jinki mengucapnya bersamaan.

“aku pergi sekarang ra.. Mianhae.”kyuhyun mengatakan perpisahan tapi aku tidak dapat melihat sosoknya hanya sebuah bisikan pelan.

Isak tangisku semakin jelas sekarang. Jinki mengeratkan pelukannya.

“aku tidak akan meninggalkanmu.. Jangan menangis.”

Dan beginilah aku, aku Han Seung Yeon  hanya berusaha menatap cho kyuhyun seperti betapa sulitnya manusia mencoba melihat wujud angin.

Dan jinki adalah hadiah pengganti. Aku tidak mengerti kenapa aku bisa menjilat perkataan ini.

Aku pernah berkata bahwa walaupun dewa dikirim oleh tuhan untukku. Aku akan marah padanya, faktanya jinki melebihi dewa dan aku tidak marah.

Aku tidak menggantikan posisi cho kyuhyunku dengan jinki. Aku hanya mencoba berdiri pada kewarasanku, dan aku tidak ingin mengecewakan 2 orang.

Aku hanya berpegang pada kata kata mereka bahwa Jinki nyata dan kyuhyun tidak.

FINISH ~

Advertisements